Mengenal Mbah Karimun, Maestro yang Hidupkan Kembali Seni Topeng Malangan hingga Dikenal Nasional

oleh -112 Dilihat
WhatsApp Image 2026 07 25 at 11.27.44 AM
Padepokan Seni Topeng Asmorobangun di Desa Kedungmonggo, Pakisaji, Kabupaten Malang (Putut Priyono)

KabarBaik.co, Malang – Nama Mbah Karimun menjadi salah satu tokoh penting dalam perjalanan panjang seni Topeng Malangan. Berkat dedikasinya, kesenian tradisional yang sempat terpuruk pasca-peristiwa 1965 mampu bangkit kembali hingga dikenal secara nasional.

Warisan tersebut kini diteruskan oleh generasi penerusnya, salah satunya Ki Suroso, cucu Mbah Karimun yang dikenal sebagai maestro Tari Topeng Malangan sekaligus Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Malang. Ki Suroso juga memimpin Padepokan Seni Topeng Asmorobangun di Desa Kedungmonggo, Pakisaji, Kabupaten Malang, yang hingga kini menjadi salah satu pusat pelestarian seni Topeng Malangan.

Ki Suroso menjelaskan Mbah Karimun merupakan penerus tradisi Topeng Kidulan, yakni rumpun kesenian topeng yang berkembang di wilayah selatan Kabupaten Malang. Tradisi tersebut membentang di sejumlah daerah seperti Pakisaji, Jambuwer, Jatiguwi, Senggreng, hingga kawasan Kalipare dan sekitarnya.

Menurutnya, Mbah Karimun sejak muda aktif belajar kepada sejumlah maestro topeng dari berbagai daerah. Di antaranya Mbah Seno dari Senggreng yang merupakan murid Mbah Wiji Koperal Kalipare. Sementara perkembangan Topeng Malangan di wilayah timur juga dipengaruhi tokoh-tokoh seperti Mbah Wiji dan Mbah Reni di Polowijen yang kemudian diteruskan keturunannya di Jabung dan sekitarnya.

“Beliau tidak hanya belajar menari, tetapi juga memperdalam seluruh aspek kesenian topeng,” ujar Ki Suroso, Sabtu (25/7).

WhatsApp Image 2026 07 25 at 11.27.44 AM 1
Makam Mbah Karimun di bawah pohon di Desa Desa Kedungmonggo, Pakisaji, Kabupaten Malang (Putut Priyono)

Tak hanya dikenal sebagai penari, Mbah Karimun juga menguasai peran sebagai dalang, pengrajin topeng, penabuh gamelan hingga pengajar. Kemampuan tersebut menjadikannya sosok seniman yang komplet dalam tradisi Topeng Malangan.

Namun perjalanan kesenian itu tidak selalu mulus. Ki Suroso menceritakan bahwa pasca-peristiwa Gerakan 30 September 1965, kelompok-kelompok kesenian rakyat, termasuk seni topeng, mengalami masa sulit. Saat itu sejumlah kelompok seni pernah mendapat pembinaan dari Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), sehingga banyak seniman ikut terdampak situasi politik meski tidak terlibat dalam aktivitas politik.

Akibat kondisi tersebut, pertunjukan Topeng Malangan sempat vakum selama beberapa waktu. Bahkan, salah seorang kerabat Mbah Karimun dikabarkan tidak pernah kembali setelah dibawa aparat pada masa itu.

Meski demikian, Mbah Karimun memilih tetap bertahan. Setelah situasi mulai kondusif, sekitar akhir dekade 1960-an hingga awal 1970-an, ia kembali mementaskan Topeng Malangan dari desa ke desa sebagai upaya menghidupkan kembali kesenian tradisional tersebut.

Momentum penting datang pada 1978 ketika digelar lomba Tari Topeng di Pendopo Agung Kabupaten Malang. Penampilan kelompok Topeng Kedungmonggo yang dipimpin Mbah Karimun berhasil menarik perhatian dewan juri dan terpilih mewakili Kabupaten Malang tampil di Jakarta.

Keberhasilan itu menjadi titik balik perkembangan Topeng Malangan. Sepulang dari Jakarta, kelompok seni Mbah Karimun memperoleh dukungan pemerintah daerah berupa pembangunan padepokan yang selesai pada 1982 serta bantuan seperangkat gamelan.

WhatsApp Image 2026 07 25 at 11.27.43 AM 1
Ki Suroso bersama topeng ciptaan Mbah Karimun (foto: Putut Priyono)

Pada periode yang sama, Mbah Karimun juga mengirimkan dua peti koleksi topeng berisi puluhan karakter Topeng Malangan ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sebagai bagian dari upaya memperkenalkan budaya Malang di tingkat nasional. Koleksi tersebut menjadi salah satu jejak penting penyebaran seni Topeng Malangan di Indonesia.

Perkembangan berikutnya semakin pesat setelah sejumlah akademisi dan budayawan mulai meneliti Topeng Malangan. Di antaranya almarhum A.M. Munardi dari SMKI Surabaya yang menulis berbagai kajian mengenai seni Topeng Malangan, serta budayawan Tri Broto yang turut mendokumentasikan perkembangan kesenian tersebut.

Pada 1984, kelompok Topeng Asmorobangun juga mencatat sejarah dengan merilis rekaman kaset pertunjukan bertajuk Jayabaya yang berisi enam karakter tari Topeng Malangan. Dokumentasi tersebut menjadi salah satu arsip audio awal mengenai seni topeng di Indonesia.

Kini, estafet pelestarian budaya itu diteruskan Ki Suroso bersama generasi kelima keluarga Mbah Karimun. Selain mempertahankan pertunjukan tari, Padepokan Seni Topeng Asmorobangun juga menjadi tempat pendidikan bagi anak-anak muda untuk mempelajari tari, pedalangan, karawitan, hingga teknik pembuatan topeng kayu.

Bagi Ki Suroso, perjuangan Mbah Karimun membuktikan bahwa Topeng Malangan bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan identitas budaya masyarakat Malang yang harus terus dijaga agar tetap hidup lintas generasi. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Putut Priyono
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.