Sepuntung Asap di Tanah Suci

oleh -651 Dilihat
ROKOK CJH
Ilustrasi: Beberapa karung rokok yang hendak dikirim ke Tanah Suci berhasil digagalkan petugas. (Foto Antara)

DI SEBUAH waktu di tahun 2013, langit Makkah seperti kertas emas yang disentuh kuas senja. Aku melangkah pelan dalam balutan tugas sebagai Media Center Haji (MCH). Bukan sekadar tugas birokrasi, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang membungkus urusan duniawi dalam tabung-tabung makna. Seperti seekor unta membawa beban berat di padang pasir, terpikul tanggung jawab dan secara diam-diam, juga sebatang kebiasaan lama. Merokok.

Ah, rokok. Sebatang benda kecil, namun mampu menghidupkan percakapan. Mengusir sepi, Bahkan kadang menjadi kawan tafakur. Dalam pandangan dunia medis, ia adalah makhluk jahat, perusak paru-paru, pencuri umur.

Baca juga: Panggilan Langit

Tapi, dalam dimensi lain yang lebih absurd dan manusiawi, ia adalah simbol keterikatan manusia pada kebiasaan, pada kenangan, bahkan pada bentuk keintiman yang tak bisa dijelaskan logika.

Bayangkan, di Tanah Suci tempat jutaan manusia menanggalkan ego dan menyelam ke dalam samudra doa, aku yang juga seorang perokok terjebak dalam dilema eksistensial. Tidak, ini bukan tentang benar atau salah, melainkan tentang pergulatan batin antara meninggalkan atau sekadar menahan.

Rokok di Tanah Haram bagaikan emas hitam. Mahal, langka, dan diburu. Karena itu, muncullah pasar bayangan. Gelap. Tempat di mana idealisme dicairkan oleh kepentingan. Hukum menjadi samar. Dosa didandani menjadi sekadar “usaha kecil-kecilan”. Rokok-rokok itu bukan lagi tembakau semata. Setiap musim haji, ribuan koper melintas. Imigrasi sebetulnya sudah menjadi pintu penghakiman dunia. Beberapa ditangkap, namun banyak pula yang lolos.

Jika di tanah air sebatang rokok hanyalah sepuluh menit pelarian dari rutinitas, maka di sini, ia menjadi sakral. Setiap helaan menjadi ritual. Setiap puntung menjadi simbol ketahanan. Maka, jangan heran lahirlah seni baru dalam merokok. Hemat dan bersyukur. Satu batang rokok tidak lagi selesai dalam satu sesi. Ia dipatahkan, disimpan, dan dinikmati dalam tiga babak, seperti drama Yunani.

Pernah, di tengah ketatnya jadwal liputan dan pelayanan itu, aku mengalami krisis eksistensial yang sesungguhnya. Kehabisan rokok. Itu seperti kehilangan sandaran dalam keramaian. Tubuhku masih sibuk, tapi pikiranku kosong. Bayangkan, di tengah lautan manusia yang bertalbiyah, pikiranku justru bergema: “Duh, rokokku habis.”

Hajar Aswad dan Nama Ibu

Lalu datanglah dia, malaikat tak bersayap dari Gresik. Menyodorkan beberapa bungkus rokok seperti Nabi Musa yang membelah Laut Merah. “Iki rokok, Kang,” katanya ringan. Aku nyaris mencium tangannya. Dalam dunia spiritual, ini mungkin disebut rezeki. Tapi, dalam dunia humor, ini adalah plot twist yang dikarang Tuhan dengan selera sarkasme.

Jangan salah paham. Cerita ini bukan glorifikasi terhadap kebiasaan buruk. Tapi ini tentang bagaimana manusia membawa dirinya. Dengan segala kekurangan, ke hadapan Tuhan. Bahwa, haji bukan hanya soal putihnya pakaian ihram, tapi juga tentang bagaimana kita menghadapi kekurangan dengan jujur, dan menjalaninya dengan rasa syukur.

Merokok dalam konteks ini menjadi simbol dari sisi manusiawi yang sering disembunyikan di balik jubah kesalehan. Kita terlalu sibuk menciptakan citra bahwa haji adalah momen untuk menjadi malaikat, sampai lupa bahwa yang berangkat ke sana adalah manusia. Dan manusia, sebagaimana adanya, penuh paradoks.

Setiap kali aku mematikan rokok, dan menatap puntungnya, aku merenung. Di situlah hidup: membara, dihisap, lalu menjadi abu. Apakah itu tidak seperti hidup kita? Kita lahir, menyala, lalu padam. Kita mengisi ruang dengan makna, lalu perlahan menghilang, meninggalkan aroma dan kenangan.

Abu rokok mengajarkan keterbatasan. Tidak peduli seberapa panjang atau mahal rokokmu, ujungnya tetap jadi abu. Seperti jabatan, kekayaan, bahkan amal, semua kembali ke asal. Maka, sebatang rokok menjadi pengingat bahwa hidup bukan tentang panjangnya waktu, tapi tentang bagaimana ia dinikmati, meskipun dalam keterbatasan.

Di sela tugas dan ibadah, kami para petugas sering berkumpul dan tertawa. Di antara tawa itu, ada celotehan tentang rokok, tentang caranya disimpan dalam selipan-selipan tembok agar tidak ketahuan, tentang cara menyulut rokok pakai panas kompor hotel. Kreativitas memang mekar di tanah suci, apalagi ketika keinginan bersanding dengan larangan.

Namun tawa itu, meski tampak ringan, sesungguhnya adalah doa. Sebab di baliknya ada kerendahan hati untuk mengakui kelemahan. Ketika kita bisa menertawakan diri sendiri, itulah momen spiritual yang paling tulus.

Kini, bertahun-tahun setelah pengalaman itu, setiap kali mencium aroma rokok, aku seperti terlempar kembali ke padang pasir, ke malam-malam panjang di Madinah dan Makkah, ke obrolan ringan penuh makna di kamar hotel, dan ke sebatang rokok yang dibagi dengan cinta.

Haji bukan hanya tentang ritual. Ia adalah tentang perjalanan jiwa. Dan terkadang, jiwa itu menemukan cahayanya bukan dalam denting doa yang khusyuk, melainkan dalam sebatang rokok yang dibagi di tengah kesulitan. Sebab Tuhan, yang Maha Penyayang, bisa menyapa kita lewat hal-hal yang tak disangka.

Jadi, jika ada yang bertanya, apa hikmah terbesar dari tugas haji 2013 itu? Aku akan menjawab: aku belajar bahwa bahkan sebatang rokok pun bisa menjadi pelajaran tentang kasih, syukur, dan keterbatasan manusia.

Setiap kepulan asap rokok di Tanah Suci memang semacam ironi. Terlarang. Namun, ia terus naik ke langit bersama adzan, menumpang pada doa-doa.

Dan mungkin—siapa tahu—di langit sana, Tuhan tersenyum saat melihat hamba-Nya yang tak sempurna ini, menghisap satu batang dengan penuh rasa syukur, bukan karena candu. Namun, karena ia tahu bahwa sejatinya hidup adalah tentang berbagi, bahkan dari puntung terakhir.

Dalam diskusi seru di sebuah maktab itu, seorang rekan berujar bahwa rokok memang tampak hangat, bersahabat, bahkan menawarkan ketenangan. Namun, ia menyebutnya semua itu semu. Setiap isapan bukanlah damai, melainkan kontrak sunyi dengan kehancuran. Rokok bukan musuh yang menyerang dari depan, tapi sahabat palsu yang menepuk punggungmu sambil menusuk perlahan dari belakang. Ia tak membunuh seketika, tapi menyuap waktu dengan racun manis, mengikis detik demi detik dari hidup yang bisa kau peluk lebih utuh.

Baca juga: Menyusuri Jejak Sunyi di Langit Hira

Ia melanjutkan, setiap asap yang kau hembuskan adalah pesan kepada paru-paru bahwa kau memilih pelarian, bukan penyembuhan. Dan tubuhmu, rumah rohmu yang paling suci, mulai runtuh tanpa suara. Ia menjerit, tapi kau terlalu sibuk membakar sunyi.

Berhenti merokok bukan sekadar berhenti menyalakan api di ujung batang. Katanya, ia adalah keputusan untuk menyalakan kembali cahaya di ujung hidup. Pilihan untuk tidak lagi mencintai sesuatu yang tak pernah mencintaimu kembali. Karena sejatinya, hidup ini bukan soal berapa lama kau bernapas, tapi seberapa jernih udara yang kau hirup untuk mencintai, belajar, dan bertumbuh.

Aku mengangguk dalam kebisuan dan kecamuk pertentangan. Dan, begitulah hidup. Selalu penuh warna khilafiyah. Beda pendapat dan pandangan. Pendapat tak akan pernah tunggal. Yang Maha Tunggal dan Benar hanyalah Dia. Wallahu A’lam. (*/bersambung)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: M. Sholahuddin


No More Posts Available.

No more pages to load.