Nawa Cinta Gus Fawait, Memanusiakan Pembangunan Jember dari Akar Masalah

oleh -197 Dilihat
IMG 20251016 WA0003
Gus Fawait saat berdialog dengan warga.

KabarBaik.co – Bagi Muhammad Fawait, pembangunan sejati dimulai dari manusia. Jember, dengan tantangan kemiskinan ekstrem dan kesenjangan, membutuhkan pendekatan yang menyentuh akar permasalahan sosial, bukan hanya permukaan infrastruktur. Visi humanis ini tercermin jelas dalam Nawa Cinta atau sembilan misi prioritasnya.

Misi pertama yang diusung oleh Bupati yang akrab disapa Gus Fawait ini adalah pengentasan kemiskinan. Hal ini dilakukan melalui pemberdayaan dan perlindungan sosial bagi masyarakat rentan, seperti perluasan cakupan BPJS Ketenagakerjaan hingga menyentuh pekerja informal, pelaku UMKM, hingga guru PAUD.

Kebijakan ini merupakan bentuk kehadiran negara untuk memastikan bahwa setiap warga, terutama yang berada di lapisan terbawah, memiliki jaminan dan perlindungan saat terjadi musibah. Ini adalah wujud nyata dari pembangunan yang berpihak dan peduli.

Pilar penting dari pembangunan humanis adalah reformasi birokrasi. Fawait memimpikan birokrasi yang profesional, humanis, dan melayani, dengan tujuan utama menghapus kesan bahwa pemerintah jauh dari rakyat.

Salah satu inovasi yang menggambarkan semangat ini adalah program “Bupati Ngantor di Desa” dan Kelurahan (Bunga Desaku) dan layanan pengaduan “Wadul Gus’e”. Program Bunga Desaku secara harfiah mendekatkan pusat pemerintahan ke masyarakat, membuka ruang dialog langsung antara pemimpin dan warga. Sementara “Wadul Gus’e” adalah saluran pengaduan yang transparan dan cepat tanggap, memastikan setiap keluhan dan aspirasi warga mendapat respons solutif.

Percepatan kepangkatan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) juga menjadi bagian dari upaya ini, menunjukkan bahwa memanusiakan pelayanan publik dimulai dari memanusiakan pelayannya.

Komitmen pada prinsip humanis ini teruji di wilayah terpencil. Contoh paling nyata adalah upaya menghadirkan listrik perdana di Dusun Bandealit, Kecamatan Tempurejo, setelah puluhan tahun masyarakat hidup dalam kegelapan. Kehadiran listrik, di mata Muhammad Fawait, bukan hanya soal penerangan teknis, melainkan simbol kemerdekaan dan kehadiran negara di wilayah terpencil. Ini adalah janji bahwa pembangunan akan merata dan berkeadilan, tidak meninggalkan siapa pun di belakang. Setelah listrik, komitmen berlanjut pada perbaikan infrastruktur jalan dan Penerangan Jalan Umum (PJU) untuk menopang mobilitas dan kesejahteraan warga.

Pembangunan Humanis ala Jember berarti memastikan bahwa warga yang paling terpinggirkan pun merasa diakui, dihargai, dan terlayani. Melalui visi yang berbasis cinta dan aksi nyata yang menyentuh hati rakyat, Muhammad Fawait sedang merajut narasi baru bagi Jember: sebuah daerah yang pembangunannya mengukur kemajuan bukan hanya dari tinggi gedung, tetapi dari kualitas hidup, kebahagiaan, dan rasa keadilan setiap warganya. Inilah esensi pembangunan berbasis humanis yang menjadikan manusia sebagai tujuan, bukan sekadar objek pembangunan.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dwi Kuntarto Aji
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.