KabarBaik.co, Mojokerto – Di tengah rindangnya pepohonan tua di Dusun Kedungwulan, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, terdapat sebuah situs yang dikenal masyarakat dengan nama Sitinggil.
Tempat ini diyakini sebagai petilasan Raja pertama Majapahit, Raden Wijaya, dan hingga kini masih ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah.
Sitinggil yang berarti ‘tanah tingg’ atau ‘siti inggil’ dipercaya dahulu menjadi lokasi meditasi Raden Wijaya untuk mencari petunjuk dan ketenangan batin saat memimpin Kerajaan Majapahit.
Di dalam kawasan tersebut terdapat sejumlah makam yang diyakini sebagai makam Raden Wijaya, Dara Petak, Dara Jingga, hingga para dayang kerajaan. Meski begitu, keberadaan makam tersebut masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan maupun masyarakat sekitar.
Aura sakral masih terasa kuat di area situs. Aroma dupa tercium di sejumlah sudut kompleks makam. Di bagian depan kawasan utama terdapat dua makam yang dikenal dengan nama Sapu Angin dan Sapu Jagat yang juga dikeramatkan warga setempat.
Setiap malam Jumat Legi, kawasan Sitinggil dipadati peziarah maupun wisatawan lokal dari berbagai daerah.
Tokoh masyarakat setempat, Ali Mahsun, mengatakan sejumlah tokoh nasional pernah datang ke lokasi tersebut untuk berdoa dan mencari ketenangan batin.
“Ya mungkin di sini ada keajaiban, makanya mereka jauh-jauh datang ke sini,” ujar Ali Mahsun dalam keterangannya, Sabtu (27/6).
Sementara itu, juru kunci Sitinggil, Kukub, mengatakan para peziarah biasanya diminta melakukan ritual sederhana sebelum berdoa di petilasan Raden Wijaya.
“Harus berdoa sendiri, tidak boleh diwakilkan,” kata Kukub.
Selain area makam dan tempat semedi, di dalam kompleks Sitinggil juga terdapat sumber air kecil yang dipercaya memiliki khasiat kesehatan. Sumber air tersebut terus mengeluarkan air jernih meski hanya berupa cekungan batu dengan kedalaman kurang dari satu meter.
Banyak pengunjung menyempatkan diri meminum air tersebut karena diyakini membawa keberkahan.
Lokasi Sitinggil cukup mudah dijangkau karena berada tidak jauh dari jalur utama Mojokerto-Jombang. Suasana teduh dengan pepohonan besar membuat kawasan itu juga kerap dimanfaatkan warga untuk berkumpul bersama keluarga.
Nuansa tenang dan sakral membuat Sitinggil tetap menjadi salah satu destinasi sejarah dan spiritual yang bertahan di tengah jejak kejayaan Majapahit di kawasan Trowulan. (*)






