KabarBaik.co – Sekitar 20 pelaku usaha sektor pertanian di Jawa Timur mengikuti pertemuan dengan organisasi PUM Netherlands di Graha Kadin Jatim, Selasa (14/10). Pertemuan ini menjadi langkah awal penjajakan kerja sama untuk memperkuat kapasitas usaha sekaligus mendorong hilirisasi agar produk pertanian lokal memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Para peserta berasal dari berbagai komoditas unggulan, mulai kopi, bunga hias, mangga, hingga kayu gaharu. Mereka berdialog langsung dengan Agriculture Sector Manager PUM Netherlands, Frank Leenen, yang datang khusus ke Surabaya untuk melihat potensi pertanian Jawa Timur dari dekat.
Frank dikenal sebagai praktisi pertanian berpengalaman dengan rekam jejak di berbagai negara. Selain menjadi manajer sektor di PUM, ia juga petani aktif yang mendedikasikan dirinya pada pengembangan ekonomi lokal melalui praktik pertanian berkelanjutan.
“Visi kami adalah membantu pelaku usaha pertanian membangun masa depan yang lebih baik melalui berbagi pengalaman dan praktik terbaik. Kami tidak datang sebagai pengajar, tetapi sebagai mitra,” ujar Frank.
PUM merupakan organisasi nirlaba berbasis di Belanda yang beranggotakan para ahli dari Belanda, Belgia, dan beberapa negara Eropa lainnya. Alih-alih memberikan bantuan dana, PUM fokus pada pendampingan langsung dalam bentuk pelatihan, konsultasi, hingga mentoring personal. Setiap ahli PUM memiliki pengalaman profesional lebih dari empat dekade di bidangnya.
Program pendampingan dilakukan selama 9–10 hari di lapangan, kemudian dilanjutkan dengan sesi daring jika diperlukan. Pendampingan mencakup peningkatan kualitas produksi, manajemen pascapanen, strategi pemasaran, hingga pengembangan SDM perusahaan.
PUM menetapkan beberapa kriteria untuk perusahaan yang akan didampingi, di antaranya memiliki 10 hingga 250 pekerja, berstatus swasta, telah beroperasi minimal dua tahun, dan memiliki pendapatan antara 10 ribu hingga 5 juta euro per tahun. “Kami mencari pelaku usaha yang punya komitmen kuat untuk tumbuh, bukan sekadar yang terbesar,” tegas Frank.
Selain mendampingi pelaku usaha, PUM juga membuka peluang kolaborasi dengan sekolah kejuruan, lembaga pendidikan, dan komunitas lokal untuk menarik minat generasi muda terhadap dunia pertanian. “Kami ingin menjadi jembatan antara pengalaman global dengan potensi lokal,” katanya.
Dalam diskusi, terungkap bahwa komoditas pertanian Jawa Timur memiliki nilai ekonomi tinggi, namun masih banyak yang diekspor dalam bentuk mentah. Akibatnya, nilai tambah justru dinikmati oleh negara tujuan ekspor.
“Tantangan kita adalah memastikan nilai tambah itu tinggal di Indonesia. Hilirisasi dan diversifikasi sangat penting agar petani tidak hanya bergantung pada satu musim panen,” ujar Frank.
Ketua Umum Kadin Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, menyambut baik inisiatif ini. Ia menegaskan bahwa pertanian merupakan sektor strategis karena menjadi penyumbang terbesar ketiga terhadap PDRB Jawa Timur.
“Pendampingan seperti ini penting untuk memperkuat hilirisasi, terutama pada pengolahan pascapanen. Saat panen raya, harga sering jatuh. Teknologi pengolahan dapat menjadi solusi,” kata Adik.
Ia menambahkan, beberapa komoditas seperti mangga dan bunga hias memiliki potensi besar menembus pasar Eropa. PUM bahkan siap membantu menghadirkan benih unggul dari Belanda serta membuka akses pelatihan pengelolaan dan pemasaran agar produk Jawa Timur mampu bersaing di pasar global.
Dengan kolaborasi ini, pelaku usaha pertanian diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas produksi, tetapi juga memperluas jaringan ekspor. “Tujuan akhir kami adalah terciptanya ekonomi pertanian yang lebih besar, berdaya saing, dan berkelanjutan,” tutup Frank Leenen.






