Setia Sejak 10 Tahun Lalu, Lapak Pecel Rifai Jadi Andalan Sarapan Warga Jombang

oleh -92 Dilihat
WhatsApp Image 2026 03 29 at 3.10.35 PM
Ahmad Rifai bersama istrinya melayani pembeli pecel khas Ngawi dari atas lapaknya (Teguh Setiawan)

KabarBaik.co, Jombang – Langit masih temaram saat aktivitas pagi mulai menggeliat di perbatasan Kecamatan Peterongan dan Sumobito, Jombang, Senin (30/3).

Di pinggir Jalan Peterongan–Sumobito, sebuah motor roda tiga tampak terparkir sederhana. Dari sanalah, aroma sambal kacang pecel perlahan menyebar, mengundang para pengendara untuk singgah.

Adalah Ahmad Rifai, 46, warga Desa Plosokerep, Sumobito, yang sudah memulai harinya sejak selepas subuh. Bersama sang istri, Nasri, ia menempuh perjalanan sekitar 20 menit menuju lokasi berjualan yang telah menjadi sumber penghidupan mereka selama hampir 10 tahun.

Lapak mereka tak berupa warung permanen. Motor gerobak milik Rifai tersebut menjadi ‘dapur berjalan’ yang memuat seluruh perlengkapan, mulai dari panci, kompor, hingga aneka lauk pelengkap pecel. Setibanya di lokasi, keduanya sigap menata dagangan yang sudah dipersiapkan sejak dari rumah.

Rifai dan istrinya berbagi peran. Ia menyiapkan minuman seperti teh dan kopi, sementara Nasri meracik pecel sesuai pesanan. Gerak keduanya tampak cekatan, mencerminkan rutinitas yang telah dijalani bertahun-tahun.

“Mulai jualan pecel ini sejak 2015, sudah sekitar 10 tahunan,” ujar Rifai.

Sebelum menekuni usaha kuliner, Rifai pernah bekerja sebagai petugas keamanan di sebuah bank. Namun, ia memilih beralih profesi demi membangun usaha sendiri bersama keluarga.

Dalam sehari, Rifai mengaku mampu menghabiskan sekitar 10 kilogram bahan pecel. Saat ramai, jumlah itu bisa meningkat hingga 15 kilogram. Untuk pelengkap, ia menyediakan telur hingga 3 kilogram serta tempe dengan belanja sekitar Rp 80.000 per hari.

Lapaknya mulai buka pukul 05.00 WIB dan biasanya tutup sekitar pukul 10.00 WIB. Dalam rentang waktu tersebut, omzet kotor yang diperoleh mencapai sekitar Rp 600.000 per hari.

Harga yang ditawarkan pun terjangkau. Satu porsi pecel original dijual Rp 7.000, sementara pecel dengan tambahan lauk seperti sate jeroan, sate puyuh, telur dadar, telur ceplok, hingga telur bumbu bali dibanderol sekitar Rp 10.000.

Cita rasa pecel yang disajikan menjadi daya tarik utama. Bumbu kacang dibuat dengan resep khas Ngawi, mengikuti latar belakang sang istri. Seluruh persiapan, termasuk memasak bumbu dan lauk, sudah dilakukan sejak sehari sebelum berjualan.

“Sehari sebelum jualan biasanya sudah mulai masak, mulai dari buat bumbu pecel sampai lauk-lauk tambahan,” kata Rifai.

Pembeli yang datang pun beragam, mulai dari mahasiswa, pekerja, hingga warga sekitar yang hendak memulai aktivitas pagi.

“Pelanggan macam-macam, ada anak kuliah, pekerja yang mau berangkat kerja, sama warga sekitar,” ujarnya.

Di tengah lalu lintas pagi yang kian ramai, lapak sederhana milik Rifai justru menjadi persinggahan favorit. Bagi banyak orang, seporsi pecel hangat di tempat itu bukan sekadar sarapan, melainkan juga menghadirkan rasa rumahan yang akrab.

Bagi Rifai dan Nasri, usaha kecil ini bukan hanya soal mencari nafkah. Lebih dari itu, pecel yang mereka jual setiap pagi adalah hasil dari kerja sama, ketekunan, dan harapan yang terus dijaga.

“Usaha ini saya bangun berdua bersama istri. Alhamdulillah masih berjalan, semoga ke depan terus berkembang dan pengunjung semakin banyak,” tutur Rifai. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.