Pilu! Bocah 9 Tahun Asal Blitar Berjuang Melawan Leukemia Sejak Lahir, Menanti Uluran Tangan

oleh -465 Dilihat
Muhammad Arka Fatih Arrazi, bocah 9 tahun asal Desa Ponggok, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar. (Foto: Ist)

KabarBaik.co – Di balik senyumnya yang polos, Muhammad Arka Fatih Arrazi, bocah 9 tahun asal Desa Ponggok, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, menyimpan kisah perjuangan yang luar biasa.

Sejak akhir 2024, Arrazi divonis menderita leukemia, kanker darah yang memerlukan pengobatan intensif dalam jangka panjang.

Di usianya yang seharusnya dipenuhi tawa dan bermain, Arrazi harus bolak-balik rumah sakit untuk menjalani kemoterapi yang berat, demi satu harapansembuh dan kembali menjalani hari-harinya seperti anak-anak lain.

Arrazi lahir pada 24 November 2016 dan dibesarkan dalam keluarga sederhana. Cobaan besar datang saat usianya baru menginjak dua tahun, ketika sang ayah meninggal dunia akibat tumor otak. Sejak itu, ia hidup bersama ibunya, Yuliana Indah Lestari, yang membesarkannya seorang diri dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas.

Kesulitan hidup mereka bertambah ketika pertengahan 2024, kondisi Arrazi mulai memburuk setelah menjalani imunisasi rutin. Demam tinggi yang tidak kunjung reda memaksanya keluar-masuk rumah sakit. Mengandalkan BPJS Mandiri kelas 3 yang iurannya ditanggung sendiri, Yuliana harus berjuang keras. Hingga akhirnya, saat dirujuk ke RSUD milik Pemprov Jatim di Malang, vonis leukemia pun dijatuhkan.

Sejak saat itu, Arrazi rutin menjalani kemoterapi di RSUD Saiful Anwar Malang, menempuh perjalanan jauh dari Blitar dalam kondisi tubuh yang semakin melemah.

Kondisi Arrazi menarik perhatian Ketua Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Kabupaten Blitar Arif Witanto. Ia menyampaikan keprihatinannya terhadap perjuangan bocah ini.

“Ini bukan sekadar kisah tentang anak sakit. Ini potret nyata bagaimana sistem kita masih lalai terhadap kelompok yang paling rentan,” ujar Arif, Selasa (29/4).

Ia menyoroti betapa beratnya beban yang harus dipikul oleh keluarga miskin untuk mendapatkan layanan kesehatan layak, bahkan ketika anak mereka menderita penyakit berat seperti leukemia.

Arif mendorong pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret, mulai dari penyediaan fasilitas transportasi layak, layanan medis ramah anak, hingga pengalihan status BPJS Arrazi dari mandiri ke Penerima Bantuan Iuran (PBI) agar biaya kesehatannya ditanggung negara.

“Negara seharusnya hadir di saat rakyatnya paling membutuhkan, bukan malah membebani,” tegasnya.

Tak hanya itu, DKR juga mengajak Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial Kabupaten Blitar untuk berkolaborasi memberikan bantuan nyata, seperti dukungan transportasi, nutrisi tambahan, hingga pendampingan psikologis bagi Arrazi dan ibunya.

Di tengah semua perjuangan ini, Arif mengajak masyarakat untuk tidak tinggal diam.

“Jika negara lambat, masyarakat harus cepat. Ini soal kemanusiaan, soal menyelamatkan masa depan satu anak bangsa,” tambahnya.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Calvin Budi Tandoyo
Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.