KabarBaik.co – Ratusan pedagang Pasar Keputran Selatan menyatakan kekecewaannya terhadap kondisi Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang dinilai tidak layak huni dan jauh dari standar keamanan. Selain bangunan yang kurang memadai, proyek revitalisasi pasar ini juga disebut mengalami keterlambatan hingga hampir dua tahun dari perencanaan awal.
Koordinator Pedagang Pasar Keputran Selatan Hafid mengungkapkan bahwa fasilitas di TPS saat ini sangat memprihatinkan, terutama saat memasuki musim penghujan. Atap bangunan TPS dilaporkan banyak yang bocor, bahkan sempat memicu insiden kebakaran kecil akibat air hujan yang mengenai instalasi listrik.
“Pembangunannya menurut saya kurang layak. Atap itu bocor, dan kemarin airnya lari ke fitting lampu sampai terjadi kebakaran di area depan. Beruntung pedagang sigap memadamkan sendiri,” ujar Hafid saat ditemui KabarBaik.co, Kamis (22/1).
Krisis Air Bersih dan Pompa yang Tak Memadai
Selain masalah atap bocor, ketersediaan air bersih menjadi kendala utama bagi 179 pedagang yang direlokasi. Hafid menjelaskan bahwa dari 14 keran yang tersedia untuk keperluan mencuci dan memasak ayam, hanya sedikit yang bisa berfungsi secara bersamaan.
“Kalau dihidupkan tiga keran, keran yang keempat mati. Airnya tidak jalan. Pedagang sempat menawarkan diri untuk mengebor sumur dan membeli pompa besar dengan biaya sendiri, tapi ditolak oleh DPP (jajaran direksi pasar). Katanya mereka mau pasang pompa besar, tapi kenyataannya sampai sekarang tetap pompa kecil yang tidak mampu mengalirkan air,” keluhnya.

Manajemen Proyek Dinilai Semrawut
Hafid juga menyoroti manajemen pengerjaan proyek yang dianggap tidak terorganisir. Awalnya, pedagang berharap proyek revitalisasi dikerjakan oleh satu kontraktor agar pertanggungjawabannya jelas. Namun di lapangan, pengerjaan TPS, IPAL, dan gedung utama justru ditangani oleh pihak yang berbeda-beda.
Hafid mengaku sempat merasa malu saat menghadiri hearing di Komisi Dewan, karena teknis pengerjaan yang tidak sinkron dengan rencana awal.
“Saya malu ditanya di Komisi, ini pedagang atau kontraktor? Harusnya kan bertahap, TPS jadi, IPAL jadi, baru gedung lama dibongkar. Sekarang kenyataannya timeline pembongkaran gedung lama yang seharusnya selesai 11 Januari 2026 kemarin masih berantakan. Kami bingung nasib kami bagaimana, apalagi sebentar lagi masuk bulan puasa,” tegas Hafid.
Proyek revitalisasi ini tercatat sudah mengalami kemunduran hampir dua tahun. Padahal, TPS yang sudah dibangun sejak 6-7 bulan lalu tersebut kini dipaksakan menampung pedagang meskipun fasilitas pendukungnya belum siap sepenuhnya.
Para pedagang berharap Pemkot dan pihak pengelola pasar segera mengambil langkah nyata untuk memperbaiki fasilitas TPS dan memberikan kepastian jadwal pembangunan gedung utama agar aktivitas ekonomi warga tidak terus terganggu. (*)








