Libur Panjang Mei Jadi Panen Raya Hotel, Didominasi Wisatawan Domestik

oleh -85 Dilihat
Country Manager Indonesia SiteMinder, Fifin Prapmasari.
Country Manager Indonesia SiteMinder, Fifin Prapmasari.

KabarBaik.co, Surabaya – Gelombang libur panjang sepanjang Mei terhitung mulai dari Hari Buruh hingga Idul Adha membawa berkah tersendiri bagi industri perhotelan.

Namun, lonjakan ini bukan sekadar peningkatan okupansi biasa. Di baliknya, tersimpan perubahan besar dalam perilaku wisatawan domestik yang kini semakin spontan, fleksibel, dan berperan dominan dalam menggerakkan pasar.

Data terbaru menunjukkan bahwa wisatawan domestik Indonesia kini menjadi tulang punggung industri. Momentum ini sebenarnya telah terlihat sejak periode Lebaran, ketika tradisi mudik mulai bergeser. Tak lagi sekadar pulang kampung, perjalanan kini juga dimanfaatkan untuk rekreasi.

Pada Maret lalu, kontribusi wisatawan domestik terhadap pemesanan hotel mencapai 52 persen, meningkat dari 48 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Tren ini terus menguat sepanjang 2025, dengan kontribusi mencapai 48 persen, naik dari 43 persen pada 2024.

Fenomena tersebut terasa nyata di sejumlah destinasi wisata unggulan.
Lombok mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 7,5 persen, disusul Yogyakarta 7,1 persen, dan Bandung 6,8 persen—seluruhnya melampaui rata-rata nasional yang berada di angka 2,6 persen.

Sementara itu, Bali cenderung stabil dengan pertumbuhan tipis 0,1 persen, mencerminkan pasar yang telah matang dengan tingkat permintaan tinggi sejak awal.

Di tengah lonjakan tersebut, muncul perubahan perilaku yang cukup mencolok. Wisatawan kini cenderung memesan kamar hotel mendekati hari keberangkatan.

Secara nasional, waktu pemesanan (lead time) menyusut dari 16 hari menjadi 15 hari. Di Lombok, penurunan lebih drastis terjadi, dari 24 hari menjadi 20 hari. Bahkan di Bandung, pola paling ekstrem terlihat dengan rata-rata pemesanan hanya delapan hari sebelum check-in.

Country Manager Indonesia SiteMinder, Fifin Prapmasari, menilai perubahan ini sebagai sinyal kuat pergeseran gaya berwisata.

Ia menyebut, Lebaran memang masih identik dengan kebersamaan keluarga, tetapi kini semakin diiringi keinginan menciptakan pengalaman baru—mulai dari staycation hingga eksplorasi destinasi regional. Dalam konteks ini, fleksibilitas menjadi faktor kunci.

Di sisi lain, dinamika harga justru menunjukkan tekanan. Rata-rata tarif kamar nasional turun 3,3 persen menjadi Rp 1,71 juta. Bali mengalami koreksi terdalam hingga 7,4 persen, diikuti Yogyakarta dan Lombok. Hanya Bandung yang mampu mencatatkan kenaikan tarif sebesar 2,5 persen, di tengah tren penurunan secara nasional.

Kombinasi antara lonjakan permintaan, pemesanan mendadak, dan tekanan harga menciptakan lanskap baru bagi industri perhotelan. Libur panjang kini bukan lagi sekadar periode ramai, melainkan arena persaingan strategi yang semakin ketat.

Pelaku industri dituntut lebih adaptif, tidak hanya menjual kamar, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang relevan melalui paket menginap, fleksibilitas layanan, hingga strategi harga yang dinamis.

Dengan kalender long weekend yang masih berlanjut, satu hal menjadi terang: wisatawan domestik kini memegang kendali pasar. Bagi industri perhotelan, kecepatan beradaptasi menjadi penentu utama—siapa yang paling sigap membaca perubahan, dialah yang berpeluang meraup keuntungan lebih besar.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dani
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.