Rekor! Ketidakpuasan pada Donald Trump di Jurang Terendah

oleh -111 Dilihat
image 4

KabarBaik.co, Jakarta— Rekor! Hanya 36% warga Amerika Serikat (AS) yang puas dengan kinerja Presidennya, Donald Trump. Sedangkan 62% menyatakan tidak puas. Angka ini menjadi terendah sejak Trump kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025. Data ini merujuk jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dirilis 24 Maret 2026.

Penurunan tajam tersebut terjadi hanya dalam hitungan minggu. Sebelumnya, pada survei 17–19 Maret, approval rating Trump masih berada di 40%. Kini, ratingnya merosot 4 persen. Ketidakpuasan publik AS itu didorong dua faktor utama. Yakni, lonjakan harga bahan bakar akibat perang dengan Iran dan ketidaksetujuan luas terhadap penanganan konflik tersebut.

Di awal masa jabatan keduanya, Trump sempat menikmati approval rating sekitar 47%, angka yang relatif solid untuk seorang presiden baru. Namun, dalam waktu lebih dari setahun, popularitasnya terus meluncur turun. Kini, rata-rata agregat berbagai survei nasional AS menunjukkan approval di kisaran 36–40%, dengan disapproval mencapai 56–62%.

Mayoritas publik AS — lebih dari 6 dari 10 orang — kini tidak puas dengan cara Trump menjalankan tugas kepresidenan. Penurunan ini terutama terasa di kalangan pemilih independen dan pada isu-isu kunci seperti ekonomi dan kebijakan luar negeri.

Survei Reuters/Ipsos menyoroti bahwa kenaikan harga bahan bakar (fuel prices surge) menjadi pukulan telak bagi citra Trump. Banyak responden merasa terdampak langsung oleh biaya hidup yang semakin mahal, sementara dukungan terhadap serangan militer AS ke Iran juga terus menurun.

Tren tersebut konsisten dengan survei lain di Maret 2026, seperti CBS News/YouGov (40% approve) dan Economist/YouGov (sekitar 38–39%). Meski beberapa polling partisan seperti Rasmussen masih menunjukkan angka sedikit lebih tinggi, gambaran keseluruhan tetap menempatkan Trump di wilayah “underwater”. Approval jauh di bawah disapproval.

Dengan posisi popularitas yang lemah ini, Partai Republik menghadapi tantangan berat menjelang Pemilu midterm November 2026. Secara historis, partai yang berkuasa cenderung kehilangan kursi ketika approval presiden rendah. Sementara itu, peluang impeachment Trump di tahun 2026 tampaknya masih kecil. Sebab, Partai Republik masih menguasai Kongres, meski odds di pasar prediksi (prediction market) mulai merangkak naik jika Demokrat berhasil merebut House.

Trump sendiri memenangkan Pemilu 2024 dengan margin tipis berkat isu ekonomi dan imigrasi. Namun, kini narasi publik bergeser: dari harapan perbaikan ekonomi menjadi kekecewaan atas dampak perang dan inflasi bahan bakar.

Apakah ini awal dari penurunan yang lebih dalam, atau ke depan Trump mampu membalikkan tren? Publik AS kini menunggu langkah selanjutnya dari Gedung Putih di tengah tekanan ekonomi dan geopolitik yang semakin berat. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini



No More Posts Available.

No more pages to load.