KabarBaik.co – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, Anggota MPR RI Senator Ahmad Nawardi menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai pengawal moral bangsa. Hal ini disampaikan beliau dalam kegiatan Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan yang dihadiri oleh kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Kota Surabaya, Jumat (12/12) Siang. Dalam narasi Senator Nawardi menyoroti bahwa perkembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan bukan hanya tantangan teknis, melainkan tantangan etis yang harus dijawab dengan kekuatan ideologi dan nilai-nilai spiritual yang kokoh.
Senator Ahmad Nawardi menegaskan bahwa kader PMII memiliki keunggulan strategis dengan landasan nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Beliau memaparkan bahwa prinsip Tawassuth (moderat), Tawazun (seimbang), dan I’tidal (tegak lurus) yang menjadi napas perjuangan PMII merupakan kompas terbaik dalam menghadapi disrupsi digital. Menurutnya, di era di mana AI mampu memproduksi informasi tanpa henti, prinsip-prinsip Aswaja sangat relevan untuk menyaring konten, menjaga kejujuran informasi, dan memastikan bahwa teknologi tetap digunakan untuk kemaslahatan umat serta keutuhan NKRI.
Lebih lanjut, Senator asal Jawa Timur ini mengajak para aktivis PMII di Surabaya untuk tidak menjadi penonton dalam revolusi industri ini. Beliau mendorong mahasiswa agar mampu mengintegrasikan wawasan kebangsaan dengan kecakapan digital. Bagi Nawardi, Pancasila harus menjadi algoritma dasar dalam setiap inovasi yang diciptakan oleh anak muda. Kader PMII diharapkan mampu menjadi penggerak yang memastikan bahwa teknologi AI tidak digunakan untuk memicu polarisasi, melainkan untuk memperkuat persatuan dan mempercepat kesejahteraan sosial sesuai cita-cita konstitusi.
Kegiatan ini menjadi ruang dialektika yang segar bagi para mahasiswa untuk merumuskan peran aktivisme di masa depan. Senator Ahmad Nawardi menutup paparannya dengan mengingatkan bahwa secanggih apa pun mesin yang diciptakan manusia, ia tidak akan pernah memiliki empati dan karakter bangsa jika tidak dikendalikan oleh manusia yang memiliki integritas. Beliau berharap PMII Surabaya terus menjadi laboratorium intelektual yang melahirkan pemimpin visioner, yang mampu membawa Indonesia unggul di bidang teknologi tanpa sedikit pun meninggalkan akar tradisi dan kecintaan pada tanah air.







