STADION Azadi malam itu terasa seperti kemenangan sebuah bangsa. Sorak-sorai puluhan ribu suporter menggema ketika Timnas Iran memastikan tiket menuju Piala Dunia 2026. Perjalanan mereka ini bukan cerita tentang kemewahan. Namun, cerita epic tentang perjuangan sebuah tim yang melawan keterbatasan, sanksi ekonomi, dan tekanan geopolitik hingga pada akhirnya mimpi itu justru runtuh oleh perang.
Iran memastikan lolos ke pesta sepak bola sejagad setelah bermain imbang 2-2 melawan Timnas Uzbekistan dalam laga kualifikasi zona Asia pada Maret 2025. Dalam pertandingan itu, dua gol penyerang Mehdi Taremi menjadi penentu yang membawa Iran mengamankan poin penting untuk lolos ke putaran final.
Uzbekistan sempat dua kali unggul. Tapi, Iran menolak menyerah. Taremi mencetak gol penyama kedudukan pertama menit ke-52 dan kembali menyamakan skor pada menit ke-83, hingga memastikan Iran tetap berada di puncak klasemen Grup A dengan 20 poin. Hasil tersebut sekaligus memastikan Iran menjadi salah satu tim pertama yang lolos melalui jalur kualifikasi menuju turnamen besa yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
“Semoga Tuhan selalu membawa kebahagiaan bagi rakyat Iran yang tercinta,” tulis Taremi menyampaikan pesan emosional kepada publik Iran melalui media sosial selapas pertandingan kala itu.
Begitu peluit akhir dibunyikan, suasana di Teheran memang berubah menjadi pesta spontan. Video yang beredar di berbagai platform media sosial menunjukkan ribuan orang berkumpul di jalan-jalan kota, menyalakan flare, bernyanyi, dan mengibarkan bendera Iran.
Menurut laporan komunitas sepak bola Iran yang dirangkum oleh PersianLeague, gol Taremi dalam laga itu bahkan langsung menjadi salah satu momen paling viral dalam sejarah sepak bola negara tersebut, menyebar cepat melalui Instagram, TikTok, dan berbagai grup penggemar.
Bagi banyak warga Iran, kelolosan ini bukan sekadar keberhasilan olahraga. Di tengah tekanan ekonomi dan politik yang berlangsung bertahun-tahun, sepak bola menjadi simbol harapan dan bagian dari kebanggaan nasional.
Berbeda dengan skuad lain, perjalanan Timnas Iran menuju Piala Dunia 2026 sejatinya tidak diiringi fasilitas mewah. Sanksi ekonomi internasional membuat federasi sepak bola negara itu kerap menghadapi masalah pendanaan. Termasuk akses terhadap dana internasional dan logistik tim. Akibatnya, sejumlah pemain yang bermain di Eropa harus menempuh perjalanan panjang dengan penerbangan komersial untuk membela negara mereka.
Pelatih Iran saat itu, Amir Ghalenoei, bahkan mengakui bahwa kelolosan ini dicapai dalam kondisi yang tidak mudah. “Kualifikasi ini bukan tugas yang mudah. Lihat kemampuan tim-tim lain dan Anda akan melihat bahwa para pemain mencapainya dalam kondisi yang sulit,” kata Ghalenoei setelah tiket Piala Dunia dipastikan.
Bagi Iran, kelolosan ke Piala Dunia 2026 menjadi penampilan keempat secara beruntun dan yang ketujuh dalam sejarah mereka. Meski demikian, tim berjuluk “Team Melli” ini belum pernah melangkah melewati fase grup dalam enam penampilan sebelumnya. Ambisi besar pun sebetulnya mulai muncul setelah tiket diraih kembali kali ini. Melangkah lebih jauh di turnamen yang kini diperluas menjadi 48 tim. Namun, harapan itu berubah menjadi duka.
Dalam perkembangan terbaru, Pemerintah Iran telah menyatakan bahwa tim nasional tidak akan berpartisipasi di Piala Dunia 2026. Menteri Olahraga Iran menyebut situasi keamanan dan konflik bersenjata membuat partisipasi di turnamen tersebut menjadi tidak mungkin.
Pada akhirnya, perjalanan Iran menuju Piala Dunia 2026 mungkin akan dikenang bukan karena hasil di lapangan, tetapi karena kisah di baliknya. Sebuah tim yang bertarung melawan keterbatasan. Para pemain yang tetap datang dari berbagai liga dunia meski perjalanan panjang dan melelahkan. Suporter yang memenuhi stadion sebagai bentuk harapan kolektif.
Mereka berhasil memenangkan pertarungan di lapangan hijau. Namun dalam sepak bola internasional, terkadang ada lawan yang tak bisa dikalahkan oleh taktik, teknik, atau gol penentu, yakni perang dan politik. (*)







