Rita Kurniati: Setter Legendaris 47 Tahun, Penjaga Popsivo Polwan di Proliga 2026

oleh -389 Dilihat
IMG 20260213 142700

KabarBaik.co, Bojonegoro – Atmosfer panas tersaji di GOR Utama Bojonegoro hari ini, Jumat (13/2). Sore dan malam, mata publik voli nasional tertuju pada dua duel krusial lanjutan Proliga 2026 pekan keenam. Pertama, Jakarta Pertamina Enduro vs Livin Mandiri. Kedua, Jakarta Popsivo Polwan melawan Electric PLN Mobile.

​Laga tersebut bukan sebatas perebutan poin biasa, melainkan laga “hidup-mati” bagi keempat tim tersebut. Karena itu, disebut sebagai Jumat Keramat. Maklum, kemenangan menjadi sangat penting bagi masing-masing tim untuk memastikan tiket final four. Sebaliknya, kekalahan bisa jadi batu sandungan besar.

​Khusus bagi Popsivo Polwan, kemenangan tampaknya tidak bisa ditawar. Sebab, mereka masih tertahan di posisi kelima klasemen dengan raihan 12 poin. Nah, di tengah ketegangan menuju perebutan tiket final four, satu pertanyaan besar menyelimuti tribun penonton dan jagat maya. Akankah sang Manajer, Iptu Rita Kurniati, kembali melepaskan jaket ofisialnya dan “turun gunung” langsung ke medan laga?

Belakangan, kehadiran sosok legendaris berusia 47 tahun ini menjadi magnet tersendiri. Sebab, hal itu merupakan sebuah momen langka di mana kematangan strategi seorang manajer bisa sewaktu-waktu berubah menjadi sentuhan magis seorang setter di atas arena.

​Lahir pada 27 September 1978, Rita Kurniati bukanlah sekadar nama dalam daftar susunan pemain Popsivo Polwan. Ia seperti monumen hidup sejarah voli putri Indonesia. Kariernya yang membentang lebih dari dua dekade adalah manifestasi dari dedikasi tanpa henti.

Sebagai mantan pilar Timnas voli putri, Rita adalah bagian dari generasi emas yang menyumbangkan medali perunggu pada SEA Games 2003 dan 2005. Puncaknya, membantu Merah Putih menggondol medali perak pada kejuaraan antarnegara Asia Tenggara tahun 2007 di Thailand.

Di level domestik, namanya melegenda saat membawa DKI Jakarta merengkuh medali emas PON 2001, sebuah pencapaian yang hingga kini dianggap sebagai salah satu standar tertinggi kualitas setter di tanah air. Kemampuannya dalam membaca arah blok lawan dan memberikan umpan manja yang akurat, membuatnya dijuluki sebagai jenderal lapangan yang tak tertandingi pada masanya. Cerdas sekaligus licin.

​Kejayaan Rita di level klub mencapai puncaknya bersama Jakarta Popsivo Polwan, yang sebelumnya bernama PGN Popsivo Polri. Ia adalah arsitek serangan yang membawa tim tersebut meraih gelar juara Proliga dua kali berturut-turut pada musim 2012 dan 2013. Prestasi individunya pun mentereng dengan dua kali gelar Best Setter Proliga pada tahun 2012 dan 2014.

Setelah sempat menyatakan pensiun secara resmi pada 2017 untuk fokus pada karier kepolisiannya, kerinduan pada atmosfer kompetisi tampaknya tak pernah benar-benar padam. Dia sempat melakukan pemanasan non-profesional dengan membawa tim Kalimantan Barat menjuarai Kapolri Cup 2023. Kini, di Proliga 2026, kembalinya Rita bukan sekadar aksi nostalgia, melainkan sebuah misi untuk menjaga marwah tim melalui peran ganda sebagai Manager-Player.

​Dinamika kembalinya “Emak Rita”, sebutan akrab yang diberikan netizen, menjadi semakin emosional karena faktor keluarga. Proliga 2026 menjadi saksi sejarah langka. Betapa tidak, seorang ibu berkompetisi di liga yang sama dengan kedua putra kandungnya yang juga berposisi sebagai setter. Putra sulungnya, Alfin Daniel Pratama, kini telah menjelma menjadi salah satu setter terbaik, memperkuat Jakarta Bhayangkara Presisi dan menjadi bagian penting dari skuad Timnas yang meraih perak SEA Games 2025.

Alfin juga sukses membawa klubnya menjuarai Proliga musim 2024 dan 2025. Sementara itu, putra keduanya, Muhammad Setya Bima Putra Kurniawan, tengah menapaki jejak sang ibu bersama tim Jakarta Garuda Jaya. Dengan suami, Iwan Dedi Setyawan, yang aktif sebagai pelatih profesional, keluarga ini adalah potret nyata “Dinasti Voli” Indonesia. Garis keturunan mereka seolah dialiri oleh darah setter yang terus mengalirkan umpan-umpan emas dari generasi ke generasi.

​Perjalanan karier Rita sebagai abdi negara pun berjalan paralel dengan prestasi olahraganya. Sejak direkrut Polri melalui jalur prestasi pada 1998, ia memulai tugas dinasnya di Ditlantas Polda Metro Jaya, Jakarta. Setelah PON 2008, ia dipindahkan ke Jawa Timur dan bertugas di Polres Sidoarjo (2010–2013), menjabat sebagai KBO Binmas serta Kaur Administrasi Satlantas, termasuk sempat bertugas di Polsek Porong.

Kariernya terus berkembang saat ia dimutasi ke Polres Gresik pada 2017 sebagai Kanit Regident Satlantas di Samsat Kebomas, sebelum akhirnya bertugas di Polres Lamongan sebagai Kanit Regident. Hingga kini di tahun 2026, Rita masih aktif menjaga disiplin institusi. Karier kepolisian yang stabil ini menjadi bukti dedikasi gandanya sebagai ibu, perwira, dan atlet legendaris yang tetap menjaga stamina dengan hobi motor trail—bak mesin tua yang masih menderu kencang di lintasan berat.

​Menganalisis gaya permainan antara Rita Kurniati dan Alfin Daniel Pratama adalah seperti membandingkan dua mahakarya dari era yang berbeda, namun memiliki satu benang merah: kecerdasan taktis di atas rata-rata. Rita adalah representasi dari “setter klasik” yang sangat mengandalkan akurasi dan ketenangan. Sentuhan tangannya sangat lembut, memberikan kenyamanan maksimal bagi para spiker.

Sebagai setter era 2000-an, Rita sangat mahir dalam permainan bola-bola open dan semi, dengan penempatan bola yang sangat presisi hingga ke ujung garis lapangan. Sebaliknya, Alfin Daniel membawa gaya setter modern yang jauh lebih agresif, eksplosif, dan dinamis.

Jika Rita adalah sang konduktor orkestra yang tenang, Alfin adalah jenderal lapangan yang penuh kejutan dengan pola serangan cepat (quick attack) dan bola-bola pipe yang membutuhkan sinkronisasi waktu sangat ketat. Tapi, keduanya mewarisi “darah dingin” yang sama dalam mengambil keputusan di poin-poin kritis.

​Kehadiran Rita di lapangan musim ini memberikan dimensi baru bagi Popsivo Polwan. Disiplin korps Bhayangkara tercermin kuat dalam caranya memimpin tim. Saat di lapangan, ia adalah “kompas” bagi para pemain muda.

Perannya sebagai manajer memungkinkannya membangun chemistry yang kuat di ruang ganti, sementara perannya sebagai pemain memberikan instruksi teknis langsung saat pertandingan berlangsung. Kehadirannya menjadi jembatan antara masa lalu voli putri yang gemilang dengan masa depan yang kini diwakili oleh pemain muda berbakat seperti Gabriella Rompis yang baru berusia 14 tahun.

​Viralnya aksi Rita di media sosial menunjukkan betapa besarnya kerinduan publik akan sosok legenda yang bersahaja, namun tangguh. Rita Kurniati telah membuktikan bahwa usia hanyalah angka dalam sebuah kartu identitas. Melalui Proliga 2026, ibu tiga anak itu mengajarkan kepada generasi muda bahwa semangat juang, disiplin sebagai abdi negara, dan cinta pada olahraga adalah bahan bakar utama untuk terus berkarya.

Kisah Emak Rita adalah bab baru yang mengharukan sekaligus membanggakan dalam sejarah olahraga Indonesia; seorang ibu yang tidak hanya mewariskan bakat kepada anak-anaknya, melainkan juga berdiri gagah di lapangan yang sama untuk menunjukkan bahwa api gairah voli dalam dirinya tak akan pernah padam oleh waktu. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.