Mentan Amran Pamer Capaian Swasembada Pangan Berbasis Data Global di Mubes IKA Unhas

oleh -120 Dilihat
Mentan Andi Amran Sulaiman saat acara IKA Unhas.
Mentan Andi Amran Sulaiman saat acara IKA Unhas.

KabarBaik.co, Makassar – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa capaian swasembada pangan Indonesia merupakan fakta berbasis data kredibel yang diakui secara global, bukan sekadar klaim sepihak pemerintah.

“Itu bukan kata saya. Tolong teman-teman kita luruskan, itu bukan Kementerian Pertanian yang menyampaikan. Yang menyampaikan adalah BPS, FAO, dan United States Department of Agriculture,” tegas Mentan Amran.

Hal tersebut disampaikan saat menjadi keynote speech pada Musyawarah Besar Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin (IKA Unhas) di Four Points, Makassar, Sabtu (2/4).

Di hadapan ratusan alumni dan tokoh nasional, Mentan Amran menekankan bahwa tantangan mewujudkan swasembada pangan merupakan amanah besar yang harus dijawab dengan kerja nyata dan terukur. Mentan Amran mengungkapkan bahwa target swasembada yang semula diproyeksikan dalam waktu empat tahun, berhasil dipercepat menjadi satu tahun.

“Di mana Bapak Presiden targetkan swasembada empat tahun, alhamdulillah dalam waktu satu tahun kita capai,” ungkapnya.

Menurutnya, keberadaan tiga lembaga tersebut menjadi bukti kuat bahwa capaian swasembada Indonesia tidak bisa diperdebatkan secara subjektif.

Mentan Amran menyoroti masih banyaknya kekeliruan dalam memahami konsep dasar pangan. Mentan menjelaskan bahwa istilah swasembada (Self-sufficiency), ketahanan pangan (food security), hingga kedaulatan pangan memiliki makna yang berbeda dan tidak bisa disamakan.

Definisi yang umum digunakan secara internasional, swasembada pangan tidak berarti impor harus nol persen. Mengacu FAO, suatu negara masih dikategorikan swasembada apabila impor pangan pokok strategis tidak melebihi 10 persen dari total kebutuhan konsumsi nasional.

“Nah ini kadang tidak paham. Swasembada pangan itu impor maksimal 10 persen, itu konsensus kita. Jadi kalau impor masih di bawah 10 persen, itu masih disebut swasembada,” jelasnya.

Mentan Amran kemudian membandingkannya dengan konsep ketahanan pangan yang lebih luas.

“Ketahanan pangan itu impor maupun produksi dalam negeri, tapi cukup. Yang penting kebutuhan terpenuhi, itu ketahanan pangan,” ujarnya.

Lebih jauh, Mentan Amran juga menyinggung pentingnya pemahaman tentang kedaulatan pangan sebagai kemampuan negara mengelola sistem pangan secara mandiri.

“Kadang orang tidak mengerti apa itu swasembada, apa itu food security, apa itu food sovereignty. Ini yang harus diluruskan,” tegasnya.

Sebagai bukti konkret, Mentan Amran memaparkan capaian stok beras nasional yang disebutnya sebagai yang tertinggi sejak Indonesia berdiri, mencapai 5 juta ton pada bulan April 2026.

“Sejak kami lahir sampai 2026, ini yang tertinggi dan tidak bisa dibantah,” ujarnya.

Ia membandingkan dengan capaian masa lalu pada era Presiden Soeharto yang berada di kisaran 2,75 juta ton, sementara saat ini telah mencapai sekitar 5 juta ton.

“Ini nilainya Rp60 triliun dan diaudit oleh BPK. Kalau tidak benar, saya katakan dipenjara semua,” tegasnya.

Selanjutnya Mentan Amran menyebutkan kinerja positif juga terlihat dari sisi kesejahteraan petani. Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai 125,35, tertinggi dalam 34 tahun terakhir, menandakan daya beli dan pendapatan petani meningkat signifikan.

Sementara itu, sektor pertanian juga mencatat pertumbuhan ekonomi yang impresif. PDB sektor pertanian pada 2025 tumbuh 5,74 persen, tertinggi dalam 25 tahun terakhir, menjadikan sektor ini sebagai salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Keberhasilan Indonesia mengendalikan impor juga berdampak luas terhadap pasar global. Mentan Amran menyebut, penghentian impor beras dalam jumlah besar membuat harga dunia turun signifikan.

“Dari 660 dolar turun menjadi 340 dolar. Dari Rp11.000 menjadi Rp5.700 per kilo. Kenapa? Karena Indonesia importir terbesar dunia, 7 juta ton selama dua tahun,” jelasnya.

Menurutnya, kebijakan penghentian impor beras dari luar negeri tersebut berdampak langsung pada 33 negara dan memengaruhi 176 negara lainnya secara global.

Di balik capaian tersebut, Mentan Amran mengungkap kerja keras intensif yang dilakukan seluruh jajaran Kementerian Pertanian tanpa henti.

“Tidak ada hari libur selama satu tahun. Kami rapat jam 2 subuh, jam 3 subuh. Kalau tidak angkat telepon, berakhir jabatannya,” ungkapnya.

Mentan Amran juga menceritakan momen saat Presiden meminta percepatan target swasembada dari empat tahun menjadi satu tahun.

“Saya keringat dingin, tapi sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang,” katanya.

Mentan Amran kembali menegaskan bahwa swasembada bukan sekadar capaian angka, melainkan fondasi kedaulatan bangsa.

“Mimpi kita adalah seluruh pulau Indonesia swasembada pangan, protein, dan energi,” ujarnya.

Mentan Amran pun mengajak seluruh alumni Unhas untuk terus menjaga soliditas dan berkontribusi dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang berdaulat pangan di tingkat global.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: F. Noval
Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.