KabarBaik.co, Gresik – Indonesia baru saja membantai Timor Leste 4-0 dalam laga pembuka ASEAN U-17 Boys’ Championship 2026 (Piala AFF U-17) di Stadion Gelora Joko Samudro, Senin (13/4) malam. Gol-gol Putu Ekayana, Ridho, dan Dava Yunna menjadi awal manis Garuda Muda.
Namun, di balik kemenangan telak itu, satu hal yang mencolok: suasana stadion terasa sepi,. Jauh dari ekspektasi sebagai ajang pembibitan talenta Timnas senior masa depan.
Padahal, turnamen level junior ini bukan sekadar event biasa. AFF U-17 menjadi pemanasan krusial menuju Piala Asia U-17 2026 di Arab Saudi, sekaligus ajang pengasahan mental dan pengalaman internasional bagi bibit-bibit unggul yang kelak diharapkan memperkuat Timnas senior di 2030–2034.
Pelatih Kurniawan Dwi Yulianto sendiri menekankan fokus pada mental bertanding dan penguasaan bola. Kemenangan atas lawan lemah seperti Timor Leste bagus, tapi lawan sesungguhnya seperti Malaysia (16 April pukul 19.30 WIB di Gresik) dan Vietnam (19 April di Sidoarjo) akan menjadi beberapa ujian sebenarnya.
Sayangnya, kurangnya gegap gempita di lapangan menjadi sorotan. Banyak yang memilih nonton di layar kaca daripada datang ke Gelora Joko Samudro maupun Gelora Delta. Ini bukan kali pertama. Pada Piala Dunia U-17 2023, FIFA sempat mempertanyakan keseriusan PSSI karena stadion relatif sepi, meski secara total tiket terjual mencapai ratusan ribu. Kini pola serupa terulang di event yang seharusnya jadi “pipa” regenerasi talenta.
PSSI memang sigap memindahkan tuan rumah dari Kalimantan Timur (Kaltim) ke Jawa Timur pada Maret 2026. Sebab, masalah pencahayaan stadion di Kaltim yang tak memenuhi standar (hanya 900 lux, padahal butuh minimal 1.200 lux). Keputusan mendadak itu membuat persiapan promosi minim. Tidak ada kampanye masif, upaya-upaya kolaboratif atau mobilisasi supporter group besar. Tiket mulai Rp 75 ribu juga bisa jadi terasa kurang ramah untuk keluarga atau pelajar yang seharusnya jadi target utama event pembibitan.
Lebih ironis, PSSI Jatim sebagai tuan rumah “rumah sendiri” juga terkesan kurang masif. Sebagai provinsi dengan basis suporter fanatik terbesar di Indonesia, seharusnya ada ikhtiar agresif seperti konvoi damai, side event festival keluarga, clinic bola bersama pemain U-17, atau undangan massal ke sekolah-sekolah sepak bola. Nyatanya, fokus utama hanya pada kesiapan stadion, bukan pada engagement penonton dan narasi jangka panjang “Ini investasi untuk Timnas besok”.
Akibatnya, event yang seharusnya membangun hype regenerasi justru berjalan datar. Padahal, banyak pemain U-17 yang moncer di Piala Dunia U-17 2023 lalu (seperti Arkhan Kaka dkk) membuktikan bahwa ajang ini efektif melahirkan talenta baru.
Kalau tribun tetap sepi, motivasi pemain bisa terganggu, dan peluang scouting talenta baru oleh pelatih senior menjadi terbatas. Harusnya lebih dari sekadar siapkan stadion. PSSI dan PSSI Jatim seharusnya treat AFF U-17 ini sebagai investasi strategis pembibitan, bukan event rutin.
Promosi berbasis narasi “Dukung bibit juara sekarang, panen prestasi di Timnas senior nanti” jauh lebih powerful daripada sekadar pengumuman teknis. Tiket lebih terjangkau untuk pelajar, paket bundling transportasi dari Surabaya, dan side event di luar stadion bisa jadi solusi sederhana agar tribun lebih hidup.
Laga melawan Malaysia besok (16 April) dan Vietnam (19 April) menjadi momentum terakhir untuk memperbaiki citra. Kalau PSSI dan PSSI Jatim tidak segera gerak cepat, dengan promosi gencar, up media mainstream, libatkan supporter lokal, dan buat experience penonton lebih menyenangkan — maka kritik soal keseriusan regenerasi akan semakin kencang.
Pembibitan Timnas bukan hanya soal pemain di lapangan, tapi juga soal dukungan dari tribun. Kalau gaungnya dibiarkan sepi seperti ini, siapa yang akan mewarisi mimpi Timnas juara di masa depan? (“)








