Serangan Babi Hutan, Petani Dusun Persen Banyuwangi Terancam Gagal Panen

Reporter: Ikhwan
Editor: Gagah Saputra
oleh -175 Dilihat
Lahan padi warga yang rusak diserang Babi Hutan.(ikhwan)

KabarBaik.co – Tanaman pertanian warga di Dusun Persen, Desa Kedungasri, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi rusak usai diacak-acak babi hutan. Imbasnya mereka rugi dan terancam gagal panen.

Kepala Dusun Persen, Ahmad Fauzi mengatakan serangan babi hutan di sawah warga ini sudah dirasakan sejak sebulan lalu.

Tanaman yang rusak tidak hanya pada satu lahan saja. Namun hampir merata menimpa seluruh lahan warga.

“Sudah hampir sebulan ini sering terjadi serangan babi hutan. Akhir-akhir ini makin sering terjadi,” kata Fauzi.

Baca juga:  Puluhan Ribu Ayam Mati Terpanggang, Peternak di Banyuwangi Rugi Puluhan Juta

Fauzi mengatakan babi hutan itu ditengarai berasal dari Taman Nasional Alas Purwo. Babi paling banyak merusak tanaman jagung dan padi.

Untuk tanaman jagung hanya sekadar dimakan. Tetapi di lahan padi, babi hutan ini bahkan juga membuat sarang.

“Padi-padi dirubuhkan dibuat sarang istilah warga sini Dung namanya. Biasanya sarang mau dibuat untuk melahirkan,” terangnya.

Sebenarnya dua bulan lalu serangan babi hutan juga sudah sering terjadi. Akan tetapi lokasi serangan hanya di lahan-lahan dekat hutan.

Baca juga:  Warga Banyuwangi Diringkus Polisi, Diduga Simpan Puluhan Daging Satwa Dilindungi

“Tapi sebulan ini serangannya semakin mendekat ke lahan persawahan yang dekat dengan perkampungan. Sudah ada puluhan lahan warga yang rusak akibat serangan ini,” ujarnya.

Sejauh ini warga tidak punya solusi dan hanya bisa pasrah meratapi tanamannya yang rusak. Warga tidak berani menjebak atau memburu babi hutan itu karena dilarang oleh pihak Taman Nasional.

“Karena kan katanya hewan dilindungi, kalau diburu nanti yang memburu bisa kena pidana. Tapi kalau dibiarkan tanaman kami yang rusak. Ini jadi serba bingung,” tegasnya.

Baca juga:  Bocah Perempuan di Banyuwangi Terekam CCTV Curi Uang di Pom Bensin

Sebenarnya warga bersama aparat desa setempat dan pengelola TN Alas Purwo sudah melakukan musyawarah. Warga menuntut ganti rugi.

“Akan tetapi pihak taman nasional tidak mau memberikan ganti rugi. Tapi disatu sisi kami juga tidak boleh memburu babi hutannya. Sampai saat ini belum ada solusi. Ini padahal padi kami sudah mau panen, tapi banyak yang rusak,” tandasnya.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News


No More Posts Available.

No more pages to load.