KabarBaik.co, Sidoarjo – Sebelum dikenal sebagai Situs Candi Kedung Keras, warga Desa/Kecamatan Tulangan lebih dulu mengenal tempat ini sebagai punden yang diselimuti berbagai kisah misteri. Konon, ular raksasa, perempuan cantik berkebaya, suara gamelan gaib hingga makhluk tak kasat mata pernah menampakkan diri di lokasi yang selama ini dianggap keramat tersebut.
Selama puluhan tahun, Punden Kedung Keras menjadi tempat yang disegani warga. Tak sedikit masyarakat yang mengaku mengalami atau mendengar peristiwa-peristiwa ganjil di kawasan itu. Meski kini suasananya sudah tidak lagi seangker dahulu, cerita-cerita mistis tersebut masih hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Di balik berbagai kisah yang berkembang, Punden Kedung Keras juga menyimpan jejak sejarah. Hasil ekskavasi arkeologi yang dilakukan pada Juni hingga Juli 2023 mengungkap struktur bata kuno yang diduga merupakan bangunan suci peninggalan sebelum Kerajaan Majapahit. Sejak saat itu, punden yang dulunya hanya berupa gundukan tanah mulai dikenal sebagai Situs Candi Kedung Keras.
Namun, temuan arkeologi itu tidak lantas menghapus cerita-cerita mistis yang telah lama dipercaya warga. Sosok yang paling sering diceritakan adalah seekor ular raksasa yang diyakini sebagai penjaga Punden Kedung Keras. Ular tersebut disebut memiliki tubuh sebesar pohon jati, panjang sekitar tujuh meter, berkaki pendek, serta memiliki jengger layaknya ayam.
Heru, 49, warga Desa Tulangan, mengaku pernah melihat langsung sosok ular tersebut saat masih kecil. Pengalaman itu masih membekas hingga kini.
“Saya sendiri pernah melihat ular sebesar pohon jati dan panjangnya sekitar tujuh meter. Tidak hanya saya, beberapa warga lain juga pernah melihatnya. Kejadiannya waktu saya masih kecil dan ular itu muncul di sekitar punden,” ujarnya, saat ditemui KabarBaik.co di lokasi, Sabtu (8/8).
Menurut Heru, sosok ular itu bukanlah ular biasa. Warga percaya makhluk tersebut merupakan ular gaib yang menjaga kawasan Punden Kedung Keras sejak zaman dahulu.
Cerita tentang ular gaib itu semakin menarik setelah ditemukan sebuah lempengan emas seperti sisik ular, bergambarkan ular berjengger dan berkaki pendek serta gambar Bulus. Menurut warga, bentuk ukiran tersebut sangat mirip dengan sosok ular yang selama ini dipercaya menjaga punden. Lempengan emas itu konon ditemukan setelah seorang warga mendapat petunjuk melalui mimpi saat sering bermalam di lokasi tersebut.
Selain ular raksasa, warga juga mengenal sosok yang disebut ulat tahun, yakni makhluk tak kasat mata yang dipercaya dapat menyebabkan seseorang mengalami gatal-gatal berkepanjangan dan tidak kunjung sembuh melalui pengobatan biasa.
Penampakan lain yang tak kalah melegenda adalah sosok perempuan cantik berkebaya yang ditemani seekor anjing berukuran sebesar anak sapi. Sosok itu disebut beberapa kali terlihat duduk santai di sekitar punden ketika suasana sedang sepi.
Nanang, 49, warga yang kerap berada di sekitar lokasi, mengaku pernah melihat penampakan yang sama.
“Saya juga pernah melihat ular besar itu. Selain itu ada perempuan cantik memakai kebaya ditemani anjing sebesar anak sapi. Mereka duduk di sekitar punden seperti sedang beristirahat,” katanya.
Cerita yang paling sering diperbincangkan warga adalah suara gamelan lengkap beserta alat pertunjukan wayang yang konon muncul tanpa ada seorang pun memainkan. Menurut kepercayaan masyarakat, kemunculan suara gamelan itu menjadi pertanda penghuni gaib punden sedang meminta sesajen.
“Dulu sering terdengar suara gamelan seperti ada wayangan lengkap. Setelah diberi sesajen suara itu hilang. Anehnya, sejak tali gong yang konon hendak putus diganti memakai tali milik warga, suara gamelan itu sudah tidak pernah terdengar lagi,” tutur Nanang.
Peristiwa ganjil lainnya juga pernah dialami warga saat membersihkan sumber air yang ada di tengah tumpukan bata yang terbentuk candi. Seekor burung kenari milik warga yang lepas terbang tiba-tiba jatuh tepat di dekat lokasi. Anehnya, setelah dimasukkan kembali ke dalam sangkar, burung tersebut tetap sehat dan kembali berkicau seperti biasa.
“Saat kami sedang menyedot sumber air, tiba-tiba kenari yang terbang di atas kami langsung jatuh. Setelah dimasukkan ke sangkar burung itu masih sehat dan gacor. Sampai sekarang saya masih heran kenapa bisa tiba-tiba jatuh,” ungkapnya.
Di tengah susunan bata kuno hasil ekskavasi terdapat sumber air yang hingga kini tidak pernah mengering. Sebagian masyarakat masih mempercayai air tersebut memiliki khasiat tertentu dan kerap digunakan sebagai bagian dari tradisi maupun ikhtiar penyembuhan sesuai keyakinan masing-masing.
Hingga kini, Punden Kedung Keras masih didatangi sebagian masyarakat yang hendak menggelar pernikahan maupun hajatan lainnya untuk menjalankan tradisi sesuai kepercayaan masing-masing. Di tempat inilah cerita tentang sejarah dan kisah-kisah mistis masih hidup berdampingan, menjadikan Punden Kedung Keras sebagai salah satu situs yang paling sarat legenda di Sidoarjo. (*)







