KabarBaik.co, Sidoarjo– Rentang usia calon jemaah haji (CJH) asal Sidoarjo tahun 2026 menghadirkan potret menarik, dari yang masih belia hingga yang sangat sepuh. Di balik ribuan jemaah yang bersiap menuju Tanah Suci, dua sosok ini menjadi gambaran kuat tentang panggilan ibadah haji yang melintasi usia.
Jemaah termuda tahun ini tercatat berusia 16 tahun, yakni M. Nur Al Maghfirah yang tergabung dalam Kloter 57 KBIH Al Ikhlas (KIROM). Dengan nomor porsi 1300675401, ia lahir pada 11 Maret 2010 dan menjadi salah satu jemaah paling muda yang akan menunaikan rukun Islam kelima dari Sidoarjo.
Di sisi lain, jemaah tertua adalah Raminten berusia 90 tahun , yang masuk dalam Kloter 116 Jabalnur. Dengan nomor porsi 1300661366 dan kelahiran 31 Desember 1935, Raminten menjadi simbol keteguhan dan semangat ibadah di usia senja.
Kasi Pelayanan Haji dan Fasilitasi Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah Kemenag Sidoarjo, Hamim Thohari, menjelaskan bahwa perbedaan usia yang cukup jauh ini menjadi tantangan tersendiri dalam proses persiapan keberangkatan.
Menurutnya, perhatian khusus diberikan terutama kepada jemaah lanjut usia (lansia) yang memiliki risiko tinggi secara medis. Dari total 2.691 jemaah asal Sidoarjo, sebanyak 431 orang masuk kategori lansia, dengan rincian 45 jemaah berusia 76 hingga 90 tahun dan 386 jemaah di rentang usia 65 hingga 75 tahun.
“Pemeriksaan kesehatan terus kami pantau, khususnya bagi jemaah lansia, terutama yang berusia di atas 75 tahun,” ujarnya saat dikonfirmasi KabarBaik.co, Rabu (22/4).
Kemenag Sidoarjo saat ini juga tengah mempercepat proses administrasi sembari menunggu hasil akhir pemeriksaan kesehatan. Kelayakan terbang para jemaah sepenuhnya mengacu pada rekomendasi tim medis yang memantau kondisi fisik secara berkala.
Untuk memastikan kesiapan seluruh jemaah, Kemenag bekerja sama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo dalam melakukan pemantauan intensif, khususnya bagi mereka yang memiliki penyakit penyerta.
Selain itu, peran keluarga juga dinilai penting, terutama dalam mendampingi jemaah lanjut usia selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
“Kami menyarankan adanya pendampingan dari keluarga selama menjalankan ibadah di Tanah Suci,” pungkas Hamim. (*)








