Rusuh Laga Persipura: Padamnya Lampu Bintang di Kampung Harapan Papua

oleh -484 Dilihat
STADION LUKAS ENEMBE1
Stadion Lukas Enembe saat diresmukan beberapa tahun lalu. (Foto: Istimewa X)

KabarBaik.co, Jayapura – Ratusan lampu LED DMX yang biasa menyala spektakuler seperti pesta bintang, belakangan mingkin hanya menyisakan pecahan kaca di tanah basah. Stadion Lukas Enembe, ikon kebanggaan masyarakat Papua, bahkan Indonesia, kini terasa sunyi. Sunyi yang dingin, usai amuk massa semalam.

Jumat, 8 Mei 2026. Laga play-off promosi Liga 2 antara Persipura Jayapura vs Adhyaksa FC baru saja usai. Skor 0-1 untuk tim tamu. Sesaat setelah peluit wasit berakhir, harapan puluhan ribu mata yang membara berubah menjadi kekecewaan, lalu kemarahan. Salah satu stadion termegah itupun seolah berubah menjadi medan pertempuran.

Polisi telah menangkap 14 orang. Sebanyak 64 kendaraan roda dua dan empat rusak, hilang, atau dibakar. Sepuluh personel Polri dan seorang warga sipil luka-luka. “Ke-14 orang yang diamankan masih diperiksa secara intensif,” kata Kabid Humas Polda Papua Kombes Cahyo Sukamito kepada awak media, Sabtu (9/5).

Belum ada tersangka, tapi wajah stadion telah menjadi tersangka kehancuran. Tapi kerusakan yang paling terasa bukanlah pada tubuh manusia atau logam, melainkan pada sejarah yang tercoreng. Dari balik puing dan debu, mari tarik napas dan mengingat: tempat ini tidak dibangun untuk kebencian.

Luka di Atas Kejayaan

Tak mudah melupakan malam 23 Oktober 2020. Saat itu, Gubernur Lukas Enembe meresmikan stadion ini dengan senyum puas. Sebuah perwujudan janji yang dulu dianggap mustahil: Papua menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) XX.

Lahan seluas 13 hektare di Kampung Harapan, Nolokla—yang dulu adalah lokasi tiga sekolah kejuruan peninggalan Belanda (pertanian, peternakan, kehutanan)—telah disulap menjadi mahakarya arsitektur. Berdiri megah dengan kapasitas tempat duduk 40.262 penonton, rumput Zoysia matrella berstandar FIFA, dinaungi atap membran raksasa, dan diterangi lampu LED DMX yang bisa menari-nari mengikuti musik.

Biayanya disebut mencapai Rp 1,3 triliun. Dari APBD Papua, APBN, dan dana otsus. Peletakan batu pertama dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 2015 silam. Tapi, usulan nama “Stadion Papua Bangkit” akhhirnya diubah menjadi “Lukas Enembe” sebagai penghargaan atas kerja kerasnya mengantarkan Papua ke panggung nasional. Keputusan itu tertuang dalam peraturan daerah (Perda).

Puncak kejayaan terjadi pada Oktober 2021, saat upacara pembukaan PON XX digelar di sini. Seluruh Indonesia menatap Papua dengan hormat.

Tiga puluh kilometer dari Stadion Mandala—markas bersejarah Persipura di Dok V yang kini berusia 76 tahun—Stadion Lukas Enembe hadir sebagai wajah masa depan. Ironinya, masa depan itu ternyata lebih rapuh daripada yang dibayangkan.

Saat Harapan Berubah Asap

Usai kekalahan menyakitkan di kandang sendiri, euforia yang berubah jadi aksi anarkistis bukanlah pemandangan pertama di sepak bola Indonesia. Tapi di stadion sekelas Lukas Enembe, luka itu terasa lebih menusuk.

Laporan menyebutkan, massa tak hanya membakar kendaraan. Mereka merusak kursi penonton, memecahkan panel kaca ruang VIP, serta mencoret-coret dinding lorong menuju ruang ganti. Asap hitam membubung dari area parkir timur hingga terlihat dari perbukitan Kampung Harapan. “Belum bisa dipastikan kerugian total,” ujar Kombes Cahyo,

Tapi satu hal pasti, luka di stadion ini akan lama sembuh.

Dalam perkembangannya, publik tanah air sudah tahu bahwa pemberi nama stadion ini pun punya nasib yang tak kalah menyedihkan. Lukas Enembe, gubernur dua periode (2013-2023), adalah sosok yang kerap jadi sorotan. Di satu sisi berjasa besar; di sisi lain, penyidik KPK menangkapnya pada 10 Januari 2023.

Dia divonis 8 tahun penjara karena korupsi suap dan gratifikasi proyek infrastruktur. Lalu, ia berpulang pada 26 Desember 2023 di RSPAD Gatot Soebroto, sebelum bandingnya diputus. Sebuah akhir yang getir, mirip dengan stadion yang namanya ia sandang. Megah di permukaan, tapi hancur oleh perbuatan manusia.

Pagimu, Lukas Enembe

Mereka pun mulai membersihkan puing-puing. Beberapa masih memunguti botol plastik bekas. Seorang satpam menatap kosong ke arah utara, tempat tribun utama yang kini bolong-bolong. “Ini bukan stadion biasa, ini kebanggaan kami, Semalam, kami kehilangan lebih dari sekadar pertandingan,” dalam sebuah video

Apakah kerusuhan ini akan menjadi babak akhir dari cerita? Ataukah akan ada energi gotong royong untuk membangunnya kembali?

Sejarah stadion ini sudah mencatat perubahan. Dari lahan sekolah Belanda menjadi Stadion Papua Bangkit, lalu menjadi Lukas Enembe, lalu menjadi saksi bisu kerusuhan. Kini, tersisa satu pertanyaan: mampukah masyarakat yang sama yang dulu membangunnya dengan dana triliunan rupiah, merawatnya dari amarah sesaat?

Mereka yang ditangkap polisi mungkin akan diadili. Tapi proses yang lebih panjang adalah mengadili diri sendiri sebagai suporter. Sebab stadion seindah Lukas Enembe tak pantas mati dalam kepulan asap akibat gol yang telat dicegah.

Di langit Jayapura, pesawat masih melintas seperti biasa. Di bawahnya, ada harapan yang terbakar semalam. Dan di tengah abu itu, masih ada mereka-mereka yang yakin, bahwa pagi akan tetap tiba.

Meski pagi ini, luka masih segar. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini
Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.