Raja Malu

oleh -424 Dilihat
RAJA MALU

ADA satu kalimat pendek yang terasa ringan di bibir, tetapi sangat berat di dada: “Saya bertanggung jawab.”

Ricardo Salles tidak mengucapkannya keras-keras. Hanya menulis surat pengunduran diri pada 23 Juni 2021 setelah Amazon terbakar hebat. Deforestasi melonjak 22 persen di bawah kebijakannya. Ia sepertinya tahu kata-kata tak lagi cukup untuk membersihkan asap yang menutupi langit Brasil.

Constança Urbano de Sousa mengucapkannya jelas di depan wartawan Portugal pada 18 Oktober 2017. “Sistem pencegahan kebakaran yang saya awasi gagal total,” katanya, sehari setelah api merenggut 114 nyawa. Besoknya, kursinya kosong.

Marina Silva bahkan tidak perlu mengucapkannya. Hanya meninggalkan jabatannya sebagai Menteri Lingkungan Hidup Brasil pada 13 Mei 2008 dengan satu kalimat dingin: “Saya tidak mau jadi bagian dari kehancuran yang saya perjuangkan seumur hidup.” Amazon terus gundul, tetapi nuraninya tetap hijau.

Nikolaos Toskas paling cepat. Kebakaran Mati membakar 104 orang pada 23 Juli 2018. Pagi hari, 27 Juli, sudah berkata, “Saya bertanggung jawab atas koordinasi yang buruk,” lalu menyerahkan seragamnya. Yunani tercengang karena tak biasa melihat pejabat bergerak lebih cepat daripada api.

Keempat orang itu hanya contoh sebagian. Mereka tidak menunggu vonis pengadilan, tidak menunggu wakil rakyat berteriak, tidak menunggu banjir lumpur berikutnya. Mereka hanya melihat cermin, lalu memilih jalan paling sulit. Pulang dengan kepala tertunduk, tetapi hati masih utuh.

Di Indonesia? Kalimat yang sama seolah terlalu berat untuk diucapkan.

Per hari ini, 7 Desember 2025, Sumatera sudah mengubur 921 jenazah dan ratusan masih hilang. Anak-anak yang pagi hari masih berangkat sekolah, ibu-ibu yang sedang memasak, bapak-bapak yang baru pulang dari sawah, semuanya lenyap dalam hitungan menit ketika air bah datang membawa batu, kayu, dan lumpur.

Hujan memang deras. Tetapi tanah longsor tidak pernah menjadi tanah teguh sebelum pohon-pohonnya ditebang, sebelum hulu sungai disulap menjadi kebun monokultur, sebelum kawasan lindung jadi kawasan “multi-untung”.

Di kursi penjaga hutan duduk seorang yang Anda sudah tahu bernama Raja Juli Antoni.

Ruang kerjanya dingin. Tetapi entah mengapa, sejauh ini cermin di sana masih buram. Mungkin karena terlalu banyak asap dari kebakaran lahan tahun lalu yang belum hilang dari udara Jakarta. Mungkin juga karena kalimat pendek tadi belum pernah tercermin di sana.

Kita tidak sedang meminta darah. Kita tidak sedang meminta kepala di atas talam. Kita hanya ingin tahu apakah masih ada orang di Republik ini yang menganggap jabatan lebih ringan daripada nyawa rakyat yang sudah terkubur?

Tapi, ya sudahlah. Sejarah selalu mencatat dua macam pemimpin. Mereka yang pergi sebelum rakyat memaksanya pergi, dan mereka yang bertahan sampai rakyat lupa cara memaafkan.

Raja Malu ternyata adalah gelar termulia yang bisa diraih seorang pejabat. Karena hanya orang yang masih punya malu yang berani mengakui bahwa ada batas antara “saya bisa memperbaiki” dan “saya sudah terlambat memperbaiki.”

Sumatera sedang menangis pelan. Bukan karena hujannya belum berhenti. Tetapi karena masih menunggu satu kalimat pendek yang entah kapan akan tiba. “Saya bertanggung jawab.”

Kalimat itu takkan mengembalikan yang sudah pergi. Tetapi, setidaknya akan mengembalikan sedikit martabat kita sebagai bangsa yang masih tahu arti kata malu. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini



No More Posts Available.

No more pages to load.