Riset Internasional Terbaru: Puasa Ramadan Bantu Turunkan Stres dan Depresi

oleh -98 Dilihat

KabarBaik.co, Jakarta,- Puasa Ramadan selama ini dikenal luas membawa manfaat spiritual. Namun, penelitian ilmiah terbaru menunjukkan bahwa dampaknya bukan hanya pada sisi keagamaan, melainkan juga kesehatan mental. Sebuah tinjauan ilmiah internasional berskala besar menemukan bahwa puasa Ramadan berpotensi menurunkan tingkat stres, kecemasan, hingga gejala depresi pada banyak orang.

Temuan ini berasal dari sebuah systematic review yang dipublikasikan melalui penerbit akademik global Springer Nature,yang menganalisis berbagai studi tentang efek puasa Ramadan terhadap kondisi psikologis dan fungsi kognitif.

Dalam analisis tersebut, para peneliti mengumpulkan dan mengevaluasi sejumlah penelitian dari berbagai negara dengan latar belakang peserta yang beragam, mulai dari individu sehat hingga kelompok masyarakat umum. Hasilnya menunjukkan pola yang cukup konsisten: banyak peserta melaporkan perbaikan suasana hati, penurunan tingkat kecemasan, serta berkurangnya gejala depresi selama menjalani puasa.

“Secara umum, praktik puasa intermiten seperti Ramadan tampaknya memberikan efek positif pada kesejahteraan psikologis,” tulis para peneliti dalam laporan mereka.

Selain kesehatan mental, beberapa studi yang dianalisis juga mencatat adanya peningkatan fungsi kognitif tertentu, seperti konsentrasi dan kejernihan berpikir. Peneliti menduga hal ini berkaitan dengan perubahan metabolisme tubuh saat puasa, termasuk stabilisasi kadar gula darah dan respons hormon stres yang lebih terkendali.

Namun, manfaat tersebut tidak datang tanpa catatan.

Satu temuan penting dari review ini adalah penurunan kualitas tidur pada sebagian besar peserta. Perubahan pola makan dan jadwal ibadah—seperti sahur dini hari dan aktivitas malam hari—membuat durasi tidur lebih pendek atau terfragmentasi. Kurang tidur dalam jangka panjang bisa memengaruhi fokus, produktivitas, hingga kesehatan fisik.

Artinya, meski puasa dapat membantu suasana hati, kebiasaan tidur yang terganggu berpotensi mengurangi sebagian manfaat tersebut.

Para peneliti menekankan bahwa efek puasa juga sangat bergantung pada gaya hidup selama Ramadan. Orang yang tetap menjaga pola makan seimbang, cukup minum, dan tidur teratur cenderung merasakan manfaat lebih besar dibanding mereka yang begadang, kurang hidrasi, atau mengonsumsi makanan berlebihan saat berbuka.

“Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga bagaimana mengatur ritme hidup secara menyeluruh,” ujar salah satu penulis studi.

Temuan ini juga memperkuat gagasan bahwa praktik puasa Ramadan memiliki kemiripan dengan konsep intermittent fasting yang banyak diteliti dalam ilmu kedokteran modern. Sejumlah riset sebelumnya menunjukkan pola makan berbasis waktu tertentu dapat membantu regulasi metabolisme, peradangan, serta kesehatan mental.

Meski demikian, peneliti mengingatkan bahwa bukti ilmiah yang tersedia masih memiliki keterbatasan. Banyak studi yang dianalisis berskala kecil atau observasional, sehingga diperlukan penelitian lanjutan dengan desain yang lebih ketat untuk memastikan hubungan sebab-akibat.

Bagi masyarakat yang akan menjalani puasa, para ahli menyarankan beberapa langkah sederhana agar manfaat kesehatan lebih optimal: tidur cukup 6–8 jam per hari, menghindari begadang berlebihan, memilih makanan bergizi saat sahur dan berbuka, serta tetap melakukan aktivitas fisik ringan.

Dengan pendekatan yang tepat, Ramadan tidak hanya menjadi momen refleksi spiritual, tetapi juga kesempatan memperbaiki kesehatan mental dan gaya hidup. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.