KabarBaik.co, Jakarta — Cuma empat medali emas. Itulah target yang membayangi perjalanan kontingen Indonesia menuju Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Kurang dari sebulan sebelum pesta olahraga terbesar di Asia itu dimulai, pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah Merah Putih mampu memenuhi target itu. Namun, dari cabang olahraga mana saja kepingan emas tersebut paling mungkin datang.
Indonesia telah menetapkan 432 atlet yang akan bertanding pada 35 cabang olahraga di Asian Games 2026, yang berlangsung di Jepang pada 19 September hingga 4 Oktober. Dari 469 nomor perebutan medali yang dipertandingkan, pemerintah memasang target minimal empat emas bagi kontingen Indonesia.
Target tersebut tergolong cukup realistis jika melihat peta kekuatan Indonesia saat ini. Kementerian Pemuda dan Olahraga menempatkan bulu tangkis, panjat tebing, dan angkat besi sebagai tiga cabang yang menjadi tumpuan utama perburuan emas. Di luar tiga cabang tersebut, sejumlah olahraga lain tetap berpeluang memberikan kejutan.
Peta itu membuat target empat emas Indonesia tidak berdiri di ruang kosong. Ada fondasi prestasi yang cukup kuat, terutama dari atlet-atlet yang dalam dua tahun terakhir telah menunjukkan kemampuan bersaing di level Olimpiade dan kejuaraan Asia.
Panjat tebing menjadi salah satu kandidat paling menarik. Cabang ini bahkan diproyeksikan mampu memberikan lebih dari satu emas. Tim Indonesia menargetkan sedikitnya dua emas di Aichi-Nagoya 2026, dengan nomor speed dan lead menjadi tumpuan. Sebanyak sembilan atlet dipersiapkan untuk Asian Games dan nama-nama seperti Veddriq Leonardo dan Desak Made Rita Kusuma Dewi menjadi kekuatan penting Indonesia.
Veddriq datang dengan status juara Olimpiade Paris 2024, sementara Desak Made memiliki pengalaman sebagai juara Asian Games. Dengan rekam jejak tersebut, panjat tebing memiliki alasan kuat untuk menempatkan target dua emas sebagai sesuatu yang realistis, bukan sekadar ambisi.
Jika target tersebut tercapai, Indonesia sudah mengantongi separuh dari target empat emas hanya dari satu cabang olahraga.
Angkat besi kemudian menjadi tumpuan berikutnya. Cabang yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu sumber medali Indonesia di pentas internasional itu kembali memiliki kartu kuat melalui atlet-atlet elite yang telah membuktikan diri di level dunia.
Rahmat Erwin Abdullah dan Rizki Juniansyah menjadi dua nama yang paling menonjol. Rahmat merupakan peraih emas Asian Games 2022, sedangkan Rizki datang sebagai juara Olimpiade Paris 2024. Kehadiran dua lifter tersebut membuat peluang Indonesia untuk mendapatkan setidaknya satu emas dari angkat besi cukup terbuka.
Bulu tangkis tetap menjadi nama yang tidak bisa dikeluarkan dari perhitungan. Tradisi Indonesia di cabang ini sangat kuat dan secara historis menjadi salah satu penyumbang medali emas paling konsisten.
Namun, untuk Asian Games 2026, proyeksi sebaiknya dibuat lebih konservatif. Satu emas dari bulu tangkis merupakan target yang masuk akal, dengan sektor beregu putra menjadi salah satu peluang utama. Nomor ganda putra dan tunggal putra juga dapat menjadi sumber emas apabila pemain Indonesia mampu melewati persaingan ketat dengan China, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, India dan negara-negara kuat Asia lainnya.
Dengan perhitungan konservatif, panjat tebing berpeluang menyumbangkan satu hingga dua emas, angkat besi satu emas, dan bulu tangkis satu emas. Skenario tersebut sudah membawa Indonesia ke kisaran tiga hingga empat emas.
Di sinilah cabang-cabang lain menjadi penting. Judo, panahan, dayung, karate, menembak, balap sepeda, hingga sejumlah cabang bela diri memiliki peluang untuk menjadi penyumbang medali.
Namun, dibandingkan tiga cabang utama, peluang emas dari kelompok ini lebih sulit diprediksi karena harus menghadapi kekuatan tradisional Asia seperti China, Jepang, Korea Selatan, Iran, India, Uzbekistan, Kazakhstan, dan Korea Utara.
Voli putra juga menarik perhatian karena momentum yang sedang dibangun Timnas Indonesia. Setelah menjuarai AVC Men’s Volleyball Cup 2026 untuk pertama kalinya, skuad asuhan Reidel Toiran datang dengan kepercayaan diri tinggi. Indonesia juga baru saja mengalahkan Kamboja 3-0 dalam laga persahabatan di Phnom Penh sebagai bagian dari persiapan menuju Asian Games.
Namun, kemenangan tersebut belum cukup untuk menempatkan voli putra sebagai favorit emas Asian Games. Level persaingan di Jepang jauh lebih berat. Iran, Jepang, China, Korea Selatan dan sejumlah kekuatan Asia lainnya masih memiliki pengalaman dan kedalaman skuad di atas Indonesia.
Karena itu, untuk voli putra, target yang lebih realistis adalah menembus semifinal dan memburu medali. Jika mampu melaju ke final, emas tentu terbuka, tetapi untuk saat ini cabang tersebut lebih tepat disebut sebagai kandidat kejutan ketimbang sumber emas utama.
Menilik Sejarah Emas Indonesia
Optimisme terhadap peluang Indonesia di Asian Games 2026 juga perlu ditempatkan dalam konteks sejarah. Indonesia memiliki catatan panjang di Asian Games sejak edisi pertama pada 1951. Pencapaian terbaik berdasarkan peringkat akhir terjadi ketika Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 1962 di Jakarta. Saat itu Indonesia finis di posisi kedua klasemen medali, hanya berada di belakang Jepang.
Pada edisi tersebut, Indonesia mengoleksi 21 medali emas, 26 perak, dan 30 perunggu, dengan total 77 medali. Posisi runner-up tersebut masih menjadi peringkat tertinggi Indonesia sepanjang sejarah keikutsertaan di Asian Games.
Namun, jika ukurannya adalah jumlah emas terbanyak, rekor tersebut justru tercipta jauh setelahnya. Pada Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang, Indonesia mengoleksi 31 emas, 24 perak, dan 43 perunggu, atau total 98 medali. Kontingen Merah Putih finis di posisi keempat di bawah China, Jepang dan Korea Selatan.
Keberhasilan 2018 memiliki cerita tersendiri. Sebagai tuan rumah, Indonesia awalnya hanya memasang target 16 emas dan posisi 10 besar. Namun, performa atlet jauh melampaui sasaran tersebut. Salah satu faktor terbesar datang dari pencak silat yang menyumbangkan 14 dari 16 emas yang tersedia.
Perbedaan antara 1962 dan 2018 tersebut penting dalam membaca target 2026. Indonesia tidak harus mengulang kejayaan 1962 atau 2018 untuk disebut sukses. Dengan target minimal empat emas, ukuran keberhasilan kali ini memang jauh lebih rendah dibanding dua momentum terbaik tersebut.
Tetapi, target empat emas juga menunjukkan bahwa Indonesia masih berada dalam fase membangun kembali posisi sebagai kekuatan olahraga Asia. Setelah meraih 31 emas dan finis keempat pada 2018, Indonesia turun menjadi 7 emas dan peringkat 13 pada Asian Games Hangzhou 2022.
Karena itu, target hanya empat emas di Aichi-Nagoya itu bukan sekadar angka. Target tersebut juga menjadi pertaruhan tersendiri bagi Menpora Erick Thohir. (*)







