KabarBaik.co – Puluhan bangunan liar (bangli) yang berdiri di atas saluran air di Desa Gemurung, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo, akhirnya dibongkar paksa oleh petugas gabungan dari Satpol PP, Dinas PU, dan Dinas SDA. Pembongkaran dilakukan lantaran bangunan-bangunan tersebut dinilai menjadi penyebab utama tersumbatnya aliran air dan memicu banjir di kawasan timur Sidoarjo.
Kepala Satpol PP Kabupaten Sidoarjo, Yani Setyawan, mengungkapkan ada 22 bangli yang terdata berdiri tepat di atas saluran air. Dari jumlah tersebut, 13 bangunan telah dibongkar secara mandiri oleh pemiliknya, sementara sisanya masih berdiri karena masih dihuni.
“Jumlah banglinya ada 22, sekarang sisa 9 yang belum dibongkar karena masih ada penghuninya. Hari ini kita tertibkan yang sudah dibongkar mandiri. Ada yang bongkar sendiri, ada juga yang sempat minta ganti rugi, tapi kami tidak punya anggaran untuk itu,” kata Yani, Senin (29/4).
Yani menambahkan, program penertiban ini sebenarnya sudah dirancang sejak lama, bahkan sejak masa kepemimpinan bupati sebelumnya. Namun, prosesnya kerap mandek karena warga enggan membongkar bangunannya sendiri meski sudah diberi arahan dan sosialisasi.
“Ini kan lahan saluran air. Selama bangunan masih berdiri, normalisasi nggak bisa dilakukan. Akibatnya air dari perumahan sekitar nggak bisa mengalir, jadi banjir,” jelasnya.
Penertiban kali ini dilakukan secara bertahap. Untuk tahap awal, penertiban difokuskan pada saluran air sepanjang 200 meter yang selama ini mengalami penyumbatan. Setelah pembongkaran, pekerjaan normalisasi akan segera dilakukan oleh dinas terkait.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Sidoarjo, Dwi Eko Saptono, mengatakan pembongkaran ini merupakan bagian dari program bersama Dinas PU dan Dinas SDA untuk mengatasi banjir yang kerap terjadi di kawasan tersebut.
“Penertiban ini kita lakukan karena memang bangunan berdiri di atas saluran. Tahun ini kami belum sempat bersihkan salurannya, makanya kita ajukan izin ke bupati untuk penertiban ini. Targetnya dua hari pembongkaran, lalu dilanjutkan dengan normalisasi,” katanya.
Namun, pembongkaran ini menyisakan keluhan dan tangis dari warga yang terdampak. Salah satunya adalah Mahkur, 40, penjual nasi bebek yang sudah 14 tahun mencari nafkah di lokasi tersebut. Ia mengaku kaget karena merasa pembongkaran dilakukan mendadak.
“Kami ini cari nafkah buat keluarga. Anak masih tiga sekolah. Harapan kami bisa dikasih tempat relokasi untuk tetap bisa jualan,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan Sulaiman, 38, pedagang minuman, juga mengaku terpukul atas penggusuran tersebut. Ia mengaku sudah mendapat pemberitahuan, tetapi waktunya sangat mepet dan belum sempat bersiap.
“Kami cukup sedih karena bedak yang saya tempati ini merupakan satu-satunya penghasilan utama buat keluarga,” kata Sulaiman. (*)







