Jika birokrasi sering diibaratkan sebagai labirin beton yang kaku dan dingin, maka di sudut Jalan Simpang Ijen, Kota Malang, kita akan menemukan anomali yang menyejukkan. Di sana, di markas Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) III Jawa Timur, duduk seorang pria yang memandang dunia bukan sekadar lewat tumpukan dokumen, melainkan melalui kacamata seorang rimbawan.
—
Asep Kusdinar, S.Hut., M.H., adalah sosok yang membawa aroma hutan ke dalam ruang kerja pemerintahan. Baginya, memimpin wilayah koordinasi yang mencakup tujuh kabupaten/kota di Jawa Timur tak ubahnya menjaga sebuah ekosistem. Ada akar yang harus diperkuat, ada dahan yang perlu diselaraskan, dan ada buah kesejahteraan yang harus dipastikan sampai ke tangan rakyat.
Lahir di Sumedang pada 26 November 1968, Asep kecil tumbuh dalam dekapan alam Jawa Barat yang asri. Barangkali, suara angin yang bergesekan dengan daun-daun jati di tanah kelahirannya itulah yang membisikkan takdirnya. Dia kemudian merantau ke Bogor, menempa diri di Jurusan Konservasi Hutan, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB).
IPB bukan sekadar tempat kuliah bagi Asep. Tapi seperti sebuah kawah candradimuka, di mana ia belajar bahwa harmoni adalah kunci keberlangsungan hidup. Ia sadar bahwa menjaga hutan—dan kelak menjaga masyarakat—tak cukup hanya dengan ilmu botani. Dibutuhkan juga perisai yang lebih kuat. Maka, dia pun melangkah ke Universitas Lampung (UNILA) untuk merengkuh gelar Magister Hukum, dengan fokus yang tajam pada Tindak Pidana Kehutanan.
Perpaduan latar belakang tersebut menciptakan karakter kepemimpinan yang unik. Asep dikenal memiliki kelembutan hati seorang konservator, namun juga punya ketegasan hukum seorang praktisi hukum. Dia tahu kapan harus memupuk dengan kasih, dan tahu kapan harus memangkas dahan kering atau membusuk demi keselamatan seluruh pohon.
26 Tahun Menjaga Napas Bumi dan Panen Prestasi
Sebelum akhirnya dilantik sebagai Kepala Bakorwil III Jawa Timur pada 29 September 2023, Asep telah menghabiskan 26 tahun hidupnya berkelana di rimba pengabdian. Bidang kehutanan bukan lagi sekadar profesi baginya, melainkan nafas. Selama lebih dari dua dekade, ia malang melintang memastikan paru-paru Jawa Timur tetap sehat.
Pengalaman panjang ini membentuknya menjadi pribadi yang low profile namun sarat prestasi. Di bawah kepemimpinannya, Bakorwil III Malang menjelma menjadi institusi yang sarat keunggulan. Terbukti, institusi ini meraih predikat “AA” (Sangat Memuaskan) dalam implementasi SAKIP serta pengawasan arsip internal pada tahun 2024. Ketegasannya dalam mengawal birokrasi juga membuahkan predikat “A” (Memuaskan) untuk Reformasi Birokrasi Pemprov Jatim 2024.
Bagi Asep, jabatan adalah amanah yang sifatnya organik. Tumbuh, berbuah, dan pada saatnya akan kembali ke tanah. Namun, sebelum masa itu tiba, pihaknya memastikan “pohon” yang dipimpin memberikan manfaat nyata. Hal ini tervalidasi dengan diraihnya nilai Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) tertinggi di antara OPD Jawa Timur pada tahun 2025.
Di balik ketenangan wajahnya saat menghadapi persoalan wilayah yang relatif kompleks, ada sosok pendamping hebat yang menjadi tanah humus bagi pertumbuhannya. Yakni, Prof Dr Asihing, seorang akademisi tangguh yang menjabat sebagai Dosen Kehutanan di Universitas Brawijaya, adalah belahan jiwa sekaligus mitra diskusi yang setara.
Bayangkan meja makan di rumah mereka—bukan hanya diisi dengan percakapan domestik biasa, tapi barangkali juga tentang bagaimana kebijakan publik dapat selaras dengan hukum alam. Bersama Prof Asihing, Asep telah membesarkan dua anak yang kini telah memberinya dua cucu. Keluarga inilah yang menjadi oase, tempat ia pulang untuk “merebus” penat setelah seharian berjibaku dengan urusan koordinasi antarwilayah.
Menanam Inovasi, Menyembuhkan Negeri
Kepedulian Asep terhadap kemanusiaan tak kalah hijau dengan kecintaannya pada hutan. Melalui inovasi “Barang Penting” (Bakorwil Malang Peduli Stunting), ia berhasil membawa institusinya meraih Top Kovablik 2023. Dedikasinya ini bahkan dianugerahi penghargaan Leadership In Zero Stunting Initiative dari Radar Malang Awards 2025.
Tak berhenti di situ, dia terus mendorong ranting-ranting inovasi melalui tangan anak muda. Bakorwil III Malang mencatatkan prestasi gemilang di ajang Inotek Award 2025 dengan inovasi khusus milenial seperti “Infus Care” (Terinovatif III) dan “Artiknesia” (Top 15), sebuah platform art commerce untuk seniman lokal. Asep juga memperkuat akar ekonomi melalui inovasi Ekosistem Halal yang masuk dalam Top Inovasi Pelayanan Publik Jatim 2025.
Jika Anda bertanya apa rahasia Asep menjaga akal sehat di tengah riuh birokrasi, jawabannya sederhana: Menanam. Hobinya memang merawat pohon dan bunga anggrek. Dan, kecintaan itu bukan sekadar pengisi waktu luang. Di mata Asep, merawat anggrek mengajarkan nilai kesabaran. Bunga itu tidak mekar karena dipaksa, melainkan karena dirawat dengan ketelatenan.
“Menanam adalah cara menjaga keseimbangan hidup,” barangkali itulah prinsip yang terus dipegang. Selain berenang, kegiatan healing bagi Asep adalah kembali ke alam. Di saat banyak yang mungkin memilih kemewahan untuk relaksasi, Asep memilih lebih banyak menyentuh tanah, merasakan tekstur daun, dan memastikan ada kehidupan hijau yang tumbuh di sekelilingnya.
Kini, di bawah kepemimpinannya, Bakorwil III Malang bukan lagi sekadar kantor koordinasi yang sunyi. Asep menyulapnya menjadi pusat komunikasi publik yang mumpuni. Terbukti dengan raihan Terbaik 2 JPRA 2025 kategori Media Audio Visual serta penghargaan Badan Publik Informatif dengan nilai KIP mencapai 94,25.
Asep Kusdinar sedang melakukan reboisasi birokrasi di lingkungannya. Dia terus berikhtiar menanam nilai integritas sebagai akar, menyiramnya dengan transparansi, dan memastikan setiap kebijakan berpihak pada keberlanjutan. Di tangan “Sang Rimbawan”, Bakorwil III Malang bukan hanya menjadi perpanjangan tangan Gubernur, melainkan menjadi pohon rindang tempat rakyat berteduh dan menjemput harapan.
Sebab bagi Asep, memimpin adalah tentang menanam. Dan ia sedang menanam kebaikan, satu per satu, di sepanjang aspal dan hutan Jawa Timur, untuk kemudian dipanen oleh generasi mendatang. (*)







