Rupiah Jebol Rp 17.500 per Dolar AS, Alarm Baru bagi Ekonomi Indonesia

oleh -216 Dilihat
RUPIAH

KabarBaik.co, Jakarta- Belum lama menerima kabar baik dari BPS tentang pertumbuhan ekonomi kuartal (Q1) yang menembus 5,61 persen, belakangan publik mendengar alarm yang tampaknya makin nyaring. Nilai tukar rupiah resmi kembali mencatatkan titik terlemah sepanjang sejarah setelah menembus level psikologis Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (12/5/2026).

Merujuk data Bloomberg, di sepanjang tahun 2026, mata uang garuda sudah mencatatkan penurunan sebesar 4,75%, hanya lebih baik dibandingkan dengan India yang mencatatkan penurunan sebesar 6,02% di sepanjang tahun. Adapun Peso, Won dan Baht masing-masing mencatatkan penurunan sebesar 4,24%, 3,43% dan juga 2,75%, di sepanjang tahun ini.

Pelemahan tajam ni tentui bukan sekadar angka di layar pasar keuangan. Tapi, sinyal meningkatnya tekanan terhadap ekonomi nasional di tengah kombinasi sentimen global dan domestik yang tampaknya terasa kian berat.

Sepanjang perdagangan hari ini (12/5), rupiah bergerak di kisaran Rp 17.505 hingga Rp 17.520 per dolar AS sebelum akhirnya ditutup melemah di level sekitar Rp 17.500–Rp 17.529 per dolar AS. Berdasarkan data pasar spot dan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, mata uang Garuda turun sekitar 115 poin atau 0,66 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.414 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh penguatan dolar AS secara global yang masih didorong ekspektasi suku bunga tinggi Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) bertahan lebih lama. Pelaku pasar bahkan memperkirakan Fed Fund Rate (FFR) belum akan turun sepanjang 2025.

Di saat bersamaan, ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut membuat investor global beralih ke aset safe haven seperti dolar AS. Kenaikan harga minyak dunia akibat konflik tersebut turut memperbesar tekanan terhadap negara berkembang, termasuk Indonesia yang masih bergantung pada impor energi dan bahan baku tertentu.

Dari dalam negeri, sejumlah Ekonom mengungkapkan bahwa sentimen pasar juga dibayangi kekhawatiran terhadap arus keluar modal asing serta persepsi investor terhadap pasar keuangan Indonesia. Isu terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang sebelumnya menyoroti aspek transparansi dan struktur pasar modal Indonesia dinilai ikut meningkatkan kehati-hatian investor global terhadap aset domestik.

Selain itu, pasar menyoroti meningkatnya kebutuhan fiskal pemerintah di tengah pelemahan rupiah. Program prioritas nasional seperti makan siang gratis (MBG) senilai sekitar 30 miliar dolar AS menjadi perhatian investor karena dinilai dapat memperlebar tekanan terhadap APBN ketika penerimaan negara belum sepenuhnya pulih.

Kekhawatiran lain datang dari kebutuhan pembayaran utang luar negeri korporasi yang meningkat pada periode April–Mei, sehingga permintaan dolar AS di pasar domestik ikut melonjak.

Sejatinya, pihak Bank Indonesia (BI) beberapa kali menegaskan bahwa kondisi ekonomi nasional masih cukup kuat menghadapi tekanan tersebut. Fundamental Indonesia tetap resilien dengan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5,61 persen dan cadangan devisa yang dinilai memadai. Mereka menyebut nilai tukar rupiah saat ini sudah berada di level undervalued.

Selain itu, intervensi di pasar valuta asing, baik melalui pasar spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), guna meredam volatilitas rupiah juga terus dilakukan. Pemerintah pun menyatakan kesiapan membantu stabilisasi pasar obligasi untuk menjaga kepercayaan investor.

Meski demikian, dampak pelemahan rupiah tersebut tentu saja makin terasa di berbagai sektor. Kenaikan biaya impor berpotensi memicu imported inflation atau inflasi impor, terutama pada bahan baku industri, energi, hingga barang konsumsi. Jika tekanan berlangsung lama, harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak dapat ikut terdorong melonjak.

Di pasar modal, sentimen negatif turut menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah lebih dari satu persen. Sektor properti, konstruksi, dan industri berbasis impor diperkirakan menjadi yang paling rentan karena kenaikan biaya produksi.

Namun sejumlah ekonom menilai kondisi saat ini masih berbeda dibanding krisis moneter 1998. Cadangan devisa Indonesia jauh lebih besar, sistem perbankan lebih kuat, dan koordinasi fiskal serta moneter dinilai lebih siap menghadapi gejolak eksternal.

Yang jelas, pelemahan rupiah ke level terendah sepanjang sejarah menjadi pengingat bahwa ekonomi Indonesia masih sangat sensitif terhadap dinamika global. Stabilitas nilai tukar dalam beberapa waktu ke depan akan sangat ditentukan oleh arah kebijakan global, perkembangan geopolitik dunia, dan tidak kalah pentingnya sejauh mana kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan pasar terhadap kondisi fiskal domestik.

Kondisi saat ini juga mendapatkan atensi dari Presiden ke-6 Susilo Bambany Yudhoyono (SBY). Dalam cuitannya di akun X (dulu Twitter, Red), pada Selasa (12/5), SBY juga menyebut kurang menggembirakan. Berikut unggahannya:

Saya, sambil melukis di Magelang, mengikuti perkembangan dan dinamika pasar. Baik pasar modal maupun pasar uang. Memang, kurang menggembirakan. Tetapi, saya berpendapat, tekanan ekonomi yang lebih berat masih dapat dicegah. Tentu something must be done. Kita masih memiliki “political & economic resources”. Opsi & solusi masih tersedia. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, pemerintah, dunia usaha, para ekonom dan seluruh pemangku kepentingan “must be on board”. In crucial things unity. Mutual trust mesti dibangun bersama. Mari kita berikan kesempatan dan dukungan kepada pemerintah. Insya Allah Indonesia Bisa. *SBY”

 

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini



No More Posts Available.

No more pages to load.