KabarBaik.co, Nganjuk — Kisah inspiratif dan sarat keajaiban datang dari Muhammad Eka Sandi, 37, warga Kelurahan Kauman, Kecamatan Kota Nganjuk. Dengan keteguhan hati dan tekad membara serta doa ibu, ia berhasil menuntaskan perjalanan spiritual berjalan kaki melintasi 11 negara menuju Tanah Suci Mekah Al-Mukarromah untuk menunaikan ibadah umrah.
Perjalanan nekat ini bermula dari Surabaya dengan sejuta harapan. Namun, ujian berat langsung menghadang di awal langkahnya sebelum akhirnya ia melintasi benua.
“Awalnya saya berangkat bertiga dari Surabaya bersama dua teman. Namun di tengah perjalanan, kedua teman saya tidak bisa melanjutkan dan memutuskan kembali ke Surabaya. Saat tiba di Lampung, uang di saku saya bahkan tinggal Rp 20 ribu, tetapi saya bertekad bulat untuk terus melangkah,” ujar Eka Sandi mengenang awal perjuangannya, Kamis (23/7).
Perjalanan panjang yang memakan waktu hingga 8 bulan tersebut diwarnai dengan kebaikan banyak orang dari berbagai belahan dunia.
Di sepanjang jalur yang dilalui, masyarakat sekitar kerap memberikan bantuan berupa makanan, minuman, hingga tempat untuk melepas lelah.
Keteguhan niatnya membuahkan hasil manis ketika ia akhirnya berhasil menginjakkan kaki di Tanah Suci Mekah. Setelah merampungkan ibadah umrah, perjuangan Eka belum usai saat ia harus menempuh perjalanan pulang ke tanah air.
“Uang saku saya dari Tanah Suci hanya cukup untuk membeli tiket pesawat sampai Thailand. Akhirnya dari Thailand saya lanjut berjalan kaki lagi. Beruntung saat sampai di Malaysia, saya bertemu seseorang yang sangat baik hati dan membelikan saya sepeda angin untuk melanjutkan perjalanan pulang,” tutur Eka.
Usai melintasi Kabupaten Madiun, Eka akhirnya kembali menginjakkan kaki di Kabupaten Nganjuk. Ia sempat singgah di Masjid Ridho Illahi, Wilangan, untuk beristirahat makan siang dan melaksanakan salat Zuhur.
Di tempat ini, kedatangannya disambut hangat oleh keluarga, tetangga, serta komunitas sepeda Nganjuk yang mengawalnya hingga masuk ke pusat Kota Nganjuk.
Selama delapan bulan berkelana menembus batas-batas negara, Eka mengaku banyak pelajaran hidup yang ia petik, terutama tentang rasa syukur dan kepasrahan kepada Sang Pencipta.
“Tentu banyak kendala selama di negeri orang, terutama saat kesulitan mencari tempat beristirahat dan memastikan makanan yang dibeli benar-benar halal. Namun, semua rasa lelah itu hilang seketika saat bisa kembali ke kampung halaman,” ungkap Eka Sandi.
Suasana haru dan tangis bahagia tak terbendung memuncak di kompleks Masjid Agung Nganjuk saat ia pertama kali bertatap muka dengan sang ibu yang telah lama menunggunya.
Eka Sandi langsung memeluk erat ibundanya sambil meneteskan air mata bahagia, menutup perjalanan spiritual yang luar biasa ini dengan sebuah kehangatan keluarga.






