KabarBaik.co, Malang – Di balik bangunannya yang sederhana, Candi Badut di Kelurahan Karangbesuki, Dau, Kabupaten Malang, menyimpan kisah panjang tentang kejayaan Kerajaan Kanjuruhan, kerajaan tertua di Jawa Timur. Candi yang diperkirakan telah berusia lebih dari 1.400 tahun itu menjadi bukti nyata bahwa peradaban di wilayah Malang telah berkembang jauh sebelum lahirnya Kerajaan Kediri, Singhasari hingga Majapahit.
Berdasarkan berbagai sumber sejarah, termasuk Prasasti Dinoyo bertarikh 760 Masehi, Candi Badut diyakini dibangun pada masa pemerintahan Raja Gajayana, penguasa Kerajaan Kanjuruhan. Dalam prasasti tersebut disebutkan bahwa sang raja mendirikan bangunan suci sebagai tempat pemujaan Resi Agastya, tokoh penting dalam ajaran Hindu-Siwa, sebagai simbol perlindungan bagi rakyat serta menjaga keseimbangan spiritual kerajaan.
Keberadaan Candi Badut menjadi penanda bahwa Kanjuruhan merupakan salah satu pusat peradaban tertua di Jawa Timur. Meski ukurannya tidak sebesar candi-candi lain di Pulau Jawa, nilai sejarah yang dikandungnya sangat besar karena menjadi bukti berkembangnya kehidupan politik, budaya, dan keagamaan di kawasan Malang pada abad ke-8.
Sejumlah kajian arkeologi menyebut perjalanan Candi Badut tidak berhenti pada masa kejayaan Kanjuruhan. Situs ini juga menjadi saksi perubahan besar ketika Kerajaan Kanjuruhan berada di bawah kekuasaan Kerajaan Medang pada masa Raja Rakai Watukura Dyah Balitung sekitar tahun 898-910 Masehi.
Alih-alih menghapus identitas Kanjuruhan, peristiwa tersebut justru melahirkan proses akulturasi budaya. Hal itu terlihat dari perpaduan arsitektur Jawa Timur dan Jawa Tengah yang menghiasi Candi Badut melalui ornamen seperti relief kinara-kinari, kirtimukha, hingga bentuk bangunan yang berkembang dari masa sebelumnya.
Sejarawan menilai perubahan tersebut menunjukkan bahwa Candi Badut merupakan hasil asimilasi budaya, bukan sekadar simbol penaklukan politik. Kanjuruhan memang kehilangan kedaulatannya, namun tetap menjadi bagian penting dalam perkembangan peradaban Jawa Timur.
Setelah menjadi wilayah Kanuruhan di bawah Kerajaan Medang, kawasan ini tetap memainkan peran strategis. Dari wilayah inilah kemudian lahir tokoh-tokoh penting seperti Mpu Sindok yang memindahkan pusat Kerajaan Medang ke Jawa Timur, serta Narotama, tokoh kepercayaan Raja Airlangga.
Eksistensi Kanuruhan juga terus berlanjut pada masa Kerajaan Kahuripan, Janggala hingga Majapahit. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pengaruh Kanjuruhan tidak pernah benar-benar hilang, melainkan terus berkembang mengikuti dinamika sejarah Nusantara.
Secara fisik, Candi Badut dibangun menggunakan batu andesit dengan struktur khas candi Hindu yang terdiri atas kaki, badan, dan kepala candi. Bangunan utama menghadap ke arah barat serta memiliki ruang utama yang berisi Lingga dan Yoni sebagai simbol pemujaan Dewa Siwa.
Di kawasan candi juga ditemukan Arca Durga, Agastya, Ganesha, Arca Nandi, serta sisa-sisa pondasi candi perwara yang menunjukkan kompleks tersebut pernah menjadi pusat kegiatan keagamaan pada masanya.
Menurut catatan sejarah, Candi Badut ditemukan kembali pada 1921 dalam kondisi tertimbun tanah dan reruntuhan batu di tengah persawahan. Situs itu pertama kali dilaporkan oleh Maureen Brecher, seorang kontrolir berkebangsaan Belanda yang bertugas di Malang. Pemugaran awal dilakukan pada 1925, kemudian disempurnakan kembali pada 1990-1991 sehingga bentuknya dapat dinikmati hingga sekarang.
Selain menjadi objek wisata sejarah, Candi Badut hingga kini masih dimanfaatkan sebagai lokasi upacara keagamaan umat Hindu. Letaknya yang berada di kawasan Karangbesuki juga menawarkan panorama pegunungan, mulai Gunung Arjuna, Gunung Kawi, Gunung Tengger hingga Gunung Semeru.
Lebih dari sekadar bangunan kuno, Candi Badut menjadi simbol bahwa kejayaan sebuah kerajaan tidak hanya diukur dari kemenangan politik. Kerajaan Kanjuruhan memang pernah berada di bawah kekuasaan kerajaan lain, tetapi warisan budaya, sistem kepercayaan, serta kontribusinya terhadap perkembangan peradaban Jawa Timur tetap hidup hingga kini.
Melalui Candi Badut, jejak kejayaan Kanjuruhan terus dikenang sebagai fondasi awal lahirnya peradaban besar di tanah Malang sekaligus menjadi pengingat bahwa sejarah dapat bertahan melampaui pergantian kekuasaan dan zaman.

Candi Badut Diyakini Simpan Filosofi Leluhur
Budayawan asal Malang, Nanang Hadi Wijanarko atau yang dikenal dengan julukan Resi Kecwara, menyebut Kerajaan Kanjuruhan merupakan salah satu pelopor peradaban Nusantara yang mengedepankan keseimbangan alam, penghormatan terhadap air, serta keharmonisan seluruh makhluk hidup. Menurutnya, nilai-nilai tersebut hingga kini masih relevan menjadi pedoman dalam pembangunan.
Nanang menjelaskan ajaran yang berkembang pada masa Kanjuruhan dikenal sebagai Gama Tiga, yang terdiri atas Igama, Agama, dan Ugama. Ketiganya mengajarkan keseimbangan hubungan manusia dengan dirinya sendiri, sesama makhluk hidup, alam semesta, hingga tata kehidupan yang lebih luas.
“Igama berarti Gelaring Kasukman, Agama adalah Pakertining Jagat Mandala, sedangkan Ugama merupakan Makasimaloka Tata Caraning Jagat. Semua itu mengajarkan bahwa setiap makhluk memiliki sukma sehingga manusia tidak boleh menindas makhluk lain,” ujarnya, Sabtu (1/8).
Menurutnya, filosofi tersebut membuat masyarakat Kanjuruhan mampu hidup harmonis dengan alam. Berbeda dengan kondisi saat ini yang dinilai cenderung mengeksploitasi lingkungan, pada masa itu hubungan manusia dengan alam dibangun melalui prinsip saling menguntungkan atau simbiosis mutualisme.
Nanang juga menilai keberlimpahan sumber air di wilayah Malang Raya menjadi bukti bahwa tata ruang Kerajaan Kanjuruhan dahulu disusun dengan mempertimbangkan fungsi air. Kawasan bekas pusat kerajaan, seperti Tlogomas, disebut memiliki banyak sumber mata air yang dimanfaatkan sekaligus dijaga keberlangsungannya.
Ia menegaskan konsep tersebut kemudian berkembang menjadi Gama Tirta, yakni ajaran yang menempatkan air sebagai unsur kehidupan yang harus dihormati dan dikelola secara bijaksana. Menurutnya, apabila prinsip tersebut diterapkan kembali, persoalan kekeringan di sejumlah wilayah dapat diminimalkan.
Selain mengulas ajaran leluhur, Nanang juga memaparkan pandangannya mengenai fungsi Candi Badut. Ia menyebut nama “Badut” berasal dari kata Badiut yang berarti sorot bintang, sehingga candi tersebut diduga memiliki fungsi sebagai tempat pengamatan atau perhitungan astronomi dan astrologi pada masanya.
Di sisi lain, Candi Badut juga memiliki makna spiritual. Di dalam bangunan candi terdapat lingga yang menurut Nanang merupakan satu kesatuan dengan yoni sebagai simbol filosofi sedulur papat lima pancer. Lingga dan yoni melambangkan keseimbangan kehidupan sekaligus hubungan manusia dengan alam semesta.
Ia menambahkan, konsep serupa juga dapat ditemukan di kompleks candi di Dieng, Jawa Tengah. Menurutnya, penempatan lingga dan yoni memiliki perhitungan tertentu karena berkaitan dengan makna filosofis dan kekuatan spiritual yang diyakini masyarakat pada masa lampau.
Nanang berharap berbagai lontar yang memuat ajaran asli Kerajaan Kanjuruhan dapat terus diteliti dan diungkap. Ia meyakini nilai-nilai tersebut masih relevan sebagai dasar membangun peradaban modern yang tetap menghormati alam, menjaga keseimbangan lingkungan, serta menjunjung tinggi kehidupan seluruh makhluk.
“Kalau kembali persis seperti masa lalu tentu tidak mungkin. Tetapi ajaran leluhur Kanjuruhan masih sangat mungkin diterapkan sebagai pedoman membangun manusia Nusantara ke depan. Kanjuruhan pernah memiliki peradaban yang luar biasa dan menjadi pelopor peradaban,” pungkasnya. (*)






