KabarBaik.co – Puluhan warga yang tergabung dalam Forum Penyelamat Demokrasi Indonesia (FPDI) melakukan aksi unjuk rasa di depan Kantor KPU Bojonegoro, Senin (4/11). Mereka menuntut kinerja KPU Bojonegoro lebih profesional dalam mengemban tugas sebagai panitia pelaksana pilkada serentak tahun ini.
Pengunjuk rasa menganggap gagalnya debat publik pertama dan ditundanya debat kedua yang seharusnya dilaksanakan pada Jumat lalu (1/11) merupakan bentuk ketidakprofesionalan KPU Bojonegoro. “Kita menuntut KPU harus lebih tegas. Jangan berpihak ke salah satu calon,” tegas salah seorang demonstran, Yuli, dalam orasinya.
Yuli menilai KPU Bojonegoro yang bertugas sebagai penyelenggara pemilu tidak melaksanakan kerjanya secara adil dan tidak profesional. “Para komisioner KPU Bojonegoro harus meminta maaf kepada warga Bojonegoro, karena mereka bekerja tidak profesional dalam menjalankan tugasnya,” ujar Yuli.
Menurut Yuli, KPU Bojonegoro menjadi provokator yang memicu kegaduhan di masyarakat serta mengingkari janjinya dalam mewujudkan pilkada damai.
Sementara itu, Ketua KPU Bojonegoro, Robby Adi Perwira, meminta maaf kepada warga jika kinerjanya pada pilkada tahun ini dianggap tidak profesional. “Kami sudah berusaha menjalankan tugas semaksimal mungkin dan kami juga telah memfasilitasi para calon untuk menyampaikan visi dan misinya,” ujar Robby.
Robby yang juga jebolan dari organisasi kemahasiswaan HMI ini berjanji akan bekerja lebih maksimal dalam mengemban tugas sebagai penyelenggara pilkada tahun ini. “Kami berterima kasih telah diingatkan. Tadi mereka juga menyinggung tentang gagalnya debat publik dan kami juga telah melakukanya meskipun tidak berjalan sesuai dengan rencana,” jelas Robby. (*)