Listrik Mewujudkan Energi Berkeadilan di Wilayah Kepulauan Terluar Madura: Perekonomian Tumbuh, Akses Pendidikan dan Pelayanan Kesehatan Meningkat

oleh -770 Dilihat
WhatsApp Image 2025 10 16 at 10.55.26
Suasana Pelabuhan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Madura. (Foto: Hairul Faisal)

KabarBaik.co – Kepulauan Sapeken merupakan salah satu wilayah terluar dan terpencil di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Pelabuhan Kalianget yang berada di daratan Sumenep dengan Pelabuhan Sapeken terpisah jarak yang sangat jauh yaitu sekitar 150 mil. Setiap orang yang ingin berkunjung dari Sumenep ke Sapeken atau sebaliknya, harus bersabar berada di atas kapal perintis milik pemerintah, KM Sabuk Nusantara, selama kurang lebih 24 jam. Berada di titik samudra, ditiup angin, digoyang ombak.

Lokasi Kepulauan Sapeken yang jauh terpencil membuat akses masyarakat yang tinggal di puluhan pulau-pulau kecil dengan 11 desa tersebut menjadi serba terbatas. Apalagi layanan transportasi kapal perintis rute Sapeken-Kalianget maupun Sapeken-Banyuwangi hanya satu kali dalam sepekan. Itu pun jadwalnya kadang tidak menentu karena menyesuaikan kondisi cuaca. Jika cuaca bersahabat maka jadwal kapal berlaku normal. Tapi jika tidak, maka keterpencilan benar-benar membatasi gerak langkah penduduknya.

Para pengusaha atau pengepul ikan menjadi yang terdampak jika cuaca sedang tidak bersahabat. Sebab mereka tak bisa membeli es balok ke Singaraja, Bali, atau Kalianget, yang dipakai untuk mengawetkan hasil tangkapan nelayan. Padahal, sebagai wilayah pesisir yang mayoritas masyarakatnya berprofesi nelayan, es balok menjadi kebutuhan dasar agar hasil tangkap nelayan bisa tahan lama dan nilai jualnya tetap stabil. Bayang-bayang kerugian sudah pasti menghantui para nelayan dan pengepul ikan jika tak bisa membeli es balok.

Beruntung sejak listrik PLN beroperasi 24 jam pada pertengahan 2011 lalu, masyarakat Kepulauan Sapeken tidak perlu lagi jauh-jauh membeli es balok ke Singaraja atau Kalianget. Beberapa pengusaha lokal mulai membuat pabrik es balok sendiri. Hingga kini ada empat pabrik es balok yang telah beroperasi di Pulau Sapeken. Jumlah itu belum termasuk beberapa pabrik es balok berukuran mini yang kapasitas produksinya lebih sedikit. Pihak PLN pun memberikan kemudahan dalam pengurusan dan pengoperasian pabrik es balok.

Menurut Masri, salah seolah pegawai PLN Sapeken, pengusaha lokal sudah pasti akan memaksimalkan layanan listrik PLN untuk operasional pabrik es balok karena lebih hemat, jika dibandingkan dengan menggunakan mesin diesel sendiri. ”Cuma tarifnya saja yang berbeda. Kan di PLN ada tarif khusus untuk industri yang jelas berbeda dengan tarif rumah tangga dan tempat ibadah atau sekolah. Tapi walaupun agak mahal karena tarif industri, tetap jauh lebih hemat jika dibandingkan dengan menggunakan mesin diesel sendiri,” tutur Masri saat ditemui di tempat kerjanya, Rabu (8/10).

WhatsApp Image 2025 10 16 at 10.53.52
Salah seorang pekerja berada di pabrik es balok milik Bahruttamam. (Foto: Hairul Faisal)

Pernyataan Masri diamini oleh Bahruttamam, salah seorang pemilik pabrik es balok di Sapeken. Menurut Tamam, layanan listrik PLN 24 jam yang telah berlangsung selama belasan tahun sangat membantu pertumbuhan perekonomi masyarakat Sapeken, khususnya pengepul ikan dan para nelayan. Kemudahan memperoleh es balok membuat nelayan bebas memancing hingga berhari-hari ke pulau-pulau lain tanpa khawatir hasil tangkapannya membusuk.

”Karena semua nelayan yang memancing ikan ekspor seperti kerapu dan ikan-ikan mahal lainnya itu membawa es balok yang dimasukkan di cooler box. Biasanya nelayan di tengah laut tiga sampai empat hari baru pulang ke rumah. Ikan-ikannya sudah pasti aman karena bawa es balok,” tutur Tamam.

Setiap hari pabrik milik Tamam mampu memproduksi hingga 400 es balok yang beratnya sekitar 25 kg per biji. Sebelum memanfaatkan layanan PLN, pabriknya sempat menggunakan mesin diesel secara mandiri sekitar delapan bulan lamanya. Biaya operasional menggunakan mesin diesel yang mencapai Rp20 juta perbulan membuat Tamam tak berpikir dua kali berpindah ke PLN saat perusahaan pelat merah itu memutuskan beroperasi 24 jam.

”Kalau pakai PLN biaya operasional dan produksi hanya habis sekitar Rp12-13 juta perbulan. Alhamdulillah, untuk pengusaha kecil seperti saya itu sangat membantu karena bisa hemat hingga 40 persen biaya produksi,” jelas Tamam.

Sebagai pabrik yang pertama beroperasi di Sapeken, Tamam melihat dan merasakan langsung tingginya kebutuhan nelayan terhadap es balok. Karena itu, dia tidak mempersoalkan PLN mengaliri listrik ke pabrik es balok lain yang perlahan mulai bermunculan. Baginya, yang lebih penting adalah kehadiran dan layanan PLN bisa dinikmati secara bersama-sama untuk pertumbuhan ekonomi masyarakat yang berkeadilan.

”Masa produksi es balok itu sekitar 24 jam. Dulu waktu mesin dan alat-alat pabrik masih baru, waktu produksi hanya 18-19 jam. Makanya kalau sekarang ada tiga pabrik lagi, saya jadi terbantu karena dengan lamanya waktu produksi es balok membuat pabrik saya kewalahan jika harus melayani sendiri,” kata Tamam.

Tak hanya membantu untuk urusan ekonomi, pelayanan PLN yang semakin meningkat di Sapeken juga bermanfaat untuk peningkatan layanan kesehatan. Koordinator Imunisasi Puskesmas Sapeken, Mabnu, menjelaskan bahwa operasi listrik 24 jam sangat mendukung terealisasinya layanan kesehatan secara maksimal di tempatnya bekerja. Sebab hampir semua peralatan dan kebutuhan medis memerlukan aliran listrik secara terus menerus. ”Layanan dan alat-alat medis membutuhkan listrik yang konsisten, maksudnya yang hidup selama 24 jam,” ujar Mabnu.

WhatsApp Image 2025 10 16 at 10.53.03
Puskesmas Sapeken semakin meningkatkan pelayanannya karena operasi listrik PLN berlangsung 24 jam. (Foto: Hairul Faisal)

Mabnu mencontohkan perlengkapan medis yang dimaksud. Mulai dari lemari es yang digunakan menyimpan vaksin imunisasi dan obat antitetanus, ruangan apotek yang harus ber-AC, laboratorium yang harus konsisten dengan suhu 2º-8ºC, hingga ruang UGD. ”Kalau misalnya kita kehabisan tabung manual, itu ada namanya oksigen konsentrator yang sangat diperlukan bagi pasien-pasien di UGD yang sesak, asma. Jika listrik 24 jam, maka kita bisa leluasa menggunakan oksigen konsentrator itu. Begitu juga dengan pemeriksaan jantung, EKG, pemantauan tekanan tensi, suhu SPO2 yang membutuhkan listrik,” papar Mabnu.

Mabnu bersyukur operasi listrik 24 jam yang berlangsung hingga saat ini bisa mencegah risiko rawan pada pasien yang dirawat di Puskesmas Sapeken. Sehingga pasien tidak perlu lagi dirujuk menggunakan perahu atau kapal ke rumah sakit yang ada di daratan Sumenep, Banyuwangi, atau Singaraja, seperti yang biasa dilakukan pihak Puskesmas Sapeken saat PLN masih beroperasi hanya pada malam hari.

”Kalau ada pasien kan tidak bisa kita atur atau tentukan agar masuk pada malam hari saat listrik nyala, harus selalu standby. Nah, jika listrik hanya pada malam hari, maka pada pagi hingga sore hari kita tidak bisa menggunakan alat-alat medis tadi,” tutur Mabnu.

Jika di Pulau Sapeken kehadiran PLN dirasakan manfaatnya dalam pertumbuhan ekonomi dan pelayanan kesehatan, eksistensi perusahaan pelat merah ini juga dirasakan oleh masyarakat Pulau Sepanjang dalam ikhtiar meningkatkan kualitas pendidikan. Pulau Sepanjang merupakan satu dari puluhan pulau dan belasan desa yang ada di Kepulauan Sapeken. Dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam menggunakan perahu kayu dari Pulau Sapeken sebagai ibu kota kepulauan/kecamatan ke Pulau Sepanjang.

PLN yang baru beroperasi awal tahun lalu sangat mendukung anak-anak belajar lebih baik di Pulau Sepanjang. Khususnya di lingkungan Pondok Pesantren Persatuan Islam Abu Hurairah II Sepanjang, yang menuntut santrinya mendalami berbagai macam disiplin ilmu dan giat beribadah dari pagi sampai malam hari.

Pengasuh, para ustad atau pengajar, dan seluruh santri di tempat itu menyambut gembira hujan cahaya yang kini rutin menyapa setiap malam. Lingkungan pesantren terasa lebih bergairah karena berbagai program di malam hari bisa terlaksana maksimal. Mulai salat berjamaah di musola pesantren, dari Magrib, Isya, Tahajud, dan Subuh, hingga kegiatan mengaji Alquran, belajar, dan latihan pidato di dalam ruang kelas. Tidak ketinggalan pula kegiatan para santri di dalam asrama, baik keperluan memasak maupun penggunaan kipas angin.

Pada 14 Juni 2023 lalu, Bupati Sumenep, Achmad Fauzi, saat meresmikan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di Pulau Sepanjang menyampaikan apresiasi dan terima kasihnya kepada PLN yang mendistribusikan aliran listrik hingga ke pulau terluar dan terpencil. Ungkapan itu terus disusul oleh warga setempat yang merasa terbantu dengan mulai terangnya rumah-rumah mereka sejak awal 2024 lalu. Termasuk dari Pengasuh Pesantren Abu Hurairah II, Ustad Dhamin Hasyima.

Menurut Dhamin, sebelum PLN beroperasi seperti sekarang, pihaknya membeli tiga liter solar untuk dipakai menghidupkan mesin diesel milik pesantren mulai dari pukul 17.30 hingga 21.00. Itupun yang teraliri listrik hanya musola, rumah pengasuh, kantor pesantren, dan dua ruang kelas saja. Sementara, asrama santri menggunakan lampu teplok dan obor yang dibuat dari bambu sebagai alat penerang. Baik asrama santri perempuan yang berbentuk bangunan permanen, maupun asrama santri laki-laki yang terbuat dari kayu dan papan berbentuk panggung.

”Terima kasih tentu saja kami sampaikan kepada PLN karena saat ini pulau kami sudah terang dan pesantren kami terasa lebih hidup,” kata Dhamin. Menurutnya, sejak pihak PLN mulai sosialisasi pada 2023 lalu, Dhamin termasuk yang antusias mendaftar agar pesantren yang diasuhnya teraliri listrik. Dia tidak ingin seterusnya membeli solar sebagai syarat pesantrennya disinari lampu. Selain karena waktu terangnya yang terbatas akibat uang untuk membeli solar juga terbatas, juga agar seluruh kegiatan kepesantrenan berlangsung lancar.

”Kan lampu diesel milik pesantren tidak setiap malam kita nyalakan. Kalau lagi ada uang lebih, ya kita beli solar. Tapi kalau lagi tidak ada uang, ya terpaksa para santri yang salat dan belajar menggunakan lampu teplok,” tutur Dhamin lalu tersenyum. Dia sependapat dengan slogan dan misi besar PLN bahwa listrik merupakan gerbang menuju Indonesia maju. Dengan listrik masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah terpencil dan terluar seperti Pulau Sepanjang akan menikmati akses penerangan dan akses pendidikan menjadi lebih berkualitas.

Karena itu, saat ini dia terus ‘memaksa’ para ustad dan tenaga pengajar pesantren untuk memanfaatkan tenaga listrik dalam mendidik para santri dengan menggunakan media pembelajaran modern. Seperti menggunakan infocus untuk kegiatan belajar mengajar dan kegiatan ekstrakulikuler. ”Misalnya, kita mulai adakan nonton bareng film-film Islam dan sejarah tokoh-tokoh bangsa menggunakan infocus. Waktunya disesuaikan dengan kosongnya kegiatan belajar mengajar santri di malam hari,” papar Dhamin.

Dhamin juga berterima kasih karena saat pemasangan listrik, Pesantren Abu Hurairah II Sepanjang diberikan secara gratis dua kwh meteran listrik oleh pihak PLN. Menurut informasi yang didapatkannya dari beberapa sumber, PLTD yang saat ini beroperasi di Pulau Sepanjang berkapasitas 240 KW. Pihak PLN masih akan mengembangkannya secara bertahap melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk meningkatkan pelayanan aliran listrik kepada 1.500 pelanggan di pulau tersebut.

”Walaupun listrik nyala hanya di malam hari saja, belum 24 jam seperti di Pulau Sapeken, tetap kami syukuri. Sangat bersyukur karena pengeluaran pesantren menjadi lebih hemat,” jelas Dhamin. Menurut dia, pihaknya hanya mengeluarkan uang Rp100.000 per bulan untuk membeli pulsa atau token listrik agar setiap sudut Pesantren Abu Hurairah II Sepanjang diterangi cahaya lampu. Jumlah itu jauh lebih hemat jika dibandingkan dengan membeli tiga liter solar per malam yang harga perliternya Rp8.000 seperti saat pesantren menggunakan mesin diesel sendiri.

Sebagai pesantren yang menarik SPP untuk setiap santrinya hanya Rp20.000 per bulan, membeli solar tiga liter setiap malam jelas bukan perkara mudah. ”Apalagi jumlah santri yang hampir 50 ini tidak seluruhnya membayar SPP karena kondisi ekonomi keluarganya tidak mampu membayar. Jadi sangat berat operasional pesantren pada malam hari jika seterusnya menggunakan mesin diesel sendiri,” kata Dhamin.

Dhamin berharap pesantren yang didirikannya pada 2004 silam itu semakin tumbuh, berkembang, dan tangguh melewati tantangan zaman. Para santri dan alumninya semakin berkualitas, sehingga diterima di perguruan tinggi terkemuka di dalam dan luar negeri. Pelayanan dan fasilitas listrik yang disiapkan negara melalui PLN saat ini harus dimaksimalkan. Layanan internet yang mulai tersedia di lingkungan pesantren juga diharapkan membuat santri semakin leluasa menambah khazanah keilmuan mereka. Fisik para santri boleh saja dibatasi oleh deretan pohon kelapa yang memagari halaman pesantren, tapi cakrawala berpikir mereka harus melintasi langit Nusantara hingga dunia.

WhatsApp Image 2024 10 24 at 20.33.45
Suasana malam hari Pesantren Abu Hurairah II di Pulau Sepanjang, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep. Tampak ruang kelas yang berhadap-hadapan dengan asrama santri laki-laki yang terbuat dari papan dan kayu berbentuk panggung. (Foto: Hairul Faisal)

Listrik Mewujudkan Energi Berkeadilan

Kemudahan yang dirasakan masyarakat Kepulauan Sapeken setelah teraliri listrik PLN seakan mempertegas visi dan kerja keras yang disampaikan Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo melalui rilis resminya pada Juli lalu. Dia menyampaikan bahwa PLN bersama dengan pemerintah berkomitmen penuh untuk menyediakan listrik hingga ke seluruh pelosok tanah air, tak terkecuali daerah daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

”Listrik saat ini merupakan kebutuhan primer bagi masyarakat. PLN bersama pemerintah terus menggenjot pemerataan listrik sampai wilayah 3T sesuai dengan pengejawantahan sila ke-5 Pancasila, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat Indonesia,” ujar Darmawan.

Menurutnya, PLN bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menyusun dan menyepakati roadmap program Listrik Desa (Lisdes) untuk mencapai Rasio Desa Berlistrik PLN 100 persen. Untuk mendukung target tersebut, PLN mengajukan alokasi PMN untuk program Lisdes di tahun 2025 untuk melistriki sebanyak 85 ribu pelanggan di 1.092 desa.

”PLN terus berusaha menghadirkan listrik ke semua pelosok meskipun dihadapi dengan tantangan aksesibilitas, geografis, dan kondisi rawan keamanan maupun konflik sosial. Program Lisdes yang tersisa merupakan daerah-daerah ekstrim yang semakin sulit dijangkau, penuh risiko, remote area dan berada di 3T,” tegas Darmawan.

Darmawan menjabarkan lewat transformasi digital yang dilakukan PLN, roadmap Lisdes saat ini juga telah terintegrasi dengan peta geospasial. Sehingga perencanaan dan eksekusi Lisdes dipastikan lebih terukur dan tepat sasaran. “Di daerah setiap GM bertemu dengan para gubernur, bupati, DPRD, dan stakeholder lain untuk mendapatkan dukungan, karena program listrik desa ini bukanlah program PLN saja, tetapi ini adalah program negara. Kami terus pastikan agar jangan sampai ada saudara kita yang masih hidup dalam kegelapan,” jelas Darmawan.

Darmawan menjelaskan, selama periode 2015-2022, PLN telah berhasil memanfaatkan dana PMN sebesar Rp49,81 Triliun untuk pembangunan infrastruktur kelistrikan. Salah satunya untuk melistriki 7.980 desa yang dinikmati 1,37 juta masyarakat di seluruh Indonesia. PMN digunakan untuk pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan di seluruh penjuru Nusantara menuju keadilan sosial dan kemandirian energi. ”Hadirnya listrik pada daerah-daerah akan menciptakan multiplier effect melalui peningkatkan penyerapan tenaga kerja dan peningkatan ekonomi sektor riil, sehingga dapat menjadi daya dorong pertumbuhan perekonomian daerah setempat,” kata Darmawan.

Sejalan dengan kebijakan yang digariskan dari pusat, PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur juga terus mempercepat pemerataan akses listrik di wilayah 3T melalui program Lisdes yang terintegrasi dengan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT). Langkah ini menjadi bagian dari dukungan PLN terhadap program pemerintah dalam mewujudkan energi berkeadilan dan mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan pelosok.

Bersama empat daerah lain di Jawa Timur seperti Jember, Probolinggo, Sampang, dan Pamekasan, Sumenep ternyata menjadi daerah yang menjadi fokus PLN dalam perluasan jaringan listrik yang rasio elektrifikasinya berada di bawah 99,99 persen. Hingga Agustus 2025, rasio elektrifikasi (RE) Jawa Timur telah mencapai 99,68 persen, sementara rasio desa berlistrik (RDB) berada di angka 99,96 persen atau setara dengan 8.494 desa yang telah menikmati akses listrik.

General Manager PLN UID Jawa Timur, Ahmad Mustaqir mengungkapkan, PLN menargetkan penyambungan listrik di 128 lokasi pada tahap awal. “Pengoperasian tahap pertama ditargetkan pada Desember 2025 untuk 28 lokasi dan tahap kedua pada Maret 2026 untuk 100 lokasi,” kata Mustaqir, Jumat (10/10).

Sebagai bagian dari roadmap elektrifikasi 2025-2027, PLN merencanakan penyambungan listrik di 494 cluster dengan potensi 36.879 pelanggan baru. Untuk mendukung program tersebut, PLN menyiapkan pembangunan infrastruktur berupa 369,93 kilometer jaringan tegangan menengah (JTM), 633,97 kilometer jaringan tegangan rendah (JTR), serta trafo distribusi berkapasitas total 36,1 MVA. Selain itu, PLN juga memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya sebesar 11,9 MWp sebagai wujud komitmen terhadap transisi energi bersih di wilayah 3T.

“Roadmap Lisdes ini dirancang untuk menjangkau daerah-daerah yang belum berlistrik, termasuk kepulauan. Kami terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, dan berbagai pemangku kepentingan demi mempercepat elektrifikasi,” ujar Ahmad.

Akses listrik yang dinikmati masyarakat yang tinggal di wilayah terluar dan terpencil di Kepulauan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Madura, merupakan wujud nyata hadirnya energi yang berkeadilan di Indonesia. Listrik benar-benar telah menumbuhkan perekonomian, mendukung anak-anak belajar lebih baik, dan menghadirkan layanan kesehatan yang lebih modern, sehingga manfaat energi dapat dirasakan merata oleh seluruh rakyat. Semua ini diharapkan menjadi jalan terang terwujudnya Indonesia kuat. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.