Candi Sumberawan, Situs Sakral Lintas Agama di Malang yang Jadi Simbol Toleransi

oleh -192 Dilihat
Candi Sumberawan
Candi Sumberawan di Malang (Putut Priyono)

KabarBaik.co, Malang – Kompleks Candi Sumberawan di Dusun Sumberawan, Desa Toyomarto, Singosari, Kabupaten Malang, tak hanya menjadi peninggalan sejarah Kerajaan Majapahit. Situs ini juga dikenal sebagai ruang spiritual lintas agama dan kepercayaan yang hingga kini masih digunakan untuk berbagai ritual keagamaan.

Umat Buddha, Hindu, Islam, Katolik, hingga penganut kejawen memanfaatkan kawasan candi untuk beribadah sesuai keyakinan masing-masing. Kondisi tersebut menjadikan Candi Sumberawan sebagai salah satu simbol toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Kabupaten Malang.

Juru Pelihara Candi Sumberawan, Dika Maulana, Minggu (19/7), mengatakan aktivitas spiritual dari berbagai agama telah berlangsung sejak lama di kawasan candi.

Saat perayaan Waisak, misalnya, umat Buddha memanfaatkan area candi untuk bermeditasi dan berdoa. “Biasanya umat Buddha melakukan upacara dan bertapa saat Waisak. Ada yang dari Kota Malang dan juga dari Ngadas,” ujar Dika.

Selain umat Buddha, umat Hindu juga kerap melakukan ritual di dua sumber mata air yang berada di kompleks candi, yakni Sendang Kederajatan dan Sendang Amerta.

Sendang Kederajatan dipercaya memiliki makna peningkatan derajat kehidupan sehingga digunakan untuk ritual mandi suci. Sementara Sendang Amerta atau air keabadian diyakini membawa kesehatan bagi mereka yang mencuci muka maupun berkumur menggunakan air dari sumber tersebut.

“Airnya berasal dari bawah bangunan candi dan dialirkan ke dua sendang itu,” kata Dika.

Tak hanya itu, umat Katolik juga sesekali memanfaatkan Sendang Amerta untuk pelaksanaan sakramen pembaptisan. “Kadang memang ada umat Katolik melakukan pembaptisan, tapi hanya di mata air itu,” ungkapnya.

Sementara umat Islam dan penganut tradisi kejawen biasanya datang untuk melakukan doa dan ritual spiritual, terutama pada malam 1 Suro seperti hari ini maupun malam Jumat Legi.

“Biasanya yang banyak datang itu saat malam Jumat Legi untuk berdoa di sini,” ujarnya.

Meski terbuka untuk kegiatan spiritual, setiap aktivitas ibadah di kawasan candi diwajibkan berkoordinasi dengan juru pelihara, khususnya jika dilakukan pada malam hari.

“Kalau ibadah malam hari, biasanya sehari sebelumnya harus pemberitahuan terlebih dahulu,” ungkap Dika.

Berdasarkan sumber, menyebutkan terletak di kaki Gunung Arjuno pada ketinggian sekitar 650 meter di atas permukaan laut, Candi Sumberawan menawarkan suasana sejuk dengan hamparan pepohonan pinus dan aliran mata air alami.

Candi ini dikenal sebagai satu-satunya candi bercorak Buddha di Jawa Timur. Diperkirakan dibangun pada abad ke-14 saat masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit.

Menurut Dika, candi tersebut dahulu digunakan sebagai tempat persinggahan sekaligus tempat beribadah bagi Raja Hayam Wuruk.

“Candi Sumberawan dibangun untuk tempat singgah Hayam Wuruk dan beribadah kepada para dewa,” jelasnya.

Sebelum berdirinya candi, kawasan tersebut diyakini telah menjadi tempat pemandian dan berkumpulnya para putri serta permaisuri kerajaan. Dua sumber mata air yang ada saat ini disebut telah ada jauh sebelum candi dibangun.

“Dulu ini disebut tempat widodari, tempat mandi atau berkumpulnya putri-putri dan permaisuri kerajaan,” tutur Dika.

Keberadaan Candi Sumberawan sempat terlupakan selama berabad-abad hingga akhirnya dipugar pada masa kolonial Belanda sekitar tahun 1937. Saat itu, kondisi bangunan tertutup semak belukar dan sebagian batu candi berserakan.

“Hingga oleh pemerintahan Belanda dipugar dan dibersihkan. Ada beberapa serpihan batu candi yang tercecer,” ujar Dika.

Ia menjelaskan bentuk candi yang terlihat saat ini bukan sepenuhnya bentuk asli abad ke-14 karena telah mengalami sejumlah proses rekonstruksi, terutama pada bagian kaki candi. Selain itu, bagian puncak candi yang diyakini dahulu memiliki cakra kini sudah tidak ditemukan.

“Sebenarnya di atas itu ada cakranya. Tapi saat ditemukan, cakranya sudah tidak ada,” tandasnya.

Keberadaan Candi Sumberawan hari ini tidak hanya menjadi saksi perjalanan sejarah peradaban di Malang Raya, tetapi juga menjadi ruang bersama yang merepresentasikan harmoni dan toleransi antarumat beragama. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Putut Priyono
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.