KabarBaik.co – Musim panen membawa berkah bagi para petani di Kecamatan Wonosalam, Jombang. Setelah durian bido yang lebih dulu populer, kini giliran buah matoa yang menjadi primadona.
Tahun ini, panen matoa di kawasan lereng Gunung Anjasmoro mencapai puncaknya dengan hasil melimpah dan kualitas lebih baik dibanding tahun sebelumnya.
Heri Susanto, petani matoa asal Dusun Pucangrejo, Desa Wonosalam, mengungkapkan bahwa hasil panen kali ini meningkat drastis.
“Alhamdulillah, tahun ini panen melimpah. Kalau tahun kemarin hasilnya di bawah 5 kuintal, sekarang bisa mencapai 1 ton,” ujar Heri kepada wartawan, Selasa (11/11).
Menurut Heri, cuaca ekstrem yang sempat terjadi beberapa waktu lalu justru tidak berdampak buruk pada tanaman matoa. Ia menilai kondisi cuaca saat ini sangat mendukung pertumbuhan buah tersebut.
“Cuaca sekarang malah bagus buat matoa. Kalau dulu satu pohon cuma bisa 100 kilo, sekarang bisa lebih dari 200 kilo. Artinya ada peningkatan sekitar 50 persen,” jelasnya.
Heri menuturkan, panen matoa di Wonosalam bisa dilakukan hingga tiga kali dalam setahun, dengan puncak panen terjadi pada November hingga Desember.
Untuk menjaga kualitas, setiap dompol matoa dibungkus dengan jaring agar terhindar dari serangan hewan perusak sekaligus memudahkan proses panen.
Soal harga, buah matoa dibanderol mulai dari Rp 20 ribu hingga Rp 35 ribu per kilogram, tergantung kualitas dan variannya.
“Kalau matoa super harganya Rp 35 ribu per kilo, sedangkan kualitas biasa mulai Rp 20 ribu,” kata Heri.
Meski demikian, petani tetap harus waspada terhadap kondisi cuaca ekstrem. Menurut Heri, perawatan dan pemupukan rutin menjadi kunci agar tanaman tetap produktif.
“Kuncinya di perawatan dan pemupukan yang tepat. Kalau panas terlalu lama, memang bisa memengaruhi hasil,” tambahnya.
Buah matoa asal Wonosalam kini tak hanya diminati warga lokal. Pembeli dari luar daerah seperti Surabaya, Sidoarjo, hingga Jakarta juga ikut memburu buah berkulit cokelat mengilap ini. Heri bahkan melayani pengiriman untuk reseller luar kota.
Jenis matoa yang dibudidayakan di wilayah ini adalah Matoa Kelapa, yang dikenal memiliki rasa unik perpaduan antara rambutan, leci, dan durian.
Sania Nur Aini (23), pengunjung asal Kediri, mengaku penasaran mencicipi buah khas Papua tersebut.
“Rasanya kayak campuran rambutan, leci, sama durian. Enak banget, ini pertama kali saya coba,” ujar Sania. (*)







