KabarBaik.co, Surabaya – Kabar duka meninggalnya Ketua DPRD Kota Surabaya Adi Sutarwijono menyisakan kesedihan mendalam bagi kolega dan insan politik. Anggota DPR RI Komisi X, Reni Astuti, menyampaikan rasa duka cita yang sedalam-dalamnya atas kepergian sosok yang telah lama menjadi rekan kerjanya di legislatif.
“Saya turut berduka cita sedalam-dalamnya atas meninggalnya Pak Adi Sutarwijono. Kabar ini tentu membuat duka dan sangat mengagetkan,” ujar Reni Astuti saat memberikan pernyataan kepada media, Kamis (12/2).
Reni mengenang perjalanan panjang kebersamaannya dengan almarhum sejak periode 2009-2014 saat keduanya sama-sama bertugas di Komisi C DPRD Surabaya. Kedekatan tersebut berlanjut secara intens pada periode berikutnya, di mana keduanya bersinergi sebagai sesama pimpinan DPRD Kota Surabaya.
Di mata Reni, Adi Sutarwijono adalah pribadi yang memiliki karakter khas yang sulit dilupakan. “Saya mengenal sosok beliau sebagai orang yang sederhana, tenang, dan sangat teguh dalam memegang prinsip. Itu yang paling melekat di benak saya tentang Pak Adi,” kenangnya.
Meski dikenal memiliki prinsip yang kuat, Reni menekankan bahwa almarhum adalah politisi yang sangat terbuka. Sebagai pimpinan dewan, Adi dinilai sangat akomodatif dalam menerima saran dan masukan dari sesama politisi maupun pimpinan lainnya.
“Beliau memberikan ruang bagi kami untuk berdiskusi, terutama saat harus menyikapi kebijakan pemerintah kota atau menindaklanjuti tahapan-tahapan di DPRD. Beliau punya prinsip, tapi selalu ada ruang untuk mengakomodir masukan demi kepentingan bersama,” tambah politisi yang kini berkantor di Senayan tersebut.
Reni mengungkapkan bahwa komunikasi terakhirnya secara langsung terjadi pada tahun 2025. Setelah itu, ia terus memantau aktivitas almarhum melalui pemberitaan media. Selain sisi profesional, Reni juga memberikan catatan personal mengenai figur almarhum di luar politik.
“Selain sebagai politisi hebat, saya melihat beliau juga sebagai sosok family man (sangat menyayangi keluarga),” tutupnya.
Kepergian Adi Sutarwijono menjadi kehilangan besar bagi dinamika politik di Surabaya, mengingat peran krusialnya dalam menjembatani berbagai aspirasi selama menjabat sebagai pimpinan dewan. (*)






