Rupiah Terus Melemah, Kadin Jatim Desak Pemerintah Realokasi Anggaran untuk Dongkrak Ekonomi

oleh -149 Dilihat
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Adik Dwi Putranto.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Adik Dwi Putranto.

KabarBaik.co, Surabaya — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang mencapai Rp 17.646 per dolar AS pada Kamis (21/5) mulai memberikan tekanan serius terhadap dunia usaha nasional.

Kondisi tersebut dinilai tidak hanya membebani biaya produksi industri, tetapi juga mengancam daya beli masyarakat hingga berpotensi memicu pemutusan hubungan kerja (PHK).

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Adik Dwi Putranto mengatakan, dampak pelemahan rupiah kini mulai dirasakan hampir di seluruh sektor usaha, terutama industri yang masih bergantung pada bahan baku impor.

“Pelemahan nilai tukar rupiah memberikan dampak berlapis terhadap dunia usaha dan industri nasional. Mulai dari kenaikan biaya produksi, melemahnya daya saing industri, hingga tekanan terhadap daya beli masyarakat,” kata Adik di Surabaya.

Menurutnya, kenaikan biaya produksi menjadi dampak paling nyata akibat melemahnya rupiah. Sebab, sebagian besar kebutuhan bahan baku industri nasional masih didominasi impor yang transaksi pembeliannya menggunakan dolar AS.

Ia menyebut sejumlah komoditas seperti besi, baja, plastik, bahan kimia, hingga komponen elektronik masih sangat bergantung pada pasar luar negeri. Bahkan, ketergantungan impor bahan baku industri manufaktur Indonesia disebut masih berada di atas 70 persen.

Kondisi tersebut membuat sejumlah sektor industri paling terdampak, mulai dari manufaktur, farmasi, otomotif, hingga tekstil. Di sisi lain, pelaku usaha juga menghadapi tekanan margin keuntungan karena kenaikan biaya produksi tidak bisa langsung dibebankan kepada konsumen.

“Pengusaha tidak bisa serta-merta menaikkan harga jual karena daya beli masyarakat juga sedang tertekan. Akhirnya banyak yang memilih mengurangi margin keuntungan sambil melakukan efisiensi,” ujarnya.

Adik mengungkapkan, sebagian pelaku usaha kini mulai menahan pembelian bahan baku dan mengurangi kapasitas produksi sebagai langkah antisipasi terhadap penurunan permintaan pasar.

Menurutnya, jika kondisi tersebut berlangsung dalam jangka panjang, ancaman PHK akan semakin besar. Sebab, pendapatan masyarakat cenderung tetap, sementara harga barang terus mengalami kenaikan.

“Kalau daya beli terus turun, pengusaha akan semakin berhati-hati. Produksi dikurangi, impor bahan baku ditekan, dan kalau berkepanjangan ancaman PHK bisa terjadi,” katanya.

Meski demikian, di tengah tekanan ekonomi global, Adik menilai produk lokal justru memiliki peluang untuk lebih kompetitif dibandingkan barang impor, terutama produk berbasis bahan baku domestik.

Ia mencontohkan sektor pertanian dan peternakan di Jawa Timur yang dinilai masih menjadi kekuatan utama daerah. Produk lokal seperti jeruk dan durian dinilai memiliki peluang lebih besar bersaing di pasar domestik dibanding produk impor.

“Produk yang benar-benar berbasis lokal bisa lebih kompetitif. Jawa Timur punya kekuatan di sektor pertanian dan peternakan karena produksinya surplus,” ujarnya.

Namun, Adik mengingatkan gejolak ekonomi global tetap berpotensi mengoreksi pertumbuhan ekonomi daerah apabila situasi berlangsung terlalu lama.

Karena itu, Kadin Jatim meminta pemerintah berani melakukan realokasi anggaran terhadap program-program yang dinilai belum berdampak signifikan terhadap perputaran ekonomi.

Salah satunya, menurut Adik, adalah anggaran pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang dapat dialihkan sementara untuk proyek yang lebih cepat menyerap tenaga kerja dan menggerakkan ekonomi.

“Pemerintah harus berani melakukan realokasi anggaran ke sektor yang lebih produktif, misalnya pembangunan infrastruktur. Infrastruktur itu efeknya besar karena menyerap tenaga kerja dan mendorong perputaran ekonomi,” tegasnya.

Selain itu, pemerintah juga diminta memperkuat bantuan sosial dan bantuan tunai guna menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi.

“Yang paling dibutuhkan sekarang adalah menjaga konsumsi masyarakat. Kalau daya beli terjaga, pengusaha juga akan terbantu,” katanya.

Meski situasi ekonomi global masih penuh tekanan, Adik mengaku tetap optimistis pemerintah memiliki strategi untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

“Sebagai pengusaha, kami tetap optimistis. Situasi ini memang berat, tetapi dunia usaha harus tetap bergerak sambil menyesuaikan strategi agar usaha tetap berjalan,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dani
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.