Menelusuri Jejak Boyong Natapraja, Membuka Tabir Sejarah dan Kesakralan Perpindahan Ibu Kota Nganjuk

oleh -149 Dilihat
Prosesi ritual Kirab Boyong dan Sedekah Bumi Hambangun Projo 2026 yang digelar Pemkab Nganjuk.(Agus Karyono)
Prosesi ritual Kirab Boyong dan Sedekah Bumi Hambangun Projo 2026 yang digelar Pemkab Nganjuk.(Agus Karyono)

KabarBaik.co, Nganjuk – Tanggal 6 Juni bukan sekadar lembaran kalender biasa bagi masyarakat Nganjuk. Hari tersebut menandai titik balik besar ketika pusat pemerintahan resmi bergeser dari Berbek menuju Kota Nganjuk pada tahun 1880 silam.

Langkah berani ini diambil demi memutus keterisolasian geografis sekaligus memacu urat nadi perekonomian daerah.

Kini, setelah sempat vakum puluhan tahun, memori kolektif tersebut dihidupkan kembali dengan penuh kemegahan dan kesakralan melalui prosesi ritual Boyong dan Sedekah Bumi Hambangun Projo 2026.

Jalur sepanjang Berbek hingga Alun-Alun Nganjuk pun berubah menjadi lautan manusia yang antusias merayakan warisan leluhur mereka.

Perpindahan pusat pemerintahan ini tidak terjadi dalam semalam. Sejarawan sekaligus Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Nganjuk, Sukadi, menjelaskan bahwa momentum bersejarah ini terjadi pada Minggu Wage, 6 Juni 1880 (27 Jumadil Akhir 1809 Tahun Jawa).

“Langkah ini diambil karena lokasi Berbek dinilai kurang strategis, berada di dataran tinggi lereng Gunung Wilis dan sulit dijangkau. Raden Tumenggung Sumowiloyo, Bupati Berbek kala itu, dengan visioner mengusulkan relokasi kepada Residen Kediri,” ungkap Sukadi yang juga aktif di Komunitas Kota Sejuk, Senin (8/6).

Butuh waktu lima tahun untuk membangun fondasi kota baru—mulai dari gedung pemerintahan, pengadilan, pasar, hingga fasilitas kesehatan—sebelum boyongan massal benar-benar terlaksana secara mulus di bawah kepemimpinan Bupati Sosrokoesoemo III.

Identitas Berbek secara administratif kemudian memudar dan resmi dilebur menjadi Kabupaten Nganjuk pada 1 Januari 1929 melalui Undang-Undang No. 310 Tahun 1928.

Setelah terakhir diperingati pada tahun 1930, tradisi ini dihidupkan kembali di era modern melalui Surat Edaran Bupati yang diterbitkan oleh Kang Marhaen pada tahun 2022.

Di balik riuh rendah festival, perayaan tahun 2026 ini menyimpan dimensi spiritual yang kental. Acara bukan sekadar seremoni teatrikal tahunan, melainkan refleksi mendalam untuk meneguhkan kembali nilai-nilai luhur yang mulai terkikis zaman.

Mantan Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi (Kang Marhaen), memaparkan bahwa esensi dari perpindahan ini adalah mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Demi menjaga keluhuran tradisi, serangkaian ritual sakral pun digelar sejak malam sebelum puncak acara.

“Sebelumnya, kita mandikan dua pusaka Kabupaten Nganjuk, yaitu Payung Kiai Tunggul Wulung dan Tombak Kiai Baru Klinting (Jurang Penatas),” urai Kang Marhaen.

Melalui prosesi Bedol Pusaka, kedua lambang daerah tersebut diarak dari Berbek menuju Pendopo KRT Sosrokoesoemo. Ritual jamasan (pembersihan) ini melambangkan pembersihan spiritual bagi para pemimpin dan masyarakat, sekaligus simbol perlindungan dan ketajaman berpikir untuk membawa Nganjuk ke arah yang lebih maju.

Puncak peringatan tahun 2026 ini berhasil memadukan nuansa historis dengan antusiasme modern. Kirab budaya digelar megah merunut kembali jalur sejarah dari Kotalama Berbek menuju Kotabaru Nganjuk, dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari pejabat, OPD, sekolah, pelajar, hingga warga umum.

Arak-arakan gunungan hasil bumi dalam Sedekah Bumi menjadi simbol rasa syukur sekaligus penguat memori kolektif bahwa membangun daerah tidak bisa dilakukan secara parsial.

“Itu adalah rangkaian dari prosesi Boyong dan Sedekah Bumi Hambangun Projo. Maknanya yang terpenting adalah bagaimana membangun pemerintahan dengan cara sinergisitas dan kolaborasi semuanya,” pungkas Kang Marhaen.

Melalui filosofi gotong royong yang tebersit dalam setiap jengkal prosesi, segenap elemen di Kabupaten Nganjuk diajak untuk berjalan beriringan demi mewujudkan masa depan Bumi Anjuk Ladang yang lebih sejahtera dan bermartabat.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Agus Karyono
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.