KabarBaik.co, Banyuwangi – Masyarakat di Desa Banjar, Kecamatan Licin, Banyuwangi, menggelar festival kuliner tradisional “Janda Reni”. Festival yang masuk dalam kalender Banyuwangi Attraction digelar untuk memperkenalkan kuliner khas daerah tersebut.
Tokoh Adat Desa Banjar, Lukman Hakim, menjelaskan bahwa nama “Janda Reni” atau “Rondo Reni” memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan proses pertanian masyarakat setempat. “Reni itu bunga aren, sementara janda atau rondo berarti proses pemisahan. Jadi Janda Reni adalah proses pemisahan bunga aren,” ujarnya.
Desa Banjar berlokasi di lereng Ijen dikenal karena sawah padinya dan gula aren. Daerah ini memiliki lansekap pemandangan mirip dengan Ubud, Bali. Dalam festival ditampilkan khas masyarakat pedesaan, berupa sego lemeng yang sekilas mirip nasi lemang.
Sego lemeng sendiri dibuat dari nasi berbumbu yang dicampur daging ayam atau ikan, kemudian dibungkus daun pisang dan dimasukkan ke dalam bambu muda sebelum dibakar selama sekitar empat jam.
Kemudian ada kopi uthek. Perpaduan kopi dengan gula merah. Tidak diaduk jadi satu seperti sajian kopi pada umumnya. Pada kopi uthek, kopi dan gula aren disajikan terpisah. Kopi disruput lalu, gula aren digigit. Bunyi thek gula aren saat digigut itulah yang menjadi latar belakang nama kopi uthek.
Kepala Desa Banjar, Sunandi, menambahkan bahwa sego lemeng dan kopi uthek tidak sekadar kuliner, tetapi juga sarat makna kehidupan. “Kopi uthek dengan gula aren melambangkan pahit dan manisnya kehidupan, sedangkan sego lemeng menjadi simbol kecukupan pangan,” katanya.
Salah satu pengunjung, Arbain, mengaku terkesan dengan suasana dan kuliner yang disajikan. “Saya senang bisa datang, selain kulinernya enak, masyarakatnya juga ramah,” ujarnya. Selain kuliner, festival juga dimeriahkan pertunjukan seni “Gontang Kawean” hasil kolaborasi Kampus ISI Surakarta kelas Banyuwangi dan Sanggar Sayu Wiwit. (*)






