KabarBaik.co – Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai menggelar rapat koordinasi terbatas bersama 24 kepala cabang dinas dan Ketua MKKS SMA/SMK se-Jatim di Surabaya. Rakor ini digelar sebagai langkah antisipasi menyikapi dinamika sosial yang berpotensi menjurus ke aksi anarkis di beberapa daerah.
Rapat tersebut menindaklanjuti Surat Edaran Sekjen Kemendikbudristek Nomor 13 Tahun 2025 tentang penerapan nilai karakter positif peserta didik sebagai warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab dalam penyampaian pendapat.
“Tujuan utama kami adalah melindungi peserta didik agar tetap belajar dalam suasana aman, kondusif, dan terlindungi. Karena itu, kepala sekolah, wali kelas, hingga orang tua harus berperan aktif dalam mengawasi siswa,” ujar Aries.
Mulai Senin, 1 September 2025, kegiatan belajar mengajar di SMA/SMK/SLB Jatim akan berlangsung dengan dua model yakni daring dan luring. Skema ini disesuaikan dengan kondisi tiap daerah.
Di wilayah Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik, sekolah akan melaksanakan ujian formatif secara daring dari rumah dengan pengawasan wali kelas dan orang tua.
Sementara itu, di Kota Malang, sebagian sekolah menerapkan ujian daring terutama di sekitar kawasan Tugu dan Kompleks Sekolah yang dekat dengan DPRD, karena adanya informasi rencana aksi massa.
“Namun, ada juga sekolah di Malang yang tetap melaksanakan ujian secara luring di kelas, dengan pengawasan ketat dari guru,” jelas Aries.
Ujian tersebut berlangsung 1–4 September 2025, mencakup mata pelajaran tertulis maupun praktik sesuai jadwal di masing-masing sekolah.
Kadindik Jatim juga meminta cabang dinas selalu berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan aparat keamanan setempat, serta menyesuaikan kebijakan apabila daerah menerapkan pembelajaran daring untuk tingkat TK, SD, dan SMP.
Lebih jauh, Aries menegaskan agar siswa tidak terlibat dalam aksi-aksi yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
“Saya berharap guru, wali kelas, dan orang tua betul-betul mengawasi siswa, jangan sampai keluar sekolah saat jam pelajaran hanya untuk ikut aksi. Dampaknya bisa besar, mulai dari sanksi hukum hingga konsekuensi dari sekolah,” tegasnya.
Aries juga menyinggung adanya laporan siswa yang terlibat dan ditangkap aparat saat mengikuti aksi. Ia mengimbau orang tua untuk lebih memperhatikan anak, serta memberi nasehat agar tidak mudah terpengaruh ajakan yang berpotensi merugikan.
“Keselamatan dan masa depan anak-anak harus kita jaga bersama. Mari pastikan mereka belajar dengan aman, baik secara daring maupun luring,” pungkasnya. (*)