KabarBaik.co, Nganjuk – Tradisi mudik saat Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat Indonesia yang turun temurun. Bagi banyak orang, momen ini bukan sekadar perjalanan pulang ke kampung halaman, melainkan memiliki makna dan esensi yang mendalam dalam menjaga hubungan kekeluargaan.
“Tradisi mudik tidak hanya sekedar pulang kampung semata, lebih dari pada itu ada esensi tersendiri,” ujar Nuri Febri R, warga Kedung Tarukan Baru Surabaya yang berasal dari Tanjung Kalang Ngronggot Nganjuk. Saat berbincang dengan KabarBaik.co, Senin (23/3).
Menurutnya, selain sebagai sarana menyambung tali silaturahmi, mudik juga menjadi bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan keluarga besar yang utuh.
“Kita menjaga keluarga agar tidak sampai kepaten obor istilahnya jawanya, atau putus hubungan persaudaraan,” jelasnya.
Nuri menjelaskan bahwa ketika semua saudara kandung telah menikah dan memiliki keluarga masing-masing, menjaga keutuhan keluarga menjadi tantangan tersendiri.
“Untuk tetap menjaga keutuhan keluarga, mudik saat lebaran merupakan salah satu hal yang menjadi upaya untuk tetap menjaga suatu hubungan kekeluargaan,” ucapnya.
Bahkan ketika orang tua telah tidak ada lagi, mudik tetap menjadi sarana yang tepat untuk menjaga tali silaturahmi antar saudara.
“Mengingat tidak semua saudara berada dalam satu kota, bisa jadi terpisah di kota-kota besar di seluruh penjuru negeri,” tambahnya.
Tradisi yang dilakukan setahun sekali ini hingga kini tetap terjaga dan lestari di era modern. Dengan demikian, tradisi positif ini perlu terus dilestarikan agar nilai-nilai kekeluargaan tetap terjaga di tengah arus perkembangan zaman.







