KabarBaik.co, Jember – Langkah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember meluncurkan program Homecare gratis mendapat sorotan positif dari kalangan akademisi. Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember Sasmiyanto menilai, strategi jemput bola ini sebagai bukti nyata hadirnya keadilan sosial di sektor kesehatan masyarakat.
Menurut Sasmiyanto, pemenuhan fasilitas kesehatan berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan warga. Kendati skema Universal Health Coverage (UHC) berbasis KTP di Jember telah mendorong keberanian warga untuk berobat, faktor biaya perjalanan dan letak geografis masih menjadi tembok penghalang bagi kelompok rentan.
“Fasilitas dan biaya pengobatan mungkin sudah ditanggung program UHC. Namun, tantangan utama warga di kawasan pinggiran adalah ongkos transportasi menuju Faskes Tingkat Pertama (FKTP) ataupun rumah sakit rujukan,” ungkap Sasmiyanto saat dikonfirmasi via telepon, Rabu (5/8).
Kondisi tersebut kerap membuat masyarakat berniat urung berobat dan memilih bertahan dengan penanganan ala kadarnya.
Oleh karena itu, diterjunkannya para tenaga kesehatan (nakes) secara langsung ke kediaman warga dianggap sebagai angin segar yang memangkas beban finansial dan jarak.
“Pendekatan langsung ke rumah warga ini merupakan terobosan yang sangat progresif. Pemkab Jember benar-benar hadir di tengah masyarakat, dan ini menjadi inovasi pionir yang belum tentu ada di wilayah lain,” terangnya.
Sasmiyanto menegaskan bahwa pemerataan layanan medis hingga ke ceruk pemukiman warga miskin merupakan pengejawantahan dari sila kelima Pancasila. Lewat Homecare, fasilitas medis berkualitas tidak lagi menjadi dominasi kelompok ekonomi mapan semata.
“Kami dari institusi akademis sangat mendukung keberlanjutan program ini. Homecare membuktikan bahwa layanan dokter atau nakes datang ke rumah kini tidak hanya milik warga mampu, tetapi juga hak masyarakat kurang mampu,” pungkasnya.(*)








