Pembudidaya Lele di Jombang Bertahan di Tengah Ancaman Krisis Global, Permintaan MBG Malah Naik

oleh -203 Dilihat
WhatsApp Image 2026 05 21 at 10.33.19 AM
Heri Purnomo pembudidaya lele di Jombang tetap optimistis di tengah tantangan ekonomi global (Teguh Setiawan)

KabarBaik.co, Jombang – Sektor budi daya ikan air tawar di Jombang mulai merasakan dampak fluktuasi ekonomi global. Kenaikan harga pakan hingga biaya distribusi menjadi tantangan yang kini dihadapi para pembudidaya ikan, khususnya lele.

Meski begitu, para petani ikan di Kota Santri tetap optimistis bertahan. Salah satunya melalui semangat gotong royong yang dibangun dalam komunitas Petani Ikan Air Tawar Nusantara (Pekantara).

Komunitas tersebut digerakkan oleh Heri Purnomo, pembudidaya lele asal Desa Temuwulan, Kecamatan Perak, Jombang. Berawal dari keresahan sesama petani ikan di desanya, Heri merangkul sekitar 20 pembudidaya hingga kini berkembang menjadi organisasi dengan sekitar 300 anggota.

“Total ada sekitar 1.000 kolam yang dikelola anggota, ukuran rata-rata 3×6 meter sampai 3×7 meter,” kata Heri kepada KabarBaik.co, Kamis (21/5).

Dari ribuan kolam itu, produksi ikan lele anggota Pekantara mencapai 3 hingga 4 ton per hari.

Heri mengaku dampak kenaikan kurs dolar terhadap rupiah memang belum terlalu dirasakan saat ini. Namun ia memprediksi tekanan ekonomi global bisa berdampak dalam beberapa bulan ke depan.

Meski demikian, dampak yang lebih dulu terasa justru berasal dari konflik Timur Tengah yang memicu kenaikan harga pakan pabrikan.

“Beberapa bulan terakhir harga pakan naik sekitar Rp 250 per kilogram. Belum sampai rugi, tapi margin keuntungan mulai menipis,” ujarnya.

Tak hanya itu, biaya operasional pengiriman ikan ke sejumlah pasar di Jawa Timur juga ikut meningkat akibat persoalan bahan bakar minyak (BBM).

“Kalau bio solar ada ya pakai itu. Tapi kalau kosong, terpaksa beli BBM non-subsidi, otomatis ongkos distribusi ikut naik,” jelasnya.

Di tengah tantangan tersebut, para pembudidaya justru mendapat peluang baru lewat Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program itu disebut menjadi pasar potensial bagi hasil budidaya ikan lele.

Menurut Heri, satu dapur MBG bisa membutuhkan pasokan lele sekitar 1,5 hingga 2 kuintal per minggu.

“Permintaan sejak Januari meningkat cukup signifikan karena adanya MBG. Bahkan saat ini kebutuhan pasar masih kurang sekitar 20 sampai 30 persen,” ungkapnya.

Tingginya permintaan membuat anggota Pekantara mulai menambah jumlah kolam untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Selain itu, komunitas tersebut juga mulai mengembangkan pakan alternatif agar biaya produksi bisa ditekan dan ketergantungan terhadap pakan pabrikan berkurang.

Bagi Heri, ancaman krisis ekonomi global bukan alasan untuk berhenti berkembang. Ia yakin budidaya ikan air tawar masih memiliki masa depan cerah.

“Selama air masih ada dan pembudidaya tetap beraktivitas, usaha ini akan terus jalan. Kuncinya efisiensi dan kolaborasi,” pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.