Legenda Kebo Kicak dan Pertarungan Sakti yang Lahirkan Nama Jombang

oleh -278 Dilihat
Kebo Kicak
Makam di Dusun Karangkejambon Jombang yang berkaitan dengan keluarga Kebo Kicak (Teguh Setiawan)

KabarBaik.co, Jombang – Nama Kebo Kicak sudah lama melekat dalam cerita rakyat Jombang. Tokoh yang diyakini sakti mandraguna itu disebut-sebut menjadi bagian dari asal-usul lahirnya sejumlah wilayah di Kota Santri, termasuk legenda terciptanya nama Jombang.

Ada banyak versi yang berkembang terkait kisah Kebo Kicak. Namun salah satu cerita yang cukup dikenal masyarakat menyebut tokoh tersebut bernama asli Joko Tulus.

Konon, Joko Tulus lahir dan dibesarkan di Dusun Karang Kejambon, Desa Dapurkejambon, Kecamatan Jombang. Cerita itu disampaikan Mbah Dolan, warga setempat yang mengetahui kisah turun-temurun tentang Kebo Kicak.

“Di sinilah tempat lahirnya Joko Tulus dan kemudian dikenal dengan nama Kebokicak,” ujar Mbah Dolan kepada KabarBaik.co, Sabtu (20/6).

Di dusun tersebut terdapat tiga makam yang diyakini berkaitan dengan keluarga Joko Tulus. Lokasinya berada di tengah tempat pemakaman umum (TPU) Dusun Karang Kejambon.

Sebelum memasuki area makam, pengunjung melewati sebuah gapura. Beberapa meter dari pintu masuk, terdapat makam Mbah Pranggang, Mbah Poedot, dan Ibu Kinarsih yang dipercaya sebagai kakek, nenek, serta ibu Joko Tulus.

Namun, Mbah Dolan menegaskan bahwa makam Kebo Kicak sendiri tidak diketahui keberadaannya hingga kini.

“Makam Kebo Kicak tidak ada di sini. Sampai sekarang juga belum jelas di mana,” katanya.

Menurut cerita yang berkembang, Kebo Kicak merupakan putra salah satu senopati Kerajaan Majapahit yang menikah dengan Ibu Kinarsih. Meski demikian, ada pula versi lain yang menyebut dirinya tidak diakui oleh sang ayah.

Mbah Dolan menyebut Joko Tulus sebenarnya manusia biasa. Namun karena sifatnya yang dianggap urakan atau bandel, sang kakek memberi sabda kepadanya.

Akibat sabda tersebut, kaki Joko Tulus disebut menjadi pincang dan muncul tanduk menyerupai kerbau di kepalanya. Sejak saat itulah ia dikenal dengan nama Kebo Kicak.

“Karena sabdo dari Mbah-nya itu, muncul tanduk di kepala Joko Tulus. Akhirnya dikenal sebagai Kebo Kicak,” tuturnya.

Dalam kisah selanjutnya, Kebo Kicak pergi berguru ke sebuah padepokan di Dusun Sumoyono, Desa Cukir, Kecamatan Diwek. Di tempat itu, ia bertemu dengan Surontanu yang kemudian menjadi teman seperguruan.

Namun hubungan keduanya berubah ketika terjadi pagebluk atau wabah. Dalam cerita rakyat tersebut, pagebluk diyakini hanya bisa berakhir apabila Kebo Kicak berhasil membunuh seekor kerbau yang ternyata merupakan jelmaan Surontanu.

Pertarungan keduanya pun tak terhindarkan.

“Kebo Kicak dan Surontanu itu awalnya teman seperguruan. Tapi karena pagebluk, keduanya akhirnya bertarung,” kata Mbah Dolan.

Konon, pertarungan dua tokoh sakti itu berlangsung dahsyat dan berpindah-pindah lokasi di wilayah Jombang bagian selatan. Dari perjalanan dan pertempuran itulah, sejumlah daerah di Jombang dipercaya memiliki keterkaitan dengan legenda Kebo Kicak.

“Banyak desa di Jombang mengaitkan asal-usul wilayahnya dengan Kebokicak karena pertarungan mereka memang melewati daerah-daerah itu,” ujarnya.

Dalam legenda tersebut, pertarungan Kebo Kicak dan Surontanu juga disebut memunculkan cahaya berwarna hijau dan merah.

Dari kata ‘ijo; yang berarti hijau dan ‘abang; yang berarti merah, masyarakat kemudian mengaitkannya dengan nama Jombang.

Perpaduan warna hijau dan merah tua hingga kini juga tampak mencolok dalam lambang Jombang. Warna hijau dimaknai sebagai kesuburan, ketenangan, dan kebaktian kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan warna merah melambangkan keberanian, dinamis, dan sikap kritis.

Di sisi lain, ada pula yang menafsirkan warna hijau sebagai simbol kaum santri dan warna merah sebagai simbol kaum abangan di Jombang. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.