Mojo dan Jalan Susiyo Pelukis Banyuwangi Menembus Galeri Dunia

oleh -273 Dilihat
IMG 20260116 WA0047
Susiyo, pelukis kelahiran Semarang, memilih Banyuwangi sebagai tempat berpijak

KabarBaik.co – Di sebuah studio sederhana di Banyuwangi, tangan Susiyo teliti bergerak pelan di atas kanvas. Kuas yang dipegangnya tak sekadar menggores warna, tetapi juga merangkai ingatan, imajinasi, dan perjalanan hidupnya.

Dari ruang itulah lahir karya-karya yang kini diminati kolektor mancanegara dan dipamerkan di berbagai negara.

Susiyo, pelukis kelahiran Semarang, memilih Banyuwangi sebagai tempat berpijak sejak 2023. Ia menikah dengan perempuan asal Glagah dan menetap di ujung timur Pulau Jawa itu.

Dari kabupaten berjuluk Sunrise of Java ini langkahnya justru kian jauh menembus galeri internasional, dari Asia hingga Amerika Serikat.

Susiyo mulai dilirik setelah menemukan gaya Pop Surealis, aliran yang memadukan visual pop dengan dunia imajinatif. Ia sering mengimajinasikan hewan dan tumbuhan yang berlagak seperti manusia.

“Banyak yang bilang gaya lukisan saya Pop Surealis. Tapi visual yang saya hasilkan adalah gambaran cara anak kecil melihat dunia, jujur, bebas, dan apa adanya,” kata Susiyo.

Yang menjadi ciri khasnya adalah Mojo terinspirasi dari Buah Maja figur bocah polos yang penuh dengan keingintahuan tentang dunia. Mojo menjadi karakter hampir di seluruh lukisan yang ia hasilkan.

Bagi Susiyo, Mojo bukan sekadar tokoh fiktif. Ia adalah metafora. Ia menggambarjan Mojo dengan tubuh berlubang, terhubung dengan tumbuhan, hewan, dan bentuk-bentuk hibrida lain.

Lubang-lubang itu, bagi Susiyo, adalah simbol masa kecil, ruang kosong yang menyerap kepolosan, informasi, dan pengalaman hidup.

Inspirasi tersebut tak lepas dari latar belakang Susiyo sebagai animator. Sebelum serius menekuni seni rupa, ia merupakan lulusan Prodi Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Seni Yogyakarta. Dari situ muncul kecintaannya pada animasi.

“Saya juga terinspirasi dari film Alice in Wonderland,” ujar pria 30 tahun ini.

Perjalanan Susiyo di seni rupa dimulai sejak 2017, tahun ia lulus kuliah. Awalnya, melukis bukan pilihan utama. Ia sempat meraba-raba arah, mengikuti berbagai event seni di Yogyakarta, mencari jawaban atas pertanyaan paling mendasar: melukis ini akan menjadi jalan hidup atau sekadar persinggahan?

Jawaban itu datang justru di titik terendah hidupnya. Secara ekonomi, Susiyo mengaku berada dalam kondisi sulit. Namun di saat yang sama, secara batin ia merasa “kaya”. Dari fase itulah karakter Mojo lahir yang hingga kini menjadi identitas visualnya.

Kini, Susiyo produktif menghasilkan tiga hingga empat karya setiap bulan. Setiap lukisan dikerjakan selama tujuh hingga sepuluh hari. Ia berjejaring dengan
sejumlah galeri dari situ karyanya dilirik kolektor internasional.

Berbicara momentum, Susiyo mengaku keburuntungannya dimulai tahun 2023 saat Pop Surealis mulai naik daun di pasar Asia dan Amerika. Sejak itu, pameran demi pameran berdatangan. Tahun 2025 menjadi periode sibuk bagi Susiyo.

Ia diundang tampil di ArtVordable Singapura dan Hong Kong, pameran di Bangkok, serta pameran tunggal di California, Amerika Serikat, pada November 2025 bersama Anno Domini Gallery di San Jose.

Tak berhenti di situ, pada Mei, Juni, dan Juli, Susiyo kembali menggelar pameran tunggal di Hong Kong.

“Saya tentu bersyukur. Tapi perjalanan ini masih panjang. Saya hanya ingin tetap jujur pada karya dan proses. Berharap bisa menularkan semangat sehingga jadi energi baru untuk terus berkarya,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Ikhwan
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.