Merasa Dilecehkan, Mantan Pasien Rumah Sakit Swasta di Kota Malang Keluh Kesah di Akun Instagram

oleh -503 Dilihat
IMG 20250417 WA0010

KabarBaik.co – Qorry Aulia Rachman, 31, warga Bandung, Jawa Barat, membagikan pengalaman kelamnya saat dirawat di rumah sakit swasta di Kota Malang. Pengalaman tersebut dia bagikan lewat akun Instagram miliknya. Pengalaman kelam yang menurutnya tidak bisa dilupakan yaitu yakni pelecehan yang dilakukan seorang dokter umum saat masih menjalani perawatan di kamar rawat inap pada 2022 silam.

Meski diam, akhirnya Qorry memberanikan diri untuk melangkah membawa kasus ini ke jalar hukum. Dengan perasaan gemetar, secara langsung Qorry bahkan menceritakan secara rinci kisah kelamnya yang terjadi pada 27 September 2022 saat usianya 29 tanun. Lewat sambungan seluler Qorry yang saat ini ada di Bandung, mengatakan jika keinginannya datang ke Kota Malang untuk liburan.

Kebetulan saat itu Qorry punya teman di Kota Malang. Karena itu ia memutuskan untuk pergi seorang diri ke Kota Malang. Sesampainya di sana, Qorry menyewa vila.
“Sampai di Malang itu memang aku ini orangnya ringkihan atau sakit-sakitan, di 26 September aku masuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD), yang aku cari digoogle rumah sakit swasta terbaik di Kota Malang ya ini,” ungkap Qorry, Kamis (17/4).

Qorry melanjutkan, bahwa dirinya memutuskan saran rumah sakit swasta terbaik yang didapatkannya dari googling. Dini hari bertemu dengan dokter umum diduga pelaku pelecehan seksual tersebut.
Kemudian, Qorry pun mendapatkan infus dan mengikuti beberapa prosedur yang diminta dari IGD tersebut. Selanjutnya Qorry diminta melakukan rontgen oleh dokter terduga pelaku pelecahan seksual berinisial AY, karena mengalami sinusitis dan vertigo

“Cuman kata dokternya wajib dirontgen. Terus selagi dirontgen nunggu diinfus sampai habis, ternyata hasil belun keluar dokter bilang untuk meninggalkan nomor handphone di meja suster, nanti pihak rumah sakit akan menghubungi,” ungkapnya. Qorry pun pulang ke vila yang disewanya. Namun sesampainya di vila, Qorry tidak merasa membaik, sehingga memutuskan untuk kembali ke rumah sakit tersebut.

“Waktu itu dokter itu sudah ngechat WhatsApp ngabarin hasilnya baik-baik saja. Aku kira cuman sebatas itu dan syok juga, karena kok bisa dokternya langsung hubungi bukan admin atau suster tapi ya udah,” jelas Qorry. Chat itu berlanjut secara intens, karena dokter AY mengetahui jika ia masuk kembali ke rumah sakit tersebut.

Saat membali masuk ke IGD, dokter yang menanganinya saat itu bukan AY. Sebab saat itu jam dinasnya sudah habis. “Kedua kalinya ke IGD dia gak dinas tapi tahu di situ masuk lagi, dia tiba tiba dateng meskipun selesai jam kerja tapi dianya nanganin aku lagi. Setelah diobservasi dipindah ke ruang rawat inap VIP mana, dokter ini ngechat semakin sering tapi aku ga balas karena menurutku ini sudah aneh kok doktek kayak gini, sedangkan aku baru kenal-kan,” imbuh Qorry.

Keesokan harinya, teman dan ibu temannya datang menjenguk Qorry di rumah sakit swasta. Tidak lama, dokter tersebut masuk saat ada teman dan ibu temannya dengan membawa stetoskop tanpa menggunakan jas dokter. “Di sini aku masih mikir positif, lalu temanku gak bisa lama. Sehingga temenku bilang titip ya dok (Qorry) saya mau keluar,” ujar Qorry dengan perasaaan gemetar.

Alhasil Qorry yang berada di ruang VIP itu hanya tinggal berdua dengan dokter AY. Sempat terjadi perbincangan, meskipun suasana menegangkan, karena baru saling kenal. Dokter yang semula duduk, tiba-tiba berdiri akan melakukan pemeriksaan kepada Qorry. Kemudian AY menutup gorden yang terbuka di kamar VIP tersebut.
“Aku masih berusaha buat berfikir positif dan lebih ketakut, karena aku orangnya lebih ke parnoan takut gimana ini-itu ya uda aku manut-manut saja,”

Saat godern ditutup, Qorry mulai tidak nyaman tapi tidak berani ngomong. Dokter tersebut pun meminta Qorry untuk membuka baju pasien yang digunakannya.
“Dia bilang buka bajunya mau aku periksa dia bilang gitu. Aku nurut, aku buka, mikirnya okeh aku gak nyaman tapi aku masih mau ngelakuinnya karena bawa stetoskop dan geraknya cepet ditutup,”

Tak hanya itu saja, Qorry juga diminta untuk membuka pakaian dalamnya. Dalam benaknya selama ini diperiksa dokter tidak pernah meminta hal tersebut kepada pasien. Qorry pun sempat membeku, takut dan bingung dengan kondisi telanjang dada. Namun ia berusaha untuk menutup-nutupi bagian payudara. Dokter mulai memeriksa menggunakan stetoskop cukup lama.

“Aku makin gak nyaman, cek sebelah dada kiri dulu jarinya nyenggol-nyenggol bagian puting. Lalu aku tutupin pindah ke kanan dan itu lama, gak normal biasanya kan cepet, ini gak diam tapi matanya ke puting. Karena wajah aku gak nyaman dokter ini cepat-cepat ngeluarin handphone tapi arahnya kedadaku. Akhirnya keneranianku aku cuman bilang, dok ngapain,” terang Qorry yang bercerita sambil gemetaran mengingat kejadian tersebut.

Alibinya saat itu akan membalas pesan temannya. Namun, Qorry tahu itu hanya jadi alasan dokter tersebut agar bisa mengambil gambar. Sebab posisi handphone benar-benar ke dada, ia pun langsung menutup bajunya. Qorry pun beralasan ingin istirahat sebagai alasan agar dokter itu keluar dari kamarnya. Namun AY menghiraukan hal tersebut dengan mengajak ngobrol.

“Aku gak ngerti kenapa tetap berusaha di ruangan itu. Padahal aku sudah beralasan kayak gitu, akhirnya aku bilang kalau kondisi aku informasi dari dokter yang menanganinya kondisi membaik,” jelasnya.

Akhirnya dokter itu keluar ruang, tapi setelah masih intens chat mengajak nonton bola meskipun dalam kondisi dirawat. Lalu juga diminta ke kontrakannya. “Dari situ sudah gak bisa cerita, aku trauma gak nyaman, sempat kepikiran apa aku lapor suster ya, sempet tanya suster dokter AY tapi terpatahkan dengan omongan dokter orang baik jadi mengurungkan cerita aku jadi takut,” kata Qorry.

Keesokan harinya Qorry keluar dari rumah sakit, karena kondisi yang sudah membaik. Namun masih intens chat Qorry, hingga akhirnya berhenti menganggu setelah temannya berpura-pura menjadi pacar Qorry. “Jujur awal gak pernah ceritain masalah ini kesiapapun, karena menurutku ini aib ya. tapi temenku cerita masalah kasus dokter di Garut akhirnya aku cerita ke dia. Terus temenku bilang speak-up, karena beberapa tahun bisa jadi ada beberapa korban yang kena,” terang Qorry.

Akhirnya Qorry pun memberanikan diri untuk mengangkat kisah kelamnya itu, berselang 3 sampai 4 jam. Ternyata akun sosial media yang sempat aktif menghilang. Pun dengam data dokter umum di website rumah sakit mendadak menghilang. “Aku dapat kabar mantannya si dokter ini menghubungi aku, memang orangnya agak aneh. Akhirnya ngebantu saya karena temannya dia dokter juga di rumah sakit itu. Dan kemarin aku sempat dipanggil pihak rumah sakit,” ungkap Qorry.

Dengan keberanian dirinya, karena banyaknya dukungan dari pengacara Qorry memutuskan untuk melanjutkan ke jalur hukum. “Ada pengacara hubungin mau bantuin kasus ini sampai selesai.” Menurutnya ini demi keadilan yang harus ditegakkan agar tidak ada korban lainnya, sehingga dalam waktu dekat ia berencana ke Kota Malang.

“Mungkin aku akan ke Malang dalam waktu dekat ini. Sepertinya pekan depan karena memang ada pekerjaan yang harus diselesaikan,” tutup Qorry. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: P. Priyono
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.