Penipuan Jual Beli Tanah Kavling di Gresik, Korban Merugi Ratusan Juta

oleh -170 Dilihat
Terdakwa Muhammad Abdullah tersenyum setelah menjalani persidangan di PN Gresik, Rabu (5/3). (Foto: Andika)

KabarBaik.co – Kasus penipuan jual beli tanah kavling di Kabupaten Gresik kembali terjadi. Terbaru, Muhammad Abdullah alias Abat, 36, warga Desa Peganden, Kecamatan Manyar menjadi pesakitan di Pengadilan Negeri (PN) Gresik untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Abat disidangkan dengan no perkara 57/Pid.B/2024/PN Gsk dengan Hakim ketua Eni Martiningrum, Hakim Fitra Dewi Nasution dan Hakim Adhi Satrija Nugraha. Aksi culas Abat mengakibatkan korban merugi ratusan juta rupiah.

Hal tersebut terungkap dalam sidang lanjutan di PN Gresik dengan agenda mendengar keterangan saksi, Rabu (5/3). Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Gresik Yuniar Megalia menghadirkan Muhammad Saifudin sebagai korban, Surya Efendi dan Edi Slamet saksi penjualan, serta Hariyanto pemilik sah tanah.

Dalam kesaksiannya, saksi korban Muhammad Saifudin menjelaskan, bahwa pada Desember 2022 lalu ia membeli tanah kavling di Desa Peganden, Kecamatan Manyar. Korban tahu dari saksi Surya Efendi bahwa tanah itu milik terdakwa Abat.

Singkat cerita, melalui saksi Surya Efendi yang berperan sebagai mediator tanah, korban membeli tanah kavling seluas 8 x 15 meterpersegi di nol jalan poros Sesa Peganden tersebut. Harga yang disepakati Rp 480 juta.

Baca juga:  Terlilit Hutang, Pria di Gresik Nekat Jual Mobil Sewaan, Kini Dituntut 3,5 Tahun Penjara

“Kesepakatan harga tanah itu senilai Rp. 480.000.000 dengan cara cash tempo. Saya sudah membayar total Rp.280.000.000 pada Januari 2023 sebagai bagian dari pembayaran cash tempo tanah tersebut,” beber korban dalam kesaksiannya.

Bak tersambar petir di siang bolong, Maret 2023 melihat plang pemberitahuan di atas tanah kavling yang dibelinya dari terdakwa. Yakno tanah masih milik atas nama saksi Hariyanto dengan total luas 305 meterpersegi.

Korban lantas menanyakan hal tersebut kepada terdakwa. Kepada korban, terdakwa meyakinkan bahwa tanah itu milik Hariyanto namun sudah dibeli olehnya.”Saya tanya. Bos, gimana ini kok ada plangnya?, dijawab saksi Surya kepada saya, aman bos,” ujar Iput.

Tidak berhenti di situ, terdakwa selanjutnya terus meyakinkan korban bahwa tanah itu miliknya dengan menganjurkannya untuk segera mendirikan bangunan di tanah kavling tersebut.

Karena masih janggal dan tidak jelas, korban memutuskan untuk menghentikan pembayaran cash temponya hingga menunggu kejelasan status tanah. Menurutnya, terdakwa berulang kali berkelit ketika dimintai kejelasan status tanah tersebut.

Baca juga:  Pemerkosa Pelajar hingga Hamil di Gresik Dapat Vonis Lebih Ringan

Singkat cerita, korban Saifudin akhirnya tahu bahwa tanah tersebut batal dibeli oleh terdakwa, dan oleh Saksi Harianto sudah dijual kembali ke Abdul Azis. Akhirnya korban melaporkan terdakwa ke polisi.

“Kerugian saya Rp.280.000.000, sampai saat ini sepeserpun uang saya belum dikembalikan. Pernah saya ditawari dengan diganti objek tanah yang lain, namun saya tidak mau karena tanah itu masih nama orang lain,” ungkapnya lagi.

Sementara, terdakwa sempat membantah beberapa kesaksian Muhammad Saifudin. Abat mengaku sudah mengembalikan sebagian uang sebesar Rp 5 juta melalui saksi Surya sebagai bentuk itikad baik.

“Ijin yang mulia, mengkoreksi keterangan Saudara saifudin. Bahwa saya sudah beritikad baik dengan mengembalikan uang saudara Saifudin Rp 5 juta melalui saudara Surya,” kata terdakwa membantah.

Dikonfrontasi majelis hakim, saksi Surya Efendi menjelaskan bahwa korban menolak uang dari terdakwa. “Memang saya menerima uang Rp 5 juta itu, tapi saudara Saifudin tidak mau menerima. Sehingga saya kembalikan ke Abat melalui orangnya,” ucapnya.

Kemudian Saksi Hariyanto menerangkan kepada majelis, pada 17 Desember 2022 terdakwa Abat bersepakat membeli tanahnya seluas 305 meterpersegi dengan nilai Rp 1 miliar. Abat kemudian memberikan tanda jadi pembelian tanah miliknya sebesar Rp 100 juta.

Baca juga:  Embat Barang Perusahaan, Pria di Gresik Divonis 1,5 Tahun Penjara

“Sesuai perjanjian di tempatnya Notaris Sri Puji Lestari, tanah saya akan dilunasi pada 17 Januari 2023 jika tidak lunas maka tanda jadi dianggap hangus. Namun Abat tidak bisa melunasi. Bahkan sudah saya kasih waktu hingga Mei 2023 untuk pelunasannya,” akunya.

Hingga akhirnya pada Juni 2023, Hariyanto memutuskan untuk menjual ke orang lain yaitu Abdul Azis. “Saya sudah memberitahu Abat perihal penjualan itu. Kemudian Abat datang ke rumah saya dan secara kekeluargaan uang tanda jadi Abat saya kembalilan 50 persen atau Rp 50 juta,” jelasnya

“Perihal tanah itu dijual lagi ke orang lain sama Abat saya tidak tahu. Saya tahu setelah dapat panggilan dari polisi,” tutup Hariyanto.

Setelah mendengarkan keterangan para saksi, Majelis Hakim menyatakan sidang akan digelar kembali pada Rabu (13/3) mendatang.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News


No More Posts Available.

No more pages to load.