KabarBaik.co, Jember – Pemerintah Kabupaten Jember melalui Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) terus memperkuat kemandirian ekonomi kelompok rentan.
Hal ini diwujudkan melalui pelatihan keterampilan kuliner praktis yang digelar pada Rabu (1/4). Kegiatan ini merupakan langkah konkret dalam menyukseskan program prioritas Bupati Jember Gus Fawait, yakni Cinta Kelompok Rentan.
Sekretaris Dinsos PPPA Jember Sri Rahayu Wilujeng menjelaskan bahwa pelatihan kali ini sengaja memilih menu mancanegara yang sedang tren namun tetap disesuaikan dengan lidah lokal.
“Kami memberikan pelatihan pembuatan Sushi asal Jepang dan minuman Tepache khas Meksiko. Meski menunya dari luar negeri, pengolahannya telah dimodifikasi agar sesuai dengan bahan baku dan selera masyarakat Jember,” jelas Rahayu.
Pelatihan yang diikuti oleh 50 peserta ini menyasar kelompok strategis, mulai dari Anggota kelompok Kriya (Kreatif Berdaya Jember) dan pengemudi ojek online (ojol) perempuan.
Pemilihan peserta dari sektor informal bertujuan untuk memberikan alternatif pendapatan. Dengan keterampilan baru ini, para perempuan yang biasanya bekerja di jalanan diharapkan memiliki peluang membuka usaha kuliner dari rumah.
Dinsos PPPA menegaskan bahwa program ini tidak akan berhenti di kelas pelatihan saja. Sri Rahayu menekankan pentingnya Monitoring dan Evaluasi (Monev) untuk memastikan ilmu yang didapat benar-benar dipraktikkan.
“Harapan kami mereka terus berlatih di rumah. Jika ada kesulitan, kami sediakan ruang konsultasi dengan instruktur,” tambahnya.
Ke depan, jika peserta sudah mahir dalam tahap produksi, Dinsos PPPA berencana menggandeng Dinas Koperasi untuk memberikan pelatihan lanjutan terkait standardisasi kemasan (Packaging), strategi pemasaran digital dan pengembangan usaha mikro.
Sementara itu, Ketua Kartini Jember (komunitas ojol perempuan), Lesly Novitasari, menyambut baik inisiatif ini. Bagi perempuan yang telah menjadi ojol selama 9 tahun tersebut, fleksibilitas waktu profesinya sangat memungkinkan untuk menyerap ilmu baru.
“Dampaknya sangat positif. Ini menjadi sumber income tambahan bagi teman-teman ojol. Kami bisa mengatur waktu antara menarik penumpang dan mempraktikkan ilmu kuliner ini untuk dijual,” pungkas Lesly. (*)






