KabarBaik.co – Mega proyek pembangunan pelindung tebing Sungai Bengawan Solo di Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, kembali mengalami kerusakan. Tanggul yang menelan anggaran Rp 40 miliar dari APBD Bojonegoro Tahun 2024 itu ambrol meski baru saja selesai diperbaiki dan telah selesai dalam masa pemeliharaan.
Pantauan di lokasi menunjukkan, tebing yang ambrol berada di Desa Lebaksari, Kecamatan Baureno, dengan panjang kerusakan sekitar 40 meter. Sejumlah tiang pancang terlihat rusak, bahkan beberapa di antaranya terangkat dan tidak lagi menancap kuat di dalam tanah.
Selain itu, bronjong yang sebelumnya telah diperbaiki juga kembali mengalami amblesan sepanjang kurang lebih 30 meter. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran warga setempat, mengingat proyek ini bertujuan melindungi tebing sungai dari potensi longsor.
Berdasarkan data Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE), proyek pembangunan pelindung tebing Sungai Bengawan Solo di Desa Lebaksari dan Desa Tanggungan, Kecamatan Baureno, memiliki total panjang 980 meter dengan pagu anggaran Rp 40 miliar. Proyek tersebut dikerjakan oleh PT Indopenta Bumi Permai (IBP), perusahaan asal Surabaya, dengan nilai Harga Perkiraan Sendiri (HPS) sebesar Rp 39,6 miliar.
Salah satu warga setempat yang enggan disebutkan namanya membenarkan adanya kerusakan tersebut. Ia mengatakan, ambrolnya tebing terjadi beberapa pekan lalu. “Iya. Ada yang ambruk lagi. Sudah beberapa minggu lalu,” ujarnya, Jumat (23/1).
Ia menjelaskan, bagian tebing yang ambrol pada tahun lalu sebenarnya sudah diperbaiki dan pekerjaan tersebut rampung sekitar tiga bulan yang lalu. Namun, kini sejumlah bronjong kembali ambles. “Yang ambruk tahun lalu sudah diperbaiki dan selesai sekitar tiga bulan lalu. Pekerjanya juga sudah pulang semua dari lokasi,” tuturnya.
Ambrolnya tanggul tersebut juga dibenarkan oleh pihak kontraktor. Humas PT Indopenta Bumi Permai, Ardiana, menyampaikan bahwa kerusakan terjadi sepanjang kurang lebih 40 meter. Ia menegaskan, pihaknya telah melakukan koordinasi terkait rencana perbaikan ulang.
“Kurang lebih 40 meteran yang rusak. Kemarin juga sudah dilakukan rapat koordinasi terkait perbaikan ulang,” ungkap Ardiana.
Hal serupa disampaikan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU-SDA) Kabupaten Bojonegoro, Helmi Elisabeth. Ia menjelaskan, ambrol pertama terjadi pada awal Januari 2025 dan telah diperbaiki. Namun, menjelang akhir masa pemeliharaan, kembali terjadi ambrol di titik berbeda.
“Pada saat menjelang akhir masa pemeliharaan, tepatnya 17 Desember 2025, terjadi sliding di luar lokasi yang sebelumnya diperbaiki,” jelas Helmi.
Helmi menambahkan, masa pemeliharaan proyek tersebut akan diperpanjang untuk menangani lokasi baru yang mengalami ambrol. Ia memastikan, kontraktor pelaksana telah menyatakan kesiapannya untuk kembali melakukan perbaikan. “Akan dilakukan perpanjangan masa pemeliharaan, dan kontraktor akan tetap memperbaiki lokasi baru yang terjadi sliding,” pungkasnya. (*)






