KabarBaik.co – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jember dan Forum Komunikasi Lembaga Jasa Keuangan (FKLJK) mendorong Kemandirian Ekonomi Daerah Lewat Literasi Keungan Terstruktur.
Hal itu disampiakan oleh Kepala OJK Jember, Mohammad Mufid, dalam acara halalbihalal di City Forest Arum Sabil Jember, Kamis (17/4).
Mufid mengatakan, acara tersebut juga dihadiri oleh pelaku lembaga jasa keuangan dari wilayah Sekarkijang (Jember, Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi, dan Lumajang).
“Kegiatan ini bisa menjadi momentum untuk mempererat sinergisitas antara sektor keuangan dan berbagai elemen masyarakat dalam mendukung kemandirian ekonomi daerah, terutama di sektor pertanian dan perkebunan,” kata Mufid.
Ia juga menyampaikan, sektor keuangan memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan ekonomi lokal melalui kolaborasi antar pelaku usaha dan lembaga keuangan.
“Kolaborasi antar lembaga jasa keuangan bertujuan untuk mempertemukan antara pemilik dana dan pihak yang membutuhkan dana, yakni pelaku usaha dari berbagai skala,” jelasnya.
Meski begitu, Mufid menekankan bahwa fasilitasi akses pendanaan saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan edukasi dan literasi keuangan.
“Yang pertama membangun kesepahaman seluruh pelaku bahwa seluruh pihak itu merupakan komponen yang saling membutuhkan dan saling menguntungkan. Jadi membangun kesepahaman bahwa kita seiring dengan peran yang berbeda,” ucap Mufid.
“Bentuk kolaborasi lainnya adalah dengan mempertemukan kebutuhan pelaku usaha dengan kemampuan modal yang dikelola oleh lembaga keuangan, guna menciptakan kemitraan yang saling menguntungkan atau win-win partnership,” sambungnya.
Terkait pencapaian OJK Jember selama setahun terakhir, Mufid menjelaskan bahwa secara umum kinerja sektor keuangan di wilayah pengawasannya mengalami pertumbuhan positif, baik di sektor perbankan maupun non-bank.
“Hampir seluruhnya tumbuh untuk kinerja penyaluran kredit dan pembiayaan. Untuk kredit di Jember itu tumbuhnya di atas Sekarkijang tapi di bawah Jawa Timur. Tapi untuk dana pihak ketiga, Jember itu paling tinggi pertumbuhannya,” paparnya.
Ia juga menyoroti pertumbuhan signifikan pada sektor perusahaan pembiayaan, yakni sebesar 63 persen.
Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya terpaku pada perbankan sebagai sumber pendanaan.
“Tapi juga mempertimbangkan sektor keuangan lainnya yang mungkin lebih sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik lokal, termasuk meningkatkan literasi keuangan. Karena kalau literasi bagus, permasalahan yang mungkin timbul karena faktor ketidakpahaman bisa diminimalisir,” pungkasnya. (*)







