Ramadan Terakhir Raja, Bocah 12 Tahun Bojongsari yang Ingin Jadi Kiai

oleh -105 Dilihat

KabarBaik.co, SukabumiSeharusnya awal Ramadan lalu, 19 Februari 2026, Nizam Syafei (NS) kembali ke pesantren. Sudah dua pekan liburan. Namun, awal puasa itu justru menjadi hari terakhir hidupnya. Bocah 12 tahun itu diduga menjadi korban penyiksaan sang ibu tiri.

Desa Bojongsari terhampar asri di kaki perbukitan Jampangkulon, Sukabumi. Sawah hijau dan kebun kelapa membentang luas. Kabut tipis pagi hari sering menutupi ladang, sementara suara ayam berkokok dan gemericik air selokan menambah kesan damai. Rumah-rumah sederhana berdinding kayu dan bata tersebar di antara pekarangan penuh sayur dan bunga.

Suasana tenang dan jauh dari hiruk-pikuk kota, Bojongsari menciptakan ruang yang seharusnya aman bagi tumbuh kembang anak. Namun, hari itu ketenangan Bojongsari terusik. Tragedi memilukan terjadi, tepatnya di Kampung Talagasari. Di sebuah rumah sederhana, tangis terdengar. Mungkin di sudut ruangan, tas dan pakaian mondok milik NS masih jadi saksi, seolah menunggu pemiliknya pulang dan kembali berangkat menuntut ilmu.

NS, akrab disapa Raja, hari itu seharusnya kembali ke Pondok Pesantren Darul Ma’arif Cibitung pada awal Ramadan. Asrama yang tengah direnovasi hampir rampung, dan para santri dijadwalkan masuk untuk melanjutkan belajar dan beribadah bersama.

Bagi NS, Ramadan tahun ini mestinya menjadi momen istimewa. Kembali bertemu teman-temannya, kembali mengaji, kembali mengejar cita-cita yang pernah diucapkan: ingin menjadi kiai.

Namun takdir berkata lain. Alih-alih berangkat ke pesantren, NS justru terbaring lemah di ruang perawatan RSUD Jampangkulon, dengan tubuh dipenuhi luka bakar. Tak ayal, kondisi itu membuat Anwar Satibi, sang ayah kandung, sangat terkejut. Tak pernah membayangkan akan melihat anaknya dalam kondisi seperti itu.

Sebelum berangkat bekerja ke luar kota, ia masih melihat NS dalam kondisi sehat, bercanda, dan beraktivitas seperti biasa. Telepon dari istrinya hanya menyebut sang anak demam tinggi. Namun, yang ia temukan di rumah membuat dadanya serasa runtuh. Kulit anaknya melepuh di kaki, punggung, tangan, hingga wajah, seperti tersiram air mendidih. Beberapa bagian bahkan sudah menghitam.

Penjelasan bahwa luka itu akibat “sakit panas” terasa janggal. Hatinya sebagai ayah menolak. Tidak percaya.

Di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS, dalam kondisi setengah sadar dan menahan sakit, NS akhirnya mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi. Video amatir itu viral. Dengan suara lirih, ia mengaku dipukul dan dipaksa meminum air panas. Pengakuan itu menjadi percakapan terakhir antara ayah dan sang anak.

Nahas, tak lama setelah dipindahkan ke ruang intensif, nyawa bocah tersebut tak tertolong.

Kabar kepergiannya cepat menyebar, termasuk ke lingkungan pesantren. Pimpinan pesantren mengaku terpukul dengan kabar duka itu.

Selama mondok, NF dikenal sebagai santri yang aktif, sopan, dan jenaka. Mudah bergaul dan jarang terlihat murung. Sehari sebelum liburan panjang, bahkan bocah itu masih bermain bola di halaman sekolah bersama teman-temannya. Tak ada tanda sakit, apalagi penderitaan.

“Anaknya ceria sekali,” kenang Abdurrahman seperti disampaikan ke awak media, mengingat bagaimana NF selalu bersemangat mengikuti kegiatan pesantren.

Hasil autopsi yang dilakukan di RS Bhayangkara Tingkat II Setukpa Lemdiklat Polri Sukabumi menunjukkan adanya luka bakar di hampir seluruh tubuh korban. Bagian kaki, punggung, lengan, tangan, hingga area bibir dan hidung mengalami kerusakan akibat panas. Organ jantung dan paru-paru ditemukan sedikit membengkak, sementara sampel organ dikirim ke laboratorium untuk pemeriksaan lanjutan.

Penyelidikan kasus ini kini ditangani Polres Sukabumi untuk memastikan penyebab pasti kematian.

Di balik tragedi itu, tersimpan cerita lama yang kembali menghantui. Kabarnya, setahun sebelumnya NS pernah mengalami kekerasan serupa. Kala itu, ia berkelahi dengan seorang anak angkat ibu tirinya. Perbedaan usia mereka cukup jauh. Anak angkat tersebut duduk di kelas 2 SMA, sementara NS masih kelas 6 SD. Setiap terjadi pertengkaran, justru NS yang mendapat pukulan. Tubuhnya sempat penuh lebam.

Ayah NS disebut sempat melaporkan kejadian itu ke polisi. Namun, kasus berakhir mediasi damai setelah sang istri memohon maaf dan berjanji berubah. Laporan itu tak pernah benar-benar dicabut, seakan menyisakan kegelisahan yang kini terasa sebagai penyesalan.

Kini, yang tersisa hanya kenangan tentang bocah yang bercita-cita menjadi orang alim. Di rumahnya, beberapa buku pelajaran mungkin masih tertinggal. Alquran kecil dan seragam pesantren hingga sarung teronggok di balik pintu. Semua benda itu seolah menunggu NS kembali, padahal pemiliknya tak akan pernah lagi pulang. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.