KabarBaik.co, Malang – Kasus pembobolan SMP Negeri 1 Pakisaji yang sempat viral di media sosial akhirnya berhasil diungkap jajaran kepolisian. Tiga pelaku yang sempat buron selama dua hari kini telah berhasil diringkus petugas.
Tiga tersangka berinisial RH, 27, warga Desa Genengan, Kecamatan Pakisaji, AFN, 27, warga Desa Kendalpayak, Kecamatan Pakisaji, dan RP, 23, warga Desa Kalisongo, Kecamatan Dau. Mereka ditangkap pada Kamis (9/4) di lokasi yang berbeda.
Kasihumas Polres Malang, AKP Bambang Subinajar, mengatakan bahwa pengungkapan kasus ini bermula dari laporan pihak sekolah terkait aksi pencurian yang terjadi di lingkungan sekolah.
“Kasus ini bermula dari laporan pencurian di lingkungan sekolah, kemudian dilakukan penyelidikan hingga akhirnya petugas berhasil mengamankan para tersangka di lokasi persembunyiannya,” ujar Bambang, Sabtu (11/4).
Ia menjelaskan, peristiwa pencurian tersebut terjadi pada Senin (6/4) dini hari. Para pelaku masuk ke area sekolah dengan cara melompati pagar belakang, kemudian mencongkel jendela ruang guru dan ruang Tata Usaha.
Dari hasil aksinya, pelaku berhasil menggondol sejumlah barang seperti ponsel dan uang tunai yang tersimpan di ruang Tata Usaha. Para pelaku juga sempat membuka brankas sekolah, namun tidak menemukan isi di dalamnya.
Aksi pembobolan tersebut sempat terekam kamera CCTV dan viral di media sosial. Rekaman tersebut menjadi salah satu petunjuk penting bagi polisi dalam mengungkap identitas pelaku. “Rekaman CCTV menjadi salah satu petunjuk penting dalam proses penyelidikan hingga identitas pelaku berhasil diketahui,” imbuhnya.
Selain mengamankan ketiga tersangka, polisi juga menyita sejumlah barang bukti, seperti alat yang digunakan untuk membobol, sepeda motor, serta rekaman CCTV. Dari hasil pemeriksaan, diketahui bahwa motif para pelaku melakukan aksi pencurian tersebut karena faktor ekonomi.
Saat ini ketiga tersangka telah diamankan di Polsek Pakisaji guna menjalani proses hukum lebih lanjut. Polisi juga masih mendalami kemungkinan adanya keterlibatan pelaku lain dalam kasus tersebut.
“Motifnya karena kebutuhan ekonomi, sehingga para pelaku nekat melakukan pencurian dengan menyasar lingkungan sekolah pada malam hari,” ujar Bambang. (*)







