Lumbung Paceklik Jombang, Warisan Leluhur yang Tetap Hidup Bantu Petani Bertahan

oleh -213 Dilihat
WhatsApp Image 2026 01 29 at 2.27.01 PM
Para petani saat membongkar simpanan padi dari lumbung (Teguh Setiawan)

KabarBaik.co, Jombang – Di tengah modernisasi sektor pertanian, sebuah lumbung paceklik peninggalan leluhur masih bertahan dan berfungsi aktif di Desa/Kecamatan Bareng, Jombang.

Lumbung yang telah berdiri sejak 1963 ini hingga kini menjadi penyangga ekonomi petani, khususnya pada masa perawatan tanaman padi setelah tanam, ketika kebutuhan biaya operasional meningkat.

Jika dahulu lumbung difungsikan sebagai cadangan pangan saat terjadi kelaparan, kini perannya bertransformasi menjadi sumber pinjaman gabah maupun dana bagi petani anggota. Pinjaman tersebut dimanfaatkan untuk membeli pupuk, membiayai perawatan sawah, hingga kebutuhan operasional lainnya.

Pengelola lumbung, Samiaji, mengatakan sistem pengelolaan lumbung berjalan berdasarkan kesepakatan bersama antara petani. Gabah yang tersimpan berasal dari setoran anggota petani setempat dengan sistem ‘utang simpan’.

“Gabah dititipkan di lumbung dan bisa diambil kembali sesuai kebutuhan, dengan potongan administrasi yang sudah disepakati bersama,” ujar Samiaji saat ditemui, Kamis (29/1).

Menurut Samiaji, lumbung tidak dibuka setiap waktu. Pembukaan dilakukan pada masa paceklik atau setelah musim tanam melalui musyawarah anggota, terutama saat ada kebutuhan mendesak.

“Dulu lumbung ini murni untuk cadangan pangan ketika paceklik. Sekarang dialihkan untuk membantu petani saat masa perawatan, karena setelah turun sawah pasti butuh biaya,” katanya.

Setelah masa panen tiba, petani yang meminjam wajib mengembalikan pinjaman, baik dalam bentuk gabah maupun uang, sesuai kesepakatan awal.

Saat ini, kapasitas penyimpanan lumbung mencapai sekitar 10 hingga 15 ton gabah. Jumlah anggota terdaftar berkisar antara 80 hingga 100 orang yang berasal dari tiga dusun, yakni Dusun Banjarsari, Tegalsari, dan Kedung Galeh. Namun, anggota yang aktif rutin sekitar 60 orang.

“Yang lain biasanya aktif kalau lumbung dibuka saja,” kata Samiaji.

Secara historis, lumbung paceklik ini lahir dari keprihatinan para sesepuh desa pada masa krisis pangan era 1960-an. Kala itu, warga mengumpulkan beras sedikit demi sedikit, bahkan hanya satu cangkir per rumah, yang kemudian dikelola melalui sistem arisan.

“Dari arisan beras, arisan kambing, arisan uang, hingga bumbun, akhirnya berkembang menjadi lumbung kolektif desa. Ini murni swadaya masyarakat,” pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.