KabarBaik.co, Surabaya – Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Surabaya melaksanakan pemantauan hilal (rukyatul hilal) untuk menetapkan awal Ramadan 1447 Hijriah pada Selasa (17/2). Meski kondisi cuaca di Surabaya terpantau terang, posisi hilal secara astronomis diprediksi mustahil untuk dilihat.
Kegiatan pemantauan dipusatkan di gedung baru Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, Jalan Kedinding Lor No. 99, Kenjeran, Surabaya. Berada di ketinggian 90 meter, tim ahli dan jajaran Lajnah Falakiyah dari tingkat cabang hingga kecamatan telah bersiaga dengan peralatan lengkap sejak pukul 16.00 WIB.
Ketua LFNU Surabaya, Soelaiman, menyatakan bahwa seluruh persiapan teknis, mulai dari lokasi hingga perhitungan hisab, telah matang. Namun, hasil perhitungan menggunakan tiga metode—Ephemeris, Tsamarat al-Fikar, dan Al-Dur al-Aniq—menunjukkan posisi hilal masih berada di bawah ufuk.
“Hasil perhitungan kami menunjukkan ketinggian hilal berada pada posisi minus, yaitu antara -1°05′ hingga -1°55′. Bahkan, di titik paling barat Indonesia seperti Sumatera pun posisinya masih minus. Jadi, kemungkinan besar hilal tidak akan terlihat di Surabaya,” jelas Soelaiman di lokasi pemantauan.
Tetap Jalankan Syariat
Meski secara sains posisi hilal sulit terpantau, LFNU Surabaya tetap melaksanakan rukyatul hilal tepat saat matahari terbenam pada pukul 17.53 WIB. Menurut Soelaiman, hal ini merupakan bagian dari menjalankan perintah syariat serta prosedur organisasi dan kenegaraan dalam menentukan penanggalan Hijriah.
“Kami tetap melaksanakan perintah rukyat. Hasilnya nanti akan dilaporkan secara berjenjang ke Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Kementerian Agama RI sebagai bahan pertimbangan dalam Sidang Isbat,” tambahnya.
Prediksi Mulai Puasa
Jika hilal tidak berhasil terlihat (istikmal), maka bulan Sya’ban akan digenapkan menjadi 30 hari. Dengan demikian, warga Nahdliyin kemungkinan besar baru akan memulai ibadah puasa pada Kamis mendatang, dengan pelaksanaan salat Tarawih pertama pada Rabu malam.
“Namun, kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan menunggu keputusan resmi dari PBNU serta pengumuman pemerintah melalui Menteri Agama,” tegas Soelaiman.
Kegiatan rukyatul hilal ini merupakan agenda rutin bulanan LFNU Surabaya. Pasca-pandemi, koordinasi dan dukungan peralatan pemantauan kini semakin mapan. Soelaiman berharap, lokasi di Kenjeran ini ke depannya dapat terus dikembangkan menjadi Balai Rukyat Nasional yang representatif di Jawa Timur. (*)






